Mohon tunggu...
Kisah Komunitas
Kisah Komunitas Mohon Tunggu... Komunitas Studi Budaya dan Sejarah

Komunitas Studi Budaya dan Sejarah : kisah-grup.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

FASISME - Kapita Selekta Sejarah Dunia

5 September 2019   11:31 Diperbarui: 5 September 2019   11:37 677 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
FASISME - Kapita Selekta Sejarah Dunia
FASISME - Kapita Selekta Sejarah Dunia

Fasisme adalah sebuah gerakan politik penindasan yang pertama kali berkembang di Italia setelah tahun 1919 dan kemudian diberbagai Negara di Eropa sebagai reaksi atas perubahan sosial politik akibat Perang Dunia I. Nama fasisme berasal dari kata latin "fasces" artinya kumpulan tangkai yang diikatkan kepada sebuah kapak yang melambangkan otoritas di Roma Kuno.  Istilah fasisme pertama kali digunakan di Italia oleh pemerintahan yang berkuasa tahun 1922-1944 pimpinan Benito Mussolini. Gambar tangkai-tangkai yang diikatkan pada kampak menjadi lambang partai fasis pertama. Setelah Italia pemerintahan fasis kemudian berkuasa di Jerman dari 1933-1945 pimpinan Adolf Hitler dan di Spanyol dari 1939-1975 pimpinan Jenderal Franco. Setelah Perang Dunia II rezim-rezim diktatoris yang muncul di Amerika Selatan dan Negara-negara belum berkembang umumnya digambarkan sebagai fasis.

Jelaslah sebagaimana ditekankan Mussolini gagasan utama dibalik fasisme adalah ide Darwinis mengenai konflik dan perang sebab Darwinisme menegaskan bahwa yang kuat bertahan hidup, yang lemah punah yang karenanya berpandangan bahwa manusia harus berada dalam perjuangan terus-menerus untuk dapat bertahan hidup. Karena dikembangkan dari gagasan ini fasisme membangkitkan kepercayaan bahwa suatu bangsa hanya dapat maju melalui perang dan memandang perdamaian sebagai bagian yang memperlambat kemajuan, oleh sebab itu fasisme sesungguhnya merupakan ideologi yang dibangun menurut hukum rimba yang dikembangkan oleh Darwinisme.

Ciri lainya untuk diingat adalah bahwa fasisme merupakan ideologi nasionalistik dan agresif yang didasarkan pada rasisme. Fasisme bertujuan membuat individu dan masyarakat berpikir dan bertindak seragam, untuk mencapai tujuan ini fasisme menggunakan kekuatan dan kekerasan bersama semua metode propaganda. Fasisme menyatakan siapapun yang mengikuti gagasannya sebagai musuh bahkan sampai melakukan genocida.

Asal usul Mentalitas Fasis

Fasisme merupakan sebuah ideolgi yang berakar di Eropa. Pondasi fasisme dibangun oleh sejumlah pemikir di eropa pada abad ke-19, dan dipraktikan pada abab ke-20 oleh Negara-negara seperti Italia dan Jerman, Negara-negara lain yang dipengaruhi ataupun menerapkan fasisme  "mengimpor " ideologi ini dari Eropa. Karena itu, untuk menelaah sumber-sumber fasisme, kita harus berpaling pada sejarah Eropa. Sejarah Eropa telah mengalami beberapa tahap dan periode. Namun, dalam pengertian terluas, kita dapat membaginya menjadi tiga periode utama  :

  1. Periode pra-Kristen (periode pagan)
  2. Periode mendominasinya agama Kristen di Eropa
  3. Periode pasca-kristen (periode materialis)

Dari ketiga periode ini tampaklah bahwa fasisme terjadi pada periode pertama dan ketiga, dengan kata lain fasisme adalah produk paganisme yang kemudian dikuatkan kembali oleh kebangkitan materialisme. Ideologi atau praktek fasis tidak pernah muncul selama seribu tahun lebih selama agama Kristen mendominasi Eropa.

Contoh terbaik dengan sistem fasis dunia pagan dalam pengertian modern adalah negara-kota Sparta di Yunani. Sparta adalah sebuah negara militer yang membaktikan diri pada perang dan kekerasan dan diperkirakan dibangun oleh Likurgus pada abad 8 SM. Dibawah sistem Sparta negara jauh lebih penting dibandinhgkan perorangan, kehidupan rakyat diukur berdasarkan manfaat mereka bagi Negara. Anak lelaki yang kuat dan sehat dipersembahkan kepada negara, sedangkan bayi-bayi yang sakit dibuang ke pegunungan agar mati. Praktik bangsa Sparta ini dijadikan contoh oleh Nazi Jerman dan dinyatakan bahwa, oleh pengaruh kuat Darwinisme, orang-orang yang sakit-sakitan harus disingkirkan untuk mempertahankan sebuah "ras yang sehat dan unggul"

Salah satu pemikir terpenting yang memberikan keterangan terperinci tentang Sparta adalah filsuf Yunani bernama Plato, dalam buku-bukunya ia menggambarkan Sparta sebagai sebuah model negara. Pandangan Plato yang menganggap bahwa manusia sebagai species hewan dan menganjurkan agar mereka dikembangkan melalui perkawinan paksa, muncul lagi ke permukaan dengan kedatangan Darwinisme pada abad ke-19 dan diterapkan oleh Nazi pada abad ke-20.

Darwinisme Menyediakan Dasar-Dasar bagi Fasisme

Mitos evolusi, sebuah warisan dari paganisme Sumeria dan Yunani, memasuki kancah pemikiran Barat melalui karya Charles Darwin The Origin Of Species, yang diterbitkan tahun 1859. Dalam buku ini sebagaimana dalam buku The Descent Of Man, ia membahas konsep-konsep pagan tertentu yang telah menghilang di Eropa dibawah dominasi Kristen, dan membuat "pembenaran" bagi konsep-konsep tersebut dengan kedok ilmu pengetahuan. Kita dapat menguraikan konsep-konsep pagan yang ia coba benarkan, hingga menjadi dasar-dasar bagi perkembangan fasisme, sebagai berikut   :

  1. Darwinisme memberikan pembenaran bagi Rasisme :
    Darwin mengklaim bahwa ras tertentu di alam lebih pilihan daripada yang lainnya. Dengan kata lain bahwa mereka lebih unggul, dimana orang kulit putih lebih unggul daripada ras-ras lain, seperti ras-ras Asia, Afrika dan Turki serta diperbolehkan memperbudak mereka.

  2. Darwinisme memberikan justifikasi bagi pertumpahan darah :
    Sebagaimana yang telah disebutkan Darwin mengemukakan bahwa "perjuangan untuk bertahan hidup yang mematikan terjadi di alam". Darwin menggambarkan sebuah arena dimana satu-satunya aturan adalah kekerasan dan konflik, dan demikian menggantikan konsep-konsep perdamaian, kerjasama, pengorbanan diri yang telah menyebar di eropa dengan kedatangan agama Kristen.

  3. Darwinisme membawa kembali konsep egenetika kedalam pemikiran barat :
    Konsep mempertahankan keunggulan rasial melalui pemiliharaan keturunan , yang dikenal sebagai egenetika, yang diterapkan di Sparta muncul kembali didunia barat  melalui Darwinisme. Teori Darwin nampaknya hanyalah konsep mengenai ilmu pengetahuan biologi, tetapi sesungguhnya teori ini membentuk dasar-dasar untuk cara pandang politis yang benar-benar baru. Tak berapa lama, pandangan ini didefinisikan ulang sebagai "Darwinisme Sosial". Dan sebagaimana telah banyak diakui para sejarawan, Darwinisme Sosial menjadi dasar ideologis bagi Fasisme dan Nazisme.

Pemikir-Pemikir di abad ke-19 yang Terpengaruh Darwinisme

  1. Friederich Nietzsche
    Nietzcsche berpendapat bahwa satu dari golongan manusia terdiri dari manusia-manusia super, dan bahwa  golongan-golongan yang lain harus melayani dan memeatuhi mereka. Lebih jauh lagi, ia megklaim bahwa yang disebut "orang-orang super" ini akan membangun sebuah tatanan dunia yang aristokratis, sebuah teori yang dipraktikkan oleh pasukan Hitler pada awal perang Dunia II tahun 1939.  
    Kedua aspek filsafat Nietzsche ini yakni rasisme dan takzim pada kekerasan, berhubungan dekat dengan Darwinisme. Diskriminasi Darwin diantara ras-ras yang berbeda sangat sesuai dengan pandangan Nietzsce tentang "kaum superior dan inferior".

  2. Francis Galton
    Francis Galton, dikenal sebagai pendiri teori "eugenetika". Teori eugenetika ini muncul pada pertengahan abad ke-20. Eugenetika berarti membuang orang-orang berpenyakit dan cacat serta memperbaiki 'ras' manusia dengan memperbanyak jumlah individu sehat. Sebagaimana hewan jenis unggul dapat dibiakkan dengan mengawinkan induk-induk hewan yang sehat, maka berdasarkan teori ini ras manusia pun dapat diperbaiki dengan cara yang sama.  Dengan kata lain teori tersebut adalah mempertahankan keunggulan ras melalui pemeliharaan keturunan. Francis Galton menyatakan bahwa langkah-langkah hukum harus dilakukan untuk mencegah "ras-ras rendahan mengotori ras-ras unggul". Tak terelakkan, mereka yang mempercayai Darwinisme, pastilah juga mempercayai eugenetika.

  3. Ernst Haeckel
    Ernst Haeckel merupakan pendukung dari teori Darwin dan Francis Galton mengenai teori 'eugenetika'. Ernst Haeckel menjelaskan bagaimana egenetika dapat dilakukan serta membela pembunuhan bayi cacat sejak saat kelahiran. Ia juga menyatakan bahwa orang yang sakit-sakitan, dan yang lemah atau cacat mental harus dimandulkan. Ia menentang perawatan orang-orang sakit karena hal ini dapat menghambat proses bekerjanya seleksi alam.

Latar Belakang Terjadinya Praktik Fasisme

Terdapat banyak kesamaan pada latar belakang sosial dan psikologis dimana negara fasisme terbentuk. Sebagian besar negara-negara tersebut kalah dan rusak parah dalam Perang Dunia I, hingga rakyatnya sangat lemah dan letih,banyak yang kehilangan suami, istri, anak-anak dan orang-orang yang mereka cintai dalam perang. Negara-negara tersebut juga tertimpa kesulitan ekonomi, politik dan perasaan meluas bahwa bangsa mereka mengalami keruntuhan. Rakyat menderita secara material; partai-partai yang beragam itu tak mampu mengatasi masalah-masalah negaranya.
 Pada dasarnya, kemiskinan Italia akibat Perang Dunia I adalah faktor terpenting dalam perkembangan kekuasaan fasisme. Lebih dari 600.000 orang Italia tewas akibat perang itu dan hampir setengah juta orang mengalami cacat.  Negara itu tertekan oleh resesi ekonomi dan angka pengangguran yang tinggi. Seperti halnya negara-negara lain yang lelah akibat perang, bangsa Italia merindukan untuk memiliki kembali kehormatan dan keagungan mereka ke "posisi yang selayaknya".

Krisis sosial, politik dan ekonomi juga berperan penting dalam pembentukan Nazisme di Jerman. Pengangguran dan krisis keuangan menambah kekecewaan akibat kekalahan dalam Perang Dunia I. Inflasi meningkat hingga tingkat yang jarang dapat disamai. Bangsa Jerman ingin memulihkan harga diri mereka yang hilang dan kembali ke taraf hidup yang lebih baik. Dengan janji untuk memenuhi harapan-harapan seperti ini, Nazisme muncul dan memperoleh dukungan.

Sasaran Fasisme

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x