Mohon tunggu...
Anton Bele
Anton Bele Mohon Tunggu... PENULIS

Dosen Tamu, pengampu Mata Kuliah Filsafat di Program Pasca-sarjana Interdisiplin Studi Pembangunan, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Hidup dari Sudut Filsafat (27)

14 Maret 2021   14:33 Diperbarui: 14 Maret 2021   14:34 113 4 0 Mohon Tunggu...

Hidup itu lancar. Tidak lancar kalau kita yang hidup ini buat tidak lancar. Dalam diri kita manusia sudah ada unsur-unsur untuk membuat hidup itu lancar selancar-lancarnya. Kita bisa bergerak ke sana ke mari karena kaki bisa digerakkan seturut maunya kita. Ini nafsu. Sekarang mau ke mall, sebentar ke restoran, lalu terus ke rumah teman. Ini dorongan nafsu yang bisa terlaksana karena kaki sehat, telinga baik, gigi baik, tangan tidak asam-asam. Inilah hidup yang kondisinya lancar karena nafsu mendorong diri kita untuk makan yang sehat, istirahat pada waktunya. Nalar kita membuka jalan untuk pergi ke mall lewat jalan yang mana, pilih restoran mana,  bicara apa di rumah teman, semuanya itu sudah tersusun rapih dalam nalar. Naluri kita sudah menyiapkan bahan untuk bersikap di mall bagaimana, di restoran bagaimana dan di rumah teman bagaimana. Itu semua diatur oleh naluri sehingga kita yang hidup ini tidak menjadi pengganggu hidup orang lain. Hidup akan lancar dengan cara ini, apa adanya. Nurani kita memberi aba-aba untuk menenangkan bathin kita supaya  tidak galau di mall, tidak mengganggu di restoran, tidak canggung di rumah teman. Hidup menjadi lancar dalam alur jam demi jam, hari demi hari. Ini diatur oleh 4 unsur itu, nafsu + nalar + naluri + nurani. (4N, Kwadran Beoe, 2011).

Hidup itu lancar selancar air mengalir. Ibarat aliran air di sungai, memang ada batu-batu penghalang, tapi air tetap ada jalan. Begitu pun hidup, ada-ada saja halangan, tetapi hidup tetap hidup, lancar merembes ke sela-sela padas seberapa pun padatnya wadas itu. Hidup kita ini lancar dengan tujuan menghidupkan semua yang disentuh oleh aliran hidup itu. Hidup yang lancar tetap punya arah ke mana aliran hidup itu mengalir. Yang mengatur lancarnya hidup itu, saya, anda, dia, kita. Bukan orang lain. 

Arah dan cara lancarnya hidup itu sudah ditentukan oleh PENCIPTA. Arahnya jelas, dari DIA kembali ke DIA. Cara juga sangat jelas, lancarkan hidup secara benar, baik dan bagus. Ini yang ditetapkan oleh PENCIPTA. Tidak ada pribadi lain yang tentukan arah lancarnya hidup kita. 

Memang ada pribadi lain yang suka membuat hidup itu tidak lancar, malah mau membelokkan arah hidup itu supaya tidak lancar, tersumbat malah mengalir ke arah yang salah. Pribadi itu ada dan harus diwaspadai. Dia itulah yang dalam agama disebut setan, iblis. Ini tidak main-main dan jangan pernah anggap itu tidak masuk ranah filsafat. Filsafat itu berpikir sedalam-dalamnya tentang segala yang ada dan mungkin ada yang belum kita ketahui. Dia, pribadi yang suka melihat hidup tidak lancar itu ada dan memang itulah pekerjaannya. Siapa yang suruh? Dia, pengganggu kelancaran hidup kita itu ada atas kehendaknya sendiri yang melawan Kehendak PENCIPTA. Kita harus waspada untuk tidak mengikuti kehendak penghambat kelancaran hidup kita. Tidak boleh ada kompromi sesaat pun dengan pengganggu itu. Kalau berkawan dengan dia, salah sendiri. 

Pengganggu itu biasa suka bermain-main dengan kecenderungan yang ada dalam nafsu, nalar, naluri dan nurani kita. Pagar kuat agar empat N dalam diri kita ini tidak ke luar dari jalan yang benar, baik dan bagus sesuai kehendak dari TUHAN, PENCIPTA kita. Jaga supaya hidup lancar dan tetap lancar.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x