Mohon tunggu...
B Budi Windarto
B Budi Windarto Mohon Tunggu... Guru - Pensiunan

Lahir di Klaten 24 Agustus 1955,.Tamat SD 1967.Tamat SMP1970.Tamat SPG 1973.Tamat Akademi 1977

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Yesus: "Apakah Engkau Mengasihi Aku?"

21 Mei 2021   08:56 Diperbarui: 21 Mei 2021   09:04 73 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Yesus: "Apakah Engkau Mengasihi Aku?"
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Bacaan,  Jumat 21  Mei  2021

.Yoh 21:15 Yesus yang telah bangkit menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Sesudah mereka sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." 16 Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." 17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku. 18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." 19 Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."

Renungan

Setelah beberapa bulan menjalin relasi, tiba-tiba Sang Romeo bertanya kepada Yulietnya "Sungguhkah mengasihi?" Yuliet kaget dan takut setengah mati. Karena di tempat wisata yang sepi, Sang Romeo minta bukti melakukan hubungan suami istri, sebagai tanda kasihnya. Secepat kilat, Yuliet pergi, lari, lari dan lari menyelamatkan diri.  

Bacaan Injil hari ini menarasikan hal yang bertolak belakang dengan permintaan Romeo kepada Yuliet terkait tanda kasihnya. Yesus dan Petrus sudah berelasi beberapa lama. Sesudah kebangkitan-Nya, Yesus menanyakan kesungguhan kasihnya sampai tiga kali. Pertanyaan pertama cukup telak "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Petrus yang kerap tampil pertama diantara murid lainnya, merasa lebih hebat, kuat dan  jagoan, ditanya kualitas kasihnya apakah lebih besar dan benar dari kasih para murid lainnya. Petrus mengiyakan "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Yesus memintanya menggembalakan domba-Nya sebagai tanda kasihnya.

Barulah Petrus tersadar posisi dirinya ketika Yesus menanyakan untuk ke tiga kalinya "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Masa lalunya terkuak kembali. Sedih hati dan penyesalan atas kerapuhannya, sehingga Petrus pernah menyangkal-Nya tiga kali. Petrus sadar, Yesus sesungguhnya lebih mengetahui lubuk hatinya yang paling dalam. "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kembali Yesus mengulangi permintaan yang ketiga kalinya "Gembalakanlah domba-domba-Ku".  Permintaan  yang berdampak mengangkat, mengampuni, memulihkan relasi, bukan seperti permintaan Romeo yang memerosotkan martabat, menyakitkan dan menghacurkan relasi..

Kembali Yesus mengingatkan resiko yang akan dialami Petrus. "Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." Sebutan Simon adalah nama kecilnya, saat mudanya. Ketika masih muda, Simon dapat mengikat pinggang dan pergi  berbuat  sesuka dan sekehendak hatinya. Tetapi saat tuanya, saat Petrus jadi gembala, ia tidak dapat lagi bertindak sesuka dan sekehendak hatinya sendiri. Bagai domba tak mengembik dibawa ke tempat pembantaian, tempat yang tidak dikehendakinya, sebagai resiko kematian dibunuh mesti dilakoninya. Sebagai gembala, Petrus mesti mengikuti kehendak Yesus Sang Gembala sejati. Maka Yesus kembali mengulang panggilan yang pernah diucapkan-Nya "Ikutlah Aku.". Pada  saat menghadapi salib, pikullah mengikuti Yesus, di belakang Sang Guru yang pernah tersalibkan. Hanya yang sungguh mengasihi secara benar dan besar dapat melakukannya. Lewat kasih Petrus yang benar dan besar kepada Yesus, diujung salib ada kemuliaan. Petrus pada akhir hidupnya memuliakan Yesus,  disalibkan dengan posisi kepala di bawah. Dia tidak layak menyamai Yesus saat disalibkan dengan kepala di atas.

 Apa yang dapat dipetik dari permenungan ini? Bagaimana posisi diri sebagai pengikut Yesus? Sungguhkah belum pernah mengkhianati dan menyangkal Yesus? Sungguhkah kasih diri kepada Yesus lebih hebat dari Yudas Iskariot dan Petrus? Bagaimana saat menghadapi pilihan dilematis tetapkah mendengar dan mengikuti panggilan-Nya "Ikutlah Aku?" Sanggupkah seperti Petrus? Bagaimana menjawab pertanyaan Yesus "Apakah engkau mengasihi Aku?"  Bagaimana pula mengaktualkan permintaan Yesus "Gembalakanlah domba-domba-Ku?" dalam keseharian kehidupan?

Yang   sungguh mengasihi Yesus, hidup benar sebagai manusia benar dengan Allah benar yang kasih-Nya tanpa batas. Hidupnya penuh syukur,  sukacita,  semangat, jadi berkat, pada saat untung dan malang, suka dan duka, sehat maupun sakit.  Ini  misteri. Kasih yang benar.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN