Mohon tunggu...
B Budi Windarto
B Budi Windarto Mohon Tunggu... Guru - Pensiunan

Lahir di Klaten 24 Agustus 1955,.Tamat SD 1967.Tamat SMP1970.Tamat SPG 1973.Tamat Akademi 1977

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

"Kalau Jadi Orang Kristen, Jangan Jadi Orang Yahudi!"

29 Juli 2021   10:50 Diperbarui: 29 Juli 2021   11:13 45 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Kalau Jadi Orang Kristen, Jangan Jadi Orang Yahudi!"
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Bacaan Kamis 29 Juli 2021

Mat13:47 "Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. 48 Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang. 49 Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, 50 lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. 51 Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka menjawab: "Ya, kami mengerti." 52 Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya." 53 Setelah Yesus selesai menceriterakan perumpamaan-perumpamaan itu, Iapun pergi dari situ.

Renungan

Saya buat pagar bambu di sekeliling kebun belakang rumah agar ayam tidak berkeliaran mengganggu dan merusak tanaman tetangga. Anak saya memberi seperempat ember paku sisa membangun rumah. Di dalam ember itu, ada terkumpul mijikuhibiniu jenis paku menjadi satu. Ada jenis paku untuk kayu dan bambu, ada jenis paku untuk blandar, usuk dan reng, ada jenis paku berukuran panjang, cukupan dan pendek, ada jenis paku berukuran besar dan kecil. Semuanya tercampur dengan bekas semen, pasir dan kerikil kecil. Saya tumpahkan semua paku ke lantai. Saya pilih, saya pisahkan sesuai peruntukan dan ukurannya. Dengan begitu pekerjaan memaku dapat terlaksana lebih  mudah dan lancar. Sehingga lebih cepatlah dalam menyelesaikan pembuatan pagar.

Tindakan saya itu, membantu merenungkan perumpamaanYesus dalam bacaan Injil hari ini. Dengan membaca secara cermat teks Injil ini, ada dua perumpamaan disampaikan, yaitu yang terkait dengan pukat dan ahli taurat. Yang pertama Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan.  Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang.  Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar,  lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi".

Sebagaimana ada saat saya memisahkan mijikuhibiniu jenis paku, demikian akhir zaman ada pemisahan jenis ikan. Ikan baik dan ikan tidak baik, masing-masing dipisahkan dan dikumpulkan. Pada saatnya di akhir zaman, orang benar akan dipisahkan dari orang jahat. Mereka yang jahat dibuang ke dalam dapur api, pernuh ratapan dan kertakan gigi.  Sekarang ini orang benar masih tercampur menjadi satu dengan orang jahat. Di dalam pengadilan masih ada praktik ketidakadilan. Ditengah kebenaran menyelinap penyesatan dan hoaks. Di tempat ibadat muncul kemaksiatan. Orang benar mesti tetap bertahan, setia kepada Allah yang benar, Sang Kebenaran, tidak iri hati pada mereka nampaknya gemerlapan hidupnya  dalam kesesatan dan kepalsuan. Sejatinya mereka yang jahat sedang merintis jalan kebinasaan, kepanasan, terpisah dari Allah. Sejatinya mereka yang jahat semasih di dunia sudah mencicipi rasa panas, tidak tahan hidup bersama mereka yang benar dan baik.

Yang kedua setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya. Berhadapan dengan Yesus, memang ada tidak sedikit  ahli Taurat yang beroposisi, melawan, berseberangan bahkan menolak Yesus. Namun ada yang menaruh simpati sekalipun secara sembunyi-sembunyi. Ahli Taurat sudah memiliki perbendaharaan, Taurat. Namun dengan menerima Yesus yang menggenapi Taurat dan nubuat para nabi, mereka memiliki perbendaharaan baru. Mereka menjadi semakin kaya, komplit, lengkap dan sempurna berkat menerima Yesus yang datang dari Allah. Mereka semakin manusiawi, sekaligus semakin ilahi, ssemakin berkenan kepada Allah.

Bukan hanya ahli Taurat, murid-murid Yesus sebagai orang Yahudi juga mengikuti Taurat, perbendaharaan lamanya. Namun bersama Yesus, mereka memiliki perbendaharaan baru. Murid-murid Yesus memiliki sudut baru yang membuatnya lebih sempurna.  Jika Taurat memberlakukan "nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki " (Ul 19:21), berkat Yesus mereka memiliki alternatif dan semangat baru "Aku berkata kepadamu : Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu" (Mat 5:39). Sebagai orang Yahudi mereka berhak, boleh, dapat dan tidak salah jika menerapkan prinsip balas dendam, namun karena Yesus mereka memilih tidak melakukannya. Mereka memilih menerapkan semangat baru, semangat berbelas kasih, semangat lemah lembut dan murah hati, sebagaimana semangat Sang Guru kehidupannya.

Sebagaimana murid-murid Yesus akrab dengan ketauratannya, demikian halnya dengan orang Jawa misalnya. Kejawaan tetap merupakan perbendaharaan lama. Dengan menjadi kristiani, kejawaannnya tidak lenyap. Justru kristianitas memperkaya, menyempurnakan kejawaannya. Kristianitas menjadi roh yang masuk merasuk, berinkarnasi dalam kejawaan. Sehingga orang Jawa yang mengikuti Yesus, tetap seratus persen Jawa sekaligus seratus persen kristiani.  Atau jika menggunakan istilah Mgr Soegijoprantoto "Seratus persen Katolik, seratus persen Indonesia"  Atau dengan bahasa Bung Karno , "Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indoneisa dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini".  

Dengan perbendaharaan lama dan baru, sejatinya prinsip kristianitas itu katolik, am, universal, dengan wujud konkretnya beraneka sesuai budaya setempat. Semakin kristiani, semakin katolik, semakin beraneka bentuk nyatanya. Kristianitas, itu mijikuhibiniu, bhinneka tunggal ika, kaya, komplit, lengkap, sempurna seperti raga manusia. Menjadi kristiani itu menjadi kreatif, penuh alternatif,  lengkap, komplit, sempuna bagai raga manusia sekaligus "seperti Bapa di sorga adalah sempurna" (Mat 5:48).

Perumpamaan mesti berdampak. Tempo doeloe saat memberikan perumpamaan itu, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya "Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka menjawab: "Ya, kami mengerti.". Hari ini, kini, di sini,  pertanyaan sama, oleh Yesus yang sama, yang hidup dua ribu dua puluh tahun lalu, ditujukan  kepada pembaca renungan ini. Siap menjawab-Nya?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN