Mohon tunggu...
Ruben Bentiyan
Ruben Bentiyan Mohon Tunggu... Mahasiswa (tidak) bermoral.

Petani mimpi yang lahir 2 pekan sebelum peristiwa 98.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Tangis yang Tenggelam

25 Februari 2021   12:19 Diperbarui: 25 Februari 2021   12:22 122 7 1 Mohon Tunggu...

Pada bait-bait daun dan barisan batang kayu yang membungkuk, menaungi rebah raga-raga rubuh. Memejamkan mata merenungi puisi sungai, dibersamai oleh merdu nyanyian murai.

Gemerisik paduan suara daun bambu saling menyenggol dalam tariannya, selaras dan senada dengan siutan angin yang menggoyangnya.

Kodok di bebatuan, Keriang di pepohonan, dan Jangkrik di rerumputan turut bersenandung dengan segala bunyi-bunyiannya. Orkestra yang indah untuk menghibur segala gundah.

Tapi masih di negeri yang sama, air bercampur lumpur adalah darah yang dengan deras keluar saat urat pohon di hulu sungai disayat pisau-pisau lambang kemajuan industri perkebunan.

Tapi masih di negeri yang sama, tambang batuan sedimen menggusur dan menggeser rimbun rimba menjadi lubang-lubang yang menganga besar.

Bukan hanya orangutan yang tinggal di hutan harus menjadi korban, tapi juga orang tua geram yang masuk dalam daftar cerita kelam karena anaknya mati tenggelam.

Yang disalahkan tetap curah hujan, bukan alih fungsi daerah resapan.

Yang disalahkan tetaplah orang tua yang tinggal di gubuk kemiskinan karena dituduh tak mampu menjaga anaknya.

Mesin-mesin besar, perusahaan-perusahaan besar, dan orang-orang besar yang menggali lubang-lubang besar tak salah.

"Kami merusak alam demi kemajuan ekonomi" katanya, dengan jas parlente dibarengi jawaban politis yang bertele-tele. Ibu miskin dan ayah yang sakit harus mengangguk walau tak terlalu mengerti, ibu kuli cuci dan ayah yang sakit TBC harus tetap iya walau anaknya kini tak ada.

Tak boleh protes, itu makar!

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
25 Februari 2021