Mohon tunggu...
Benny Wirawan
Benny Wirawan Mohon Tunggu...

Mahasiswa kedokteran dan blogger sosial-politik. Bisa Anda hubungi di https://www.instagram.com/bennywirawan/

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Narsih, Bagian Dua

30 Januari 2019   16:30 Diperbarui: 30 Januari 2019   16:32 0 0 0 Mohon Tunggu...
Cerpen | Narsih, Bagian Dua
freepict.co

Hari sudah siang. Jam dinding menunjukkan sudah lewat lima menit dari jam dua. Mentari terik menyinari jalan di luar, sinarnya terpantul ke dalam kafe tempat Narsih duduk menunggu. Di atas meja di depannya segelas iced cappucino dengan ekstra espresso sudah setengah terminum. Ia perlu ekstra kafein itu. Kemarin malam ia kerja lembur. Steven, pelanggan setianya, tiba dari Australia. Katanya ia rindu dan Narsih terpaksa bertempur semalam suntuk. Tapi janji tetap janji dan Asih akan menemuinya disini hari ini. Jam dua siang tepat, itu janjinya.

Sudah satu minggu berlalu sejak Narsih menelepon Asih di telepon malam hari itu. Besok datang dan pergi, Asih menepati janji mengabari bisa bertemu seminggu lagi. Hari berganti, malam terlewati. Tiap malam ia tetap berjibaku mencumbu kekasih baru. Ridwan datang lagi, dua kali. Agus pun berkunjung, membawa teman yang mengharuskan Narsih main depan belakang. Rudi dan Anton mengisi dua malam lagi hingga semalam ia bercinta dengan Steven hingga pagi jam enam.

Enam pria dalam enam malam, tentu saja siang ini ia lelah, tapi lumayan mengisi tabungan. Selain itu pria-pria itu membantunya mengalihkan pikiran dari rindu karena menunggu. Bercinta dengan pria-prianya tentu lebih menyenangkan dari pada hanya termangu menunggu seminggu penuh. Apalagi salah satu pria itu adalah Agus, salah satu pecinta favoritnya. Sudah nikmat dicumbu, ia dibayar pula. Bukankah enak hidup sebagai pelacur?

Sedang ia melamun tiba-tiba jendela yang tadinya terang mendadak gelap. Sebuah mobil kini terparkir di depan jendela menghalangi terang sinar mentari. Dari jenis mobil dan nomor polisinya Narsih mengenali mobil itu. Asih sudah tiba.

Orang yang melihat Asih mungkin tidak akan menebak bahwa ia adalah adik kembar Narsih. Kemiripan keduanya memang masih terlihat, tapi mereka tak bisa lagi dibilang bak pinang dibelah dua. Di ujung mata dan bibir Asih terlihat samar keriput yang menandakan ia banyak tertawa. Perut dan pinggangnya yang dulu selangsing Narsih kini sudah sedikit kendur. Belasan tahun perbedaan cerita hidup tak hanya membekas pada ingatan dan kepribadian tapi juga pada gurat wajah dan badan.

Narsih menyambut kembarannya dengan sumringah. Ia bangkit dari duduknya, mengecup pipi kanan dan kiri. Mereka bertukar sapa dan menanyakan kabar masing-masing. Narsih menanyakan kabar Adinda dan Mas Bram, suami Asih. Sementara Asih balas menanyakan kesehatan kakaknya itu. Mereka menghindari topik-topik berat, tentang orang tua dan keluarga, tentang masa depan, dan terutama tentang pekerjaan Narsih. Mereka masih melepas rindu, terlalu awal untuk itu. Jika obrolan mengalir mungkin nanti satu dua masalah itu akan disinggung. Mungkin. Nanti.

"Maafkan aku mengajak bertemu sesiang ini," kata Asih.

"Tidak apa. Justru aku bersyukur tidak perlu bangun pagi hari ini," jawab Narsih tersenyum. "Kau pasti juga sibuk. Apa kau sudah sempat makan siang?"

Narsih memanggil pelayan meminta dibawakan menu. Asih yang belum makan memesan seporsi cesar salad ditemani jus buah mangga. Ia sedang ingin makan sehat, katanya. Sementara Narsih memesan sepotong brownies cokelat untuk menemani sisa cappucinonya.

"Kau tidak berubah setahun ini," setelah pelayan pergi. "Seperti kau luput dari waktu."

"Tampang bisa menipu. Wajah tanpa cela bisa menyembunyikan hati penuh luka," jawab Narsih, tersenyum. "Tapi terima kasih atas pujianmu. Kau pun masih cantik seperti dulu."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x