Mohon tunggu...
Swarna
Swarna Mohon Tunggu... orang biasa

Ketika menyusun abjad

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | (IL) Jembatan Janji

29 Maret 2020   07:32 Diperbarui: 29 Maret 2020   08:15 73 19 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | (IL) Jembatan Janji
Diedit dari Pixabay

Bagian 1 

Bagian 2 

Bagian 3

Alat USG itu menari nari di atas perutku, jantungku semakin berdebar menunggu penjelasan dokter.

"Ibu Sari,  bisa lihat di layar monitor? janinnya bagus sudah mulai ada denyut nadi."

Jantungku serasa berhenti,  bila sudah ada denyut nadi berarti usia kandunganku sudah tiga bulan,  ya Tuhan. Mengapa aku tidak mengetahui ini.  Andai Johan tahu waktu itu,  pasti dia akan merobek surat perjanjian itu dan tidak akan ada kata berpisah.

"Saya beri vitamin ya,  jaga kesehatan diri dan calon bayinya., karena kondisi saat ini sangat buruk."

"Iya dokter, terima kasih."

Entah, aku tak tahu harus bersedih atau bahagia,  bisa jadi aku sedang dalam posisi keduanya. Apakah hidup tak adil untukku?  Tak ada guna pula menyalahkan hidup,  nasibku ada di tanganku. Tuhan pengatur segalanya,  aku pasrah padaNya, semoga aku kuat. Aku elus perutku yang masih rata.

Kulihat ada sebuah mobil terparkir di depan rumah, kuparkir motorku di teras,  tumben ibu menyambutku.

"Sari,  dari mana saja,  tadi ibu telpon tidak diangkat,  ada tamu itu,  ayo."

Aku memang tak bisa langsung melihat siapa tamu itu,  tapi mendengar suara ibu yang bergetar aku jadi menebak siapa yang datang. Aku bisa,  hatiku menguatkanku. Kulangkahkan kaki melewati pintu rumah dan bersiap menyapa tamu itu, dia.

"Apa kabar Sari."

"Alhamdulillah, baik." Aku salami pengantin baru di hadapanku

"Bagaimana kalian berdua?"

"Baik,  juga.  Terima kasih Sari." Sonia menghampiri dan merangkulku.

Hah,  ternyata aku hanya penjaga jodoh orang,  tapi aku bukan penjaga benih Johan. Yang ada di dalam kandunganku adalah hakku,  tak akan kuberi tahu sampai kapanpun. Ini untukku.

"Silahkan duduk,  dari mana?  Kan ada larangan keluar rumah,  kog kalian kemari?  Gak takut Corona?"

"Kamu sendiri dari mana?" Johan bertanya dengan nada khawatir yang kentara sampai Sonia sekejap kaget memandangnya.

"Ada urusan sebentar dan penting. Kan bila penting tak mengapa."

"Begitu juga dengan kami,  datang kemari karena penting.  Aku harus bertemu ibu,  dan meminta maaf."

"Owh, oh ya aku tadi beli kue kering masih di motor sebentar aku ambil." Aku berusaha menghindar agar debaran di dadaku redah. Bila tak tenang akan bergetar suaraku. Aku tak mau terlihat gugup,  aku harus menampakkan semua baik-baik saja.

Kami berbincang santai, aku cukup lama menahan rasa tak nyaman, entah mengapa Johan tidak segera mengajak Sonia pulang, malah berlama-lama bercerita tentang kebahagiaan mereka. Sesekali aku menangkap mata Johan yang mencari kebenaran dari diriku. Aku berusaha rilek dan cuek, tetap berusaha berbincang santai.

"Sudah petang,  kami permisi dulu. Mohon maaf bila ada ucapan atau tingkah kami yang kurang sopan."

"Iya,  sama-sama."

Aku dan ibu mengantarkan mereka di halaman,  ibu merangkulku erat. Aku tetap menyembunyikan mendung yang mulai menggantung di mataku.

Malam ini langit bahagia sekali,  bertabur cahaya bintang, aku menikmati diriku dalam kesendirian dan pasti butiran bening tak henti mengalir di pipiku.
Aku belum siap memberi tahu pada ibu. Butuh waktu yang tepat agar tidak membuatnya makin gelisah.

Nada pesan terdengar dari gawaiku,  Johan. Ada apa dia?

[Sari,  bila memerlukan bantuanku jangan segan ya, bisa menelponku atau kirim pesan]

[Kamu boleh sering-sering kirim kabar]

Pesan itu hanya kubaca,  aku tak ingin membalasnya. Jangan sampai jadi pengganggu kebahagiaan Sonia. Johan apa yang kamu rasakan,  apakah kehilangan diriku?  Lantas kemana hatimu saat itu? Padahal seminggu sebelum kamu bertemu Sonia lagi, sudah berkata akan melupakan perjanjian, dan aku melambung saat kamu memperlakukanku dengan istimewa. Kita bagaikan di nirwana. Tapi kamu tak perlu tahu, akhirnya malaikat kecil sudah Tuhan titipkan di rahimku yang akan menemani hari-hariku. Kamu sudah ada Sonia.

****

Perutku sudah mulai tampak sedikit membuncit,  aku bahagia sekali, maafkan bunda nak,  bila terlahir nanti tak kau temukan sosok ayah.
Bunda memang bodoh,  tidak menghalangi keegoisan ayahmu,  harusnya bisa berpikir jernih sebelum mengikuti keputusan ayahmu. Semua sudah terjadi, percuma disesali. Tapi bukan pula salah kami,  kami tak tahu bila kau akan hadir.

Ruang tunggu masih lengang,  hanya beberapa orang saja,  aku sudah mengantri nomor urut lewat telpon, jadi tinggal menunggu panggilan, sambil sesekali membaca artikel tentang kehamilan dari gawaiku.
Pintu ruang periksa terbuka bersama keluarnya pasangan suami istri yang nampak bahagia. Aku terkesiap,  Johan dan Sonia.  Bersama dengan perawat memanggil namaku. Sontak pasangan itu berhenti berjalan dan menyisir ruangan dengan matanya, kami saling menatap, aku berusaha menghalau gugupku dengan senyum terindahku.

"Sari sedang apa di sini?"

Aku berusaha menguasai diri agar suaraku tak bergetar. "Rutin bersih-bersih saja kog. Kalian bagaimana,  sudah dapat rejeki ya?" kututup perutku dengan tas,  untungnya aku memakai baju longgar.

"Belum,  kami masih dalam tahap konsultasi." Sonia menimpali

"Semoga segera diberi ya,  aku masuk dulu." segera aku menuju ruang periksa. Semoga mereka tak curiga.

****

Aku butuh waktu untuk sendiri menikmati karunia Tuhan yang amat indah. Ibu sudah kuberi tahu tentang kehamilanku, hanya bisa pasrah dengan keadaanku.
Aku pun meminta izin untuk tinggal di tempat nenek, sampai melahirkan atau entah sampai kapan. Sengaja menghindar dari Johan. Aku yakin bila dia tahu tak akan tinggal diam.
Bagiku sudah usai tak ada lagi urusan dengan Johan.

Perjalanan jauh hampir 9 jam dalam kondisi masih merebak wabah corona membuat was-was dan tak nyaman. Semoga banyak kemudahan demi bayi yang ada dalam kandunganku.

Tempat nenek yang sejuk, akan memberiku ketenangan,  sebenarnya  dilema juga meninggalkan ibu sendiri di rumah. Untung masih ada mbak Yun yang selalu membantu bersih-bersih,  jadi aku tak terlalu khawatir.
Nenek terlihat bahagia ketika aku datang dan akan tinggal di sana, aku sudah katakan semuanya, dia menyadari keresahanku.

"Sari tak boleh bersedih ya, hidup penuh pilihan,  yang sekarang dialami adalah pilihan Sari. Si dedek hanya korban tapi jangan dijadikan beban. Semoga kebahagiaan selalu memayungi kalian, pasti Tuhan akan memberikan yang terbaik." Aku bersyukur tak ada yang menyudutkanku.

Perutku sudah makin membesar, sudah menginjak usia tujuh bulan,  aktivitas dedek sangat gesit terlihat menonjol di sana sini saat bergerak. Aku mengelus elus perut dan mengajak bicara agar dia tenang.

Pagi ini sangat tepat menghangatkan tubuh di halaman bermandi sinar mentari,  sambil menata tanaman yang menghiasi rumah nenek. Sebuah mobil memasuki halaman. Apakah tamu nenek atau saudara yang datang. Pintu mobil terbuka,  seseorang keluar dari lalu berdiri memandangku lekat. Aku tak bisa bersembunyi lagi. Hanya berusaha tetap tenang. Dia berjalan menghampiri.  Aku hanya bisa memberikan senyuman dan menyapa layaknya pada seorang teman.

"Sari, bagaimana kabarmu?"

Johan terlihat lelah wajahnya kuyu, dia memandang ke arah perutku. Aku masih diam mematung. Walau sudah kuperkirakan dia akan tahu tapi tetap aku merasa terkejut tiba-tiba dia datang.

"Sari,  maafkan aku sudah membuatmu ... , hah betapa sialnya aku."

"Masuk yuk, tadi nenek buat minuman mentimun dan memasak enak." Aku tetap bersikap semua tak ada masalah.

"Di beranda apa mau di dalam? Tapi sepertinya enak di beranda ya,  sambil lihat tanaman nenek yang mulai berbunga."

Johan memandangku terus, sampai aku salah tingkah dibuatnya."

"Jelaskan Sari."

"Aku ambil minum ya."

Aku sudah siap, semua pasti aku jelaskan padanya,  kami harus bisa menerima kenyataan konyol ini. Ya! Kami terjebak pada perjanjian konyol yang dibuat oleh Johan sendiri atas nama cinta dan setianya pada Sonia. Aku hanya pengganti sementara di sisihnya selama Johan menanti doanya terkabul. Ketika itu aku juga dalam luka,  saat ditinggalkan kekasih untuk selamanya.

"Ini minum dulu,  pasti lelah perjalanan jauh, jangan sampai sakit. Sonia mana?"

"Sengaja tidak aku ajak,  aku bilang sedang ada kerja luar kota."

"Kamu dari ibu ya? pasti ibu akan cerita dimana aku. Bagaimana kamu tiba-tiba ingin menemuiku,  bukan kah sudah ada Sonia."

"Awalnya aku percaya dengan yang kamu ucapkan saat bertemu di prakter dokter Rima, entah seolah ada yang menggerakkanku, kemarin usai aku mengantar Sonia periksa,  aku kembali menemui dokter Rima,  menanyakan dirimu yang berkunjung waktu itu."

"Owh."

"Owh? Hanya itu? Tidakkah kau ingin memberi tahu aku?"

Aku masih terdiam mencoba menata detak jantung,  agar semua penjelasanku bisa dia terima.

"Aku memang bodoh Sari,  lima tahun kita bersama masih belum bisa melihat kebaikan dan kesetiaanmu. Mengapa kamu tidak marah padaku? Tidak ada perlawanan sama sekali atas sikapku saat bertemu Sonia lagi."

"Karena janji itu harus ditepati Johan, bukankah yang meminta ada perjanjian di awal adalah dirimu,  maka aku serahkan semua keputusan padamu. Walau sebenarnya itu sangat pahit buatku,  tapi aku harus menghargai maumu, karena bila bersama tanpa ada rasa cinta, aku takut akan terjadi sesuatu di belakangku."

"Ahhh,  aku benar-benar membuat hidupmu rumit,  itu --- anakku kan?"

"Apakah kau pernah melihatku bersama lelaki lain?"

"Aku tak bisa bayangkan kamu menanggung sendiri. Aku buta ketika Sonia datang. Maafkan aku Sari."

Aku memandang Johan yang semakin kusut, dia menundukkan kepala lalu menyugar rambutnya kuat kuat.

"Tugasku sudah selesai Han, sesuai dengan perjanjian yang kau buat. Sekarang aku akan mempunyai tugas baru, aku yakin ini bisa membahagiakanku menjalani hidup, walau tanpamu."

"Sari,  kita menikah lagi ya,  aku harus berada disampingmu dan anakku."

"Johan, saat kamu menikah denganku demi kebahagiaan orang tuamu, janji apa yang kau buat dengan Sonia sehingga dia mau menerima?"

Johan hanya mengusapkan dua telapak tangan ke wajahnya.

"Ada dua perjanjian yang kau buat bukan? Demi menuruti pilihanmu yang tertunda. Setelah sekarang sudah kau dapatkan,  jangan kau lepas, buatlah hidupmu bahagia dengan Sonia."

"Han, masih ingat bukan kita bertemu tak ada rasa cinta, hanya sama-sama berlari untuk melupakan luka."

"Tapi aku tak boleh diam membiarkanmu sendiri,  aku tak menyangka Tuhan menitipkan malaikat kecil di rahimmu, di saat aku melepasmu, padahal kita sudah lima tahun bersama."

"Berarti bila sudah ada malaikat kecil di rumah walau Sonia datang kau akan membatalkan semua perjanjian?"

"Pastinya begitu."

"Sebenarnya manusia diberi akal untuk berfikir, tapi yang sering terjadi adalah kalah dengan keinginannya."

"Maafkan aku Sari."

"Kenyataan saat ini tak semudah keinginanmu lagi Johan. Aku akui sebenarnya aku mulai nyaman denganmu,  tapi melihat kamu begitu bahagia bertemu lagi dengan Sonia, aku harus ingat perjanjian itu."

"Aku akan menikahimu lagi."

"Seandainya agama membolehkan kita menikah pun, aku belum siap melukai hati Sonia. Cukup aku saja yang terluka, semoga aku dan anakku takkan kehilangan kebahagiaan."

"Sari, sebaiknya kamu pulang."

"Agar kamu bisa selalu memantau dan menemuiku? Johan mantabkan hatimu dengan Sonia ya, bangunlah surga kalian. Aku gak apa-apa,  jangan terlalu dipikirkan."

"Aku tak tenang,  merasa bersalah dan pasti akan selalu memikirkanmu."

"Apakah aku akan kau pikirkan seandainya aku tidak hamil? Keputusan sudah kau ambil Johan, sekarang suka tak suka kita jalani saja. Jangan khawatir, kelak aku pasti beri tahu bahwa kamu adalah ayahnya."

"Aku benar-benar gila,  aku mulai merasa kehilanganmu."


"Terima kasih. Hari sudah mulai sore,  mau langsung pulang atau bagaimana?"

"Izinkan aku menghabiskan waktu sekarang ini bersamamu, walau hanya berbincang saja. Aku merindukan saat kau suguhkan teh hangat sepulang kerja. Lalu menghabiskan waktu membicarakan remahan-remahan cerita sambil menonton TV."

Tanpa kusadari embun di mataku yang kutahan sejak kedatangannya telah luruh, tak kupungkiri aku pun merindukan semua itu. Johan beranjak dari tempat duduknya dan menghampiriku. Aku hanya terdiam kaku saat jemarinya mengusap air mataku.
Kuhentikan tangannya ketika mulai mengelus perutku.

"Biarkan anakku merasakan kehadiranku."

"Yang kau lakukan akan membuatku makin tak menentu."

"Aku akan memilikimu lagi."

"Johan, masih ingat bukan nasehat ustad ketika kita akan menikah? Kita tak bisa bersama lagi sebelum aku menikah dengan orang lain."

"Iya, Sari. Pernikahan telah kupermainkan. Betapa konyolnya aku."

"Bahagialah bersama Sonia, semoga aku baik-baik saja. Tak perlu dikhawatirkan."

Telapak tangan Johan masih menempel di perutku ketika kurasakan gerakan bayiku dan makin keras,  hingga aku berdesis kesakitan.

"Dia merasakan hadirmu, Han."

Johan memandangku, matanya berkaca-kaca.

"Aku mau ke belakang dulu ya." Tiba-tiba aku merasakan perutku mulas dan sakit yang hebat ketika akan berdiri.

"Johan!"

Kuremas tangan Johan menahan rasa sakit di perutku. Aku hanya bisa meringis.

"Sari,  apa yang kau rasakan?  Kita ke dokter ya."

"Johan, kenapa sakit sekali perutku."

****

Malaikat kecilku benar-benar ingin dilihat oleh ayahnya. Johan. Jr telah lahir prematur.

>> end <<


Teras Fiksi,  28.03.2020
swarnahati

________________

Ini hanya cerita fiksi belaka berdasar hayalan penulis ambyar. Terima kasih sudah berkenan membaca.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x