Mohon tunggu...
Benediktus Jonas
Benediktus Jonas Mohon Tunggu... mahasiswa

Writing is a call to serve others and love God. Because everything I have comes from God

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Hidup Itu Seperti Sebuah Tulisan

18 September 2019   22:50 Diperbarui: 18 September 2019   22:59 0 1 0 Mohon Tunggu...
Hidup Itu Seperti Sebuah Tulisan
dokpri

Bukuku telah dicetak. Kini ia duduk manis di meja belajarku. Ada dua kesan yang istimewah yang spontan muncul, pertama rasa haru dan bahagia. Rasa haru dan bahagia itu muncul, karena impianku akhirnya terwujud. Aku tidak hanya melihat tulisanku di layar komputer, namun kini pada sebuah buku aku membacanya. Sungguh, aku bahagia.

 Aku mengerti kalimat ini ketika aku membaca bukuku, tiada perjuangan yang sia-sia. Di mana ada kerja keras, di sana pasti ada tawa bahagia, dan senyum kemenangan. Aku ingat, telah sangat lama aku menanti bukuku, dan kini ia kupegang dan kubaca sambil berbaring.

 Perasaan kedua tentu sedikit kecewa. Sebab dalam buku itu terdapat banyak salah pengetikan dan ada kata yang dobel juga kurang katanya. Aku sadar, proses editnya belum sungguh-sungguh. 

Tetapi aku juga bersyukur sebab ini adalah kesempatan yang terbaik untuk selalu belajar. Saat aku mengirim ke percetakan, semuanya terasa sudah lengkap, tetap masih banyak hal yang butuh koreksi. Dari sini aku belajar, segala sesuatu tidak selalu seperti yang diharapkan. Paulo Coelho pernah mengatakan, walaupun engkau merasa bahwa pintu telah kau tutup rapat, namun kemungkinan untuk adanya cela, selalu ada.

 Dari dua pengalaman yang aku alami, yang paling dominan tentu pengalaman haru dan bahagia. Mencetak sebuah buku bukan perkara mudah. Itu yang aku alami. Semua membutuhkan waktu yang teramat panjang, dari proses penulisan, tata letak tulisan, penentuan judul, hingga pengeditan dan pembuatan cover, semua butuh energi yang tidak sedikit. Beberapa hal yang aku pelajari dari pengalaman mencetak buku,

Pertama, hasil terbaik selalu berasal dari pengorbanan yang besar. Aku ingat, proses yang aku alami dalam pembuatan buku ini teramat melelahkan. Sungguh tidak mudah menyelesaikannya bahkan membutuhkan waktu berbulan-bulan.

 Kedua, jangan putus harapan. Satu hal yang tidak pernah mati selagi nafas masih ada ialah harapan. Karena itu untuk mencapai mimpi, tak cukup dengan keja keras, tetapi harus selalu berharap bahwa semua akan selesai dengan baik. Buku ini adalah harapan yang terpendam selama beberapa bulan, dalam prosesnya kadang muncul rasa tidak percaya diri dan ragu, namun ketika masih bisa berharap, semuanya toh terwujud.

 Ketiga, segala sesuatu indah pada waktunya. Terburu-buru bisa menyebabkan salah langka. Memang, orang sering mengatakan bahwa kerja yang cepat. Jika bisa cepat mengapa harus lambat. 

Prinsip ini bagus, namun mengingat banyak kesibukan lain dalam waktu yang bersamaan, terutama kuliah, aku mengamini prinsip ini, semua indah pada waktunya. Buru-buru bakal buruk. Indah pada waktunya dimaksudkan bahwa semua telah disiapkan, dan ketika itu terjadi hanya pancaran kebahagiaan dan senyuman haru yang muncul, tidak memikirkan hal-hal yang belum beres.

 Keempat, hidup sejatinya sebuah kreatifitas. Banyak orang yang sering mengatakan, focus dengan kuliah. Bagiku pernyataan itu tidak salah. Namun mendapatkan materi kuliah saja tentu tidak cukup. Apa yang telah kita dapat, coba diterapkan dalam kreatifitas. Ketika buku ini diterbitkan, aku melihat indahnya kreatifitas. Hidup yang statis terasa membosankan, namun ketika diisi dengan kreatifitas, hidup itu terasa indah untuk dijalankan.

Kelima, jangan pernah malu mengakui kelemahan dan meminta bantuan orang lain. Dari proses penulisan hingga diterbitkannya buku ini, banyak orang yang turut terlibat secara intens. Aku tidak bisa menyebut mereka satu per satu. Namun pengaruh mereka sangat terasa dan aku sangat terbantu dengan kehadiran mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x