Mohon tunggu...
Swarna Hati
Swarna Hati Mohon Tunggu... Tukang Parkir

seorang wanita biasa yang belajar menyusun kisah lewat larik aksara

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Simfoni Bulan Agustus

14 Agustus 2019   21:29 Diperbarui: 14 Agustus 2019   21:59 0 9 4 Mohon Tunggu...
Simfoni Bulan Agustus
dokpri/ a zet

Kakak Pembina yang Tampan, Aku Datang

"Cepat! Bila dalam 15 menit kalian tidak mendapatkan hasduk itu maka kalian gagal menjadi pramuka penggalang!"

Suara kakak pembina yang berwajah garang itu sungguh menggelegar. Tidak hanya jantungku yang bergetar tapi juga kakiku. Setelah mendirikan tenda tanpa ba bi bu kami harus segera ke lapangan untuk mencari hasduk secepat mungkin.

"Hasduk tersebar dimana-mana, segera pakai bila menemukan dan berbaris kembali di sini. Hitungan ke tiga segera bubar. Satu, dua, tiga!"

Kamipun semburat ke segala arah mencari hasduk yang tersebar. Aku mulai dag dig dug tak karuan sepertinya tinggal aku yang belum menemukan. Sialan! Apa hasduk terbatas? Mmmhhh dilarang ndorak bila ingin jadi pramuka sejati. Aku tetap mencari hingga peluit panggilan berkumpul berbunyi.

"Tunjukkan hasduk kalian!"

Mati aku, gemetar badanku siap menerima hukuman dari kakak pembina.

"Yang sudah dapat pakai dan segera ke lapangan! Yang belum tetap di tempat!"

Semua mata kakak pembina memandangku, seolah menelanjangiku, pasrah itu yang kulakukan. Semua telah berlari ke lapangan, tinggal aku seorang.

"Kak Affan! Selesaikan dia!" Semua kakak pembina menuju lapangan, sepi aku cuma berdiri menanti dihukum oleh yang bernama kak Affan, sedetik dua detik masih sunyi.

"Kami akan memberi sanksi atas keterlambatanmu mendapatkan hasduk."

Kudengar sebuah suara tanpa rupa, aku menoleh ke segala arah, hmmm apa hantu kak Affan itu?

Saat aku memutar tubuh sudah berdiri seorang kakak pembina dengan membawa hasduk, dan waow mataku berkunang-kunang melihat wajahnya yang tampan. Alamaaakkkk tolooonnnggg!!!

"Tunjukkan pada saya apa kelebihan mu, baru hasduk ini bisa kau pakai. Saya beri waktu lima menit dari sekarang."

Waddidaooww bingung aku, blank pikiranku terhipnotis tampangnya yang aduhaiii. Iisshh tapi dingin, flat tak ramah biarpun cakep.

"Waktu terus berjalan!"

Aku geragapan mendengar tegurannya. Akhirnya aku atraksi sebisaku, hasdukpun bisa kudapat dengan bermain pantomim di depan kakak pembina yang yang tampan. Ah ini bakal bikin aku rajin untuk berlatih pramuka seminggu sekali.

Salam Pramuka!


 === end ===


Bak Bintang Bila Agustus Datang

Bulan nasional yang kucintai adalah Agustus, dibulan itu tak ada hujan, matahari selalu menyapa ramah dari pagi hingga sore, angin bertiup berhembus memenuhi semesta. Bulan ini cuaca sangat dingin.

Ada apa dengan Agustus? Negeri ini merdeka di bulan Agustus, perayaan kemerdekaan digelar di tiap daerah hingga pelosok desa, apa yang disukai masyarakat? Yap! tepat sekali, karnaval dan pentas seni.

Namaku Kanoa ah typo maaf, Kania he he, setelah rajin berlatih pramuka, aku dan teman-temanku dipilih mewakili sekolah mengikuti perkemahan yang diselenggarakan tiap bulan Agustus se Kecamatan, peserta dari tingkat SD, SMP dan SMA.

Ada dua SMA swasta di kecamatan tempatku tinggal. Betapa senangnya aku, dari SD hingga SMP selalu terpilih untuk berkemah. Tiga hari dua malam kami berpisah dari rumah, berkemah bersama bertemu teman baru sekecamatan, senangnya mengenal dan dikenal mereka.

Perkemahan ditutup dengan upacara peringatan hari Pramuka tanggal 14 Agustus, jadi yang berkemah mendapat ijin tidak mengikuti pelajaran sekolah, bila masuk hari efektif. Senang bukan?

Hmmm aku yang kecil kurus ini seolah mempunyai seribu tanaga, usai berkemah dilanjutkan berlatih drum band, herannya aku dipilih jadi mayoret. Mayoret pertama di SMP ku.

Padahal aku ingin memegang alat musik, sudah merengek pada guruku agar memegang alat musik saja, tapi tak diperbolehkan. Alasannya tak ada yang PD sepertiku, berlenggak lenggok di depan banyak orang (maklum di desa he he).

Berlatih drum band disekolah, dirumah mempersiapkan diri untuk ikut pentas Agustusan di kampung. Itulah mengapa aku merasa menjadi bintang di bulan Agustus.

Tepat tanggal 17 Agustus. Upacara peringatan kemerdekaan RI dilaksanakn di lapangan kecamatan. Seluruh sekolah se kecamatan hadir mengikuti upacara. Aku bertemu lagi dengan kenalan di perkemahan. Mereka dari SMP dan SMA swasta.

Kami mengikuti upacara dengan penuh hikmad, mengenang jasa para pahlawan negri ini hingga merdeka dari penjajah.
Usai upacara kami bubar untuk mempersiapkan pawai dan karnaval.

"Hai namamu siapa? Kamu yang diperkemahan kemarin kan?"

Aku tersenyum pada teman lain sekolah itu. "Kania, kamu Mahendra kan?"

"Kog ingat?"

"Hu um."

"Rumahmu dimana?"

"Rumahku pinggir jalan, nanti pasti tahu, mau jalan bareng?"

"Aku boleh mampir minum?"

"Tentu boleh, ayok."

"Tapi bawa teman ini."

"Gak masalah, air di rumahku banyak he he."

Kami pun berjalan beriring, aku baru sadar ternyata aku perempuan sendiri, tiga teman baruku laki semua. Pantas tadi kog pada suit suit ke arahku.

"Hai Kania, rumahmu mana?"

"Eh, kak Deny, rumahku di sana."

"Ini anak-anak jalan sama kamu mau kemana?"

"Mau ke rumah kak."

"Weuw aku keduluan bocah kecil, aku ikut ya."

"Boleh, ayo."

Hanya air putih yang aku suguhkan pada teman baruku dari SMP dan SMA swasta itu, mereka menerima dengan senang hati, hilanglah rasa minderku. Kami ngobrol dan bercanda, ternyata mereka berasal dari Jakarta, Bandung, Bogor. Jadi mereka sekolah di situ seperti mondok kalau orang islam.

"Kania makasih ya, kami balik ke asrama, sampai ketemu sore nanti penurunan bendera." Mahendra dan teman-temannya berpamitan.

"Kak Deny gak bareng?"

"Kamu duluan ntar lagi aku nyusul." Kak Deny menjawab ajakan Mahendra. Sepuluh menit kemudian kak Deny berpamitan.

Ibuku heran sekaligus senang melihatku punya banyak teman. Ah aku sendiri juga heran.
Hal itu selalu terjadi setiap bulan Agustus

"Kania, senang mengenalmu, tahun depan kita tak bisa ketemu lagi."

"Kenapa begitu?"

"Aku pulang ke Jakarta, pindah sekolah dan asrama di sana."

"Oh, cuma sebentar ya di sini."

"Iya, Kania kamu kangen tidak nanti sama aku? Kita selalu berkirim kabar ya."

Aku tersenyum mendengar ucapannya dan mengangguk.

"Kamu kog tidak terlihat bersedih Kania."

"Aku tak tahu harus bilang apa Ndra."

"Ya sudah, jaga diri baik-baik, hati-hati dengan kak Deny. Aku akan berkirim kabar setelah sampai di Jakarta."

"Kenapa dengan kak Deny?"

"Dia juga menyukaimu. Padahal kami baru mengenalmu."

Aku yang tidak mengerti atau telmi kala ada yang menyukai, entahlah, hanya bisa mengangguk dan tersenyum.

=== end ===

***

Agustus adalah terindah bagiku, selalu tak terlupakan.



swarnahati, 14 Agustus 2019

KONTEN MENARIK LAINNYA
x