Mohon tunggu...
Beina Prafantya
Beina Prafantya Mohon Tunggu... Guru - Editor, Penggiat Pendidikan, Istri, Ibu Satu Anak

Saya mencintai dunia pendidikan dan pengembangannya, tertarik dengan dunia literasi.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Innovation Management

30 September 2022   17:48 Diperbarui: 30 September 2022   17:55 81 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Lalu, bagaimana bisa inovasi terbentuk?

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan lalu tentang Mengenal Change Management. 

Kali ini, para trainee kembali diajak brainstorming tentang beberapa istilah: kreatif, kreativitas, inovasi, invention (indra saya belum lazim dengan kata invensi sebagai serapannya), dan terakhir, pengembangan produk alias product development. Begini dulu saja, saya coba menuliskan beberapa definisi terkait beberapa istilah yang saya sebutkan tadi.

Kreatif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikategorikan sebagai adjektiva atau kata sifat dan didefinisikan sebagai proses (1) memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; (2) bersifat (mengandung) daya cipta. 

Secara morfologis, kreatif memiliki kata turunan setelah bergabung dengan afiks asing menjadi kreativitas. Tentu maknanya pun mengalami perubahan walau masih merujuk pada pusat makna yang sama. Kreativitas adalah (1) kemampuan mencipta; atau (2) perihal mencipta.

Cukuplah penjelasan gramatikalnya.

Saya ingin bercerita tentang makna kreatif yang mendalam bagi diri saya. Suami saya adalah orang yang bergerak dalam bidang kreatif. 

He is the one who shows me the meaning of creative and creatitity. Buat beliau, kreatif adalah satu proses yang memaksanya berpikir keras untuk menyelesaikan masalah, terkhusus berkaitan dengan produk kreatifnya. Kreatif baginya adalah mengoptimalkan keterbatasan menjadi sebuah karya monumental.

Keterbatasan bagi kami mencakup aspek yang cukup luas. Pertama, aspek keterbatasan waktu memaksanya untuk berkreatif mengelola setiap detik sehingga tidak ada yang terbuang walau faktanya proses trial-error justru malah membuang lebih banyak waktu. Tapi, okelah, anggap saja itu learning cost

Kedua, keterbatasan dana mengharuskannya berkreatif memanfaatkan alat dan bahan seadanya agar tidak tekor walau dalam prosesnya ada saja alat atau bahan yang kurang. 

Ketiga, keterbatasan pengetahuan mendorongnya mencari lagi informasi dari sana sini supaya tetap berpikiran mutakhir alias kekinian, diupayakan agar isi otaknya lebih mutakhir daripada sekadar berita Citayam Fashion Week atau viralnya rekonstruksi kasus Ferdy Sambo yang tak kunjung usai. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan