Mohon tunggu...
Swarna Hati
Swarna Hati Mohon Tunggu... pemirsa

skiofilia

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Jangan Paksa Berlari

2 Mei 2019   10:46 Diperbarui: 2 Mei 2019   16:13 0 9 2 Mohon Tunggu...
Jangan Paksa Berlari
Pixabay.com

"Lagi apa mbak kog naik-naik sampe ke Monas gitu."

"Eh Ro sini Ro, kowe mau aku beri tahu ya, itu kota gede yang rame padet dan hmmm sedikit rungsep di pinggirannya, itu mau di pindah."

"Ah masak? Tahu dari mana to mbak Jum?"

"Dari tempe, ah kamu tuh, sini, Incengen tala kae, luasnya seperti itu mau boyong itu bagaimana ya?"

"Eh iya mbak, luas banget ya, aku bisa lihat masjid Istiqlal dan gedung-gedung dari sini. Lha bagimana ngangkut orangnya ya kalau pindah?"

"Yo mbuh piye ya? Orange buanyak gitu, kalau jaman di desa kita dulu kan desa kita mau dijadikan waduk kita boyong satu kecamatan ditransmigrasikan sama Pak Presiden. Lha ini ibu kota pindah, Jakarta mau dijadikan apa ya?"

"Juro, Juro kamu kira sak orangnya to oindah itu?"

"Hla namanya pindah itu kan beralih orangnya, iya kan mabk Jum?"

"Ya, tapi kalau ibu kota yang pindah bukan berarti semua masyarakat Jakarta juga ikut pindah." Jumintul rada kesel lihat Juro yang lola

"Mbak mbak, apa karna isu Jakarta mau tenggelam ya, yerus ibu kota mau dipindah, mau dipindah kemana mbak? Hla kan di tipi semua daerah banjir, piye mbak?"

"Horaaa ngertozzz Roooo, sing tak pikir mung aku sesuk bisa sarapan sega pecel iwak mendol wes marem."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x