Mohon tunggu...
Bens Benedicts
Bens Benedicts Mohon Tunggu... Jendela Hati
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Adventures untuk Kata Hati sesama

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Gusti Allah Ndak Pangling

10 Oktober 2019   08:36 Diperbarui: 10 Oktober 2019   08:44 0 2 1 Mohon Tunggu...

Suatu sore Semprul dihampiri Dipo sahabatnya. Seperti biasa Semprul asyik memoles wayang kulit yang juga semata wayang.

Semprul sangat gandrung dengan wayang kulit, terutama tokoh Bagong. Bagong sebagai perlambang orang yang ceplas-ceplos apa adanya tanpa menghiraukan orang bikin sakit hati karena ucapannya.

Lha orang harus jujur, ngomong apa adanya, ngga usah ditambah dikurangi, perkara orang mau terima atau tidak, sakit hati atau tidak....ya resiko.

Demikianlah sifat Bagong, dalam peran pewayangan, yang selalu ditanamkan dikehidupan Semprul.

" Ada apa masih sore tumben kesini," tanya Semprul
" Wah.. aku lagi putus asa," jawab Dipo
" Putus asa gimana ?" sahut Semprul
" Mumet aku Prul, duit ga punya, kerjaan ga ada. Doa sudah, tapi kok ya Gusti Allah kayak diem aja," Dipo memelas.

" Walahh... Kok jadi protes ke Gusti Allah ? Lha kamu sendiri gimana ?" Semprul kaget

" Yaitu, hampir enam bulan hidup seperti ini. Gusti Allah kayak udah ndak mau dengerin doaku," balas Dipo semakin kusam

" Hmm.. kalo ngomong itu yo jangan asal njeplak dari mulutmu. Knalpot aja ada saringannya," Semprul kesal.

" Lha aku terus gimana ?" protes Dipo

Semprul menaruh wayangnya.
" Apa kamu ndak mikir, Gusti Allah itu sudah Maha Baik, sudah berikan apa yang ada didunia ini. Tinggal bagaimana kamu bisa mengelolanya, dan kita ini sebagai makhluk mulia yang diciptakan. Punya akal, ya diasah akalnya" jawab Semprul , 

" yang sederhana saja, kita diberikan udara itu gratis..tis. Coba kalo harus beli ? Berapa ribu bahkan juta tabung oksigen yang harus dibayar ? Ya kalo bisa bayar, kalo ndak ? Bisa kelojotan kita"

" Apa kamu juga ndak bisa merasakan,  semiskin-miskinnya kamu masih bisa dapat makanan. Entah dari saudara, tetangga, teman. Kalo kamu cuma protes aja, emang Gusti Allah kacungmu ?"

" Ndak gitu to Prul, tapi setidaknya aku bisa seperti yang kamu, gampang dapat kerjaan " balas Dipo

" Welahh... Jadi orang itu ya jadi dirimu sendiri, kalo mau iri sama aku, ya harus nyamain aku. Cara hidupku, pikiranku, perasaanku. Tapi apa ya bisa kamu jadi aku ? Manusia itu masing-masing diberikan jatahnya sendiri didunia ini, kalopun sama ya anggap saja pas sama."

" Padahal aku ndak pernah tinggalin ibadah, dan sudah ndak kurang-kurang doa lho Prul "

Semprul menggelengkan kepala
" Ibadah dan doa itu wajib, terus kalo kamu merasa sudah ndak merasa kurang, tetap ndak dikabulkan, kamu mau ngambek ?"
" Kamu harus lebih menyadari, kenapa ndak dikabulkan. Ya harus tanya dan mawas diri. Kamu mau enaknya sendiri, ibadah dan doa terus langsung dikabulkan. Betul Gusti Allah Maha Pengasih dan Penyayang, tapi Gusti Allah punya cara tersendiri mengasihi dan menyayangi. Kamu ndak kekurangan makan, merokok juga ndak pernah telat. Ada aja yang nawarin rokok. Ya to..?"

Dipo sedikit kikuk, " Wah jangan gitu to.. ntar aku udah dapat kerjaan yo pasti gantian,"

Semprul tertawa.
" Bukan masalah gantiannya, itu buat pemikiran kamu, supaya kamu jangan bisanya protes terus. Pahami maksud Gusti Allah seperti ini ke kamu pasti ada tujuannya "

Dipo tertunduk diam
" Semoga Gusti Allah ndak lupa sama aku yo Prul "
" Walah-walah..... Gusti Allah ndak pernah pangling sama umatNya. Kita yang sering pangling, jadi sering lupa ada Gusti Allah"

KONTEN MENARIK LAINNYA
x