Benediktus Jonas
Benediktus Jonas Mahasiswa Filsafat STFT Widya Sasana, Malang

Duc in Altum

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Urgensi Cinta Bagi Manusia

11 Juni 2018   11:56 Diperbarui: 11 Juni 2018   12:07 511 4 4
Urgensi Cinta Bagi Manusia
Photo: playbuzz.com


Cinta mencetuskan kehadirannya dalam kehidupan. Membenarkan pepatah Latin yang bertutur demikian, Sivis Amari, ama! Jika seseorang ingin dicintai maka terlebih dahulu, ia harus mencintai orang lain. Itulah hukum cinta. 

Cinta itu hadir dalam diri setiap Pribadi yang sedang berziarah di dunia. Cinta itu Mengada, memanusiawi. Sang Peziarah masuk ke dalam sebuah kehidupan yang penuh cinta. Peziarahan hidup yang tak kunjung henti membawa orang pada sebuah Kebijaksanaan Mengenal Diri. 

Manusia mengalami berbagai situasi dalam hidup. Ada situasi Bahagia yang tak kunjung henti. Dari sinilah, muncul Penghargaan. Penghargaan terhadap Martabat, Individualitas dan Sosialitas. Kebersamaan akan menjadi berarti jika ada kepercayaan. Percaya itu indah. Hanya dengan itu, Cinta itu menjadi semakin hidup. Karena hidup tanpa cinta bak roti tanpa selai.

Cinta itu dirindukan semua orang . Kerinduan akan cinta melahirkan sebuah pencarian. Di manakah cinta itu  ditemukan? Dari manakah asal dari segala cinta? Selama manusia berziarah, ia tidak bisa menghidupi hidup tanpa cinta. Kehadiran cinta membuat hidup semakin bermakna. Cinta itu berawal dari seorang pribadi yang terlahir sebagai manusia yang mengada. Pribadi memiliki ciri khas kuat, unisitas. Kekuataannya melahirkan sebuah relasi kepada sesama.

Suatu pencarian panjang Filsafat, apakah Manusia itu? Pertanyaan ini berlangsung sejak ada kesadaran. Hingga saat ini jawaban atas pertanyaan itu tak kunjung henti selesai. Manusia sebagai seorang pribadi ada bersama orang lain. Ia berlangkah dengan membawa diri, ego

Manusia memiliki tubuh seutuhnya. Keadaan demikian yang membuat ia bisa dikenal. Kalau manusia tidak memiliki tubuh, maka orang tak bisa mengenalnya. Tubuh mencetuskan tanda kehadiran diri. Tubuh manusia seperti materi. Bisa hancur, atau busuk dan bau kalau gong kematian menjemput. Namun berbeda dengan materi lainnya. 

Tubuh itu dihargai dan dihormati sedemikian rupa sebagai 'sakramen' kehadiran dalam hidup bersama. Contohnya, kalau ada orang yang mengatakan bahwa aku belum mengenal gadis itu, mengindikasikan bahwa ia belum melihat tubuh keseluruhan gadis itu.

Kesamaan kodrat membuat manusia sama. Manusia memiliki harkat dan martabat yang setara antara satu dengan yang lain.  Dulu kita mengenal idiologi aparheid, perbedaan warna kulit.  Tubuh adalah kerativitas jiwa. Karena jiwa berziarah, ia memiliki titik awal dan akhir. Akhir dari badan adalah kebinasaan. Kehidupan tidak berhenti di sana, manusia juga harus bisa berpikir dalam keberadaannya dengan yang lain.

Gabriel Marcel bergumam demikian, "Esse est co-Esse" : Ada, hidup berarti berada bersama dengan yang lain. Keberadaan itu hanya akan berarti dalam cinta. Amor omnia vincet, Cinta mengalahkan segalanya. Pada saat orang berhenti mencintai, maka sebentar lagi lonceng kematian dibunyikan. Lalu babagaimana sang cinta ini diihidupi, agar tidak menjadi almarhum. Sampailah pada sebuah kepenuhan hidup bahwa menjadi pribadi adalah sebuah keniscayaan.

Kepercayaan hanya akan berarti melalui nada-nada reflektif. Socrates pun menambah "hidup yang tanpa direfleksi adalah hidup yang tak layak untuk dihidupi". Dasar sebuah hidup adalah pijakan berefleksi. Hidup menjadi sebuah nirmakna ketika dihidupi begitu saja. Kembali nada-nada refleksi berkecamuk dalam hidup. Melahirkan sebuah kata "Aku". Aku tercipta sebagai individu yang hadir sekaligus berpijak di dunia ini. 

Keberadaan itu terpenuh dalam identitas diri yang utuh. Aku berlangkah dalam dunia sebagai makhluk berziarah (homo viator). Bagaikan seorang yang masih berjalan menuju sebuah tempat. Ke tempat mana, aku tak tahu. Serentak pertanyaan geletik nan klasik mencuat ke permukaan, siapakah aku ini? Dari mana aku berasal dan ke mana aku akan pergi?

Kebahagiaan terbesar adalah 'aku' berada dengan 'aku yang lain'. Aku hanya menjadi aku seutuhnya dalam kebersamaan dengan yang lain. Kehadiran 'aku yang lain' kembali menoreh sebuah refleksi, siapakah mereka? Adakah sesuatu yang membuat kami ada. Kebersamaan, dalam nada kasih, kembali sebuah perasaan bersuara lagi, kenapa kami ada bersama dan hidup bersama? Adakah sesuatu yang membuat semuanya bisa menciptakan sebuah keharmonian.

Relasi antara aku dan 'aku yang lain' membawa pada sebuah pengalaman cinta. Hidup itu sendiri sebuah anugerah dan tanggungjawab (leben ist gabe und aufgabe). Pada tempat yang sama, bisa mengatakan bahwa hidup adalah cinta. Apakah cinta selalu bahagia? Ya, cinta membawa kebahagiaan. Setiap manusia mencari kebahagiaan itu sendiri. Aristoteles pun lebih tegas mengatakan mencari kebahagiaan adalah aktivitas manusiawi. Levinas pun mengatakan kebahagiaan tidak ada, kecuali berkaitan dengan kebahagiaan lyan, orang lain.

Pergumulan sebuah kehidupan yang adalah cinta menjadi sebuah pergumulan, kini hidup dihargai karena adalah sebuah rahmat yang diberi oleh Sang Ilahi. Penghargaan akan hidup membuahkan sebuah pengalaman kasih. 

Kasih bisa menciptakan pengenalan akan diri. Kebijaksanaan mengenal diri lantas menjadi ompong, ketika tak ada lagi kepercayaan dalam diri akan keberadaan orang lain. Orang yang bijaksana pasti menaruh kepercayaan kepada orang lain. Rasa percaya bertumbuh dalam sebuah cinta. Kini, percaya itu indah. Kepercayaan bertumbuh subur dalam rahmat persahabatan.

Pesahabatan yang sejati akan menghidupi cinta, cinta sejati bukan palsu. Karena hanya akan sia-sia jika orang pura-pura mencintai tetapi diselimuti oleh motif benci, suatu saat akan tahu hasilnya. Persahabatan hanya punya makna dalam relasi dengan lyan. Dari Aristoteles kita mempelajari, persahabatan mengatasi segala keutamaan keadilan.  Dua atau tiga orang yang bersahabat tidak membutuhkan keadilan. Cinta sahabat itu lebih indah daripada cinta yang diberikan oleh kekasih. Keindahannya terletak pada saling percaya yang mendalam, yang kadang tak dipolesi kata-kata indah. Ada sebuah pemberian diri dalam pola relasi antarsahabat.

Persahabatan sebuah perjalanan panjang, ke mana harus membawa dan mengakhiri. Persahabatan selalu mengarah ke luar, tidak pernah berhenti dalam ambang ego. Hanya akan sia-sia jika semuanya untuk kepentingan diri sendiri. Persahabatan melihat orang lain sebagai sosok yang dipercayai, dan layak dihargai karena ada cinta yang hidup.

Kepercayaan adalah urgen. Cinta bermakna jika dibalut oleh rasa percaya antara satu dengan yang lain. Namun, semuanya harus berpangkal pada kebijaksanaan. Kebijaksanaan mengenal diri dan orang lain menjadi modal bagi berlangsunya kedamaian dan keharmonisan hidup. 

Kebijaksaan sebagai kepenuhan hidup manusia itu sendiri. Orang yang bijaksana tahu mengenal diri, tahu bersyukur, tahu bahwa segala sesuatu berasal dari Siti Kebijaksanaan. Dan akhirnya orang sungguh melihat betapa cinta bisa mengubah hidup. Cinta menjadi sebuah dorongan dalam hidup. Maka kita bisa mengatakan bersama, cinta itu dahsyat, melanda siapa pun. Cinta itu membakar seperti api yang menghanguskan. Maka kita mengatakan terima kasih cinta.