Mohon tunggu...
B Budi Windarto
B Budi Windarto Mohon Tunggu... Pensiunan

Lahir di Klaten 24 Agustus 1955,.Tamat SD 1967.Tamat SMP1970.Tamat SPG 1973.Tamat Akademi 1977

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Itu Tuhan, di Balik Kesuksesan!

9 April 2021   11:30 Diperbarui: 9 April 2021   11:51 67 0 0 Mohon Tunggu...

Bacaan, Jumat 9 April 2021 Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias     (Yoh 21 : 1-14)

Yoh 21 :1 Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. 2 Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. 3 Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. 4 Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. 5 Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada." 6 Maka kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. 7 Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan." Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. 8 Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu. 9 Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. 10 Kata Yesus kepada mereka: "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu." 11 Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. 12 Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan. 13 Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. 14 Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.

 

Renungan

            Sesudah lima puluh tahun saat mudik ketemu lagi teman-teman sewaktu sama-sama masih bocah di kampung ada perasaan geli, lucu, heran malu,banggga dan bersyukur. Ingat saat main kelereng,"gobak sodor", "benthik", "egrang", "jlumpetan", sepak bola dengan bola made in sendiri dari klaras, daun pisang kering, mandi bersama di kali, main umbul, melempar kertas bergambar wayang. Juga saat menjahati, nakali teman, curang, perkelahian, bergurau kelewat batas seperti tiba-tiba dari belakang "mlotrokke" celana teman, yang umumnya bercelana kolor tanpa celdam Ingat saat rujakan bareng. Ada yang bawa lombok, l gula dan garam, ada yang cari jambu, mangga, blimbing, dll.Tak jarang terjadi juga  perkelahian, satu lawan satu. Heran bahwa permainan gambar wayang, berhasil membentuk karakter jadi malu untuk lakukan hal-hal negatip secara  masal. Sebutan  seperti Astina atau Kurawa, saat itu merupakan ejekan, merendahkan, memalukan. Tidak membanggakan jika berani melakukan sesusatu dengan ngajak "bala", alias kroyokan. Demo berjilid-jilid, kerahkan ribuan massa dengan  nasi bungkus dan salam tempel amplop subsidi transportasi dikategorikan tidak jantan, tidak perwira. Idolanya adalah keluarga Pandawa. Maju tak gentar membela yang benar sekalipun sendirian.  Saat mudik, lihat mijikuhibiniu posisi karya dan  keberhasilan kehidupan. Ada  yang jadi perangkat desa, kepala desa, tentara, guru, kepala sekolah, pedagang, sopir, dokter, dll. Kisah putra-putrinya pun terungkap, pada jadi orang. Sebuah keberhasilan..

Bacaan Injil hari ini mewartakan bagaimana orang beriman melihat kesuksesan. Masih hangat kesadaran  murid-murid-Nya akan peristiwa  pengkhianatan, penyangkalan, dan pada lari tungang langgang tinggalkan Yesus  saat ditangkap hingga disalibkan. Suasana batin yang bingung, malu, gelisah, takut, kecewa, malu, rasa bersalah dan jahat, canggung, menyesal, tak nyaman mengharu biru hati murid-murid saat ditinggalkan-Nya. Petrus mengajaknya kembali ke dunia lama, dunia nelayan. Semalaman bersamaan murid lainnya, mencari ikan, namun hasilnya nol besar. Aneh tapi nyata. Sudah bertahun-tahun jadi nelayan, ahli perikanan,  tak dapat tangkapan ikan. Di kegelapan malam, terlintas kegelapan hidupnya yang pernah melakukan penyangkalan. Terpisah daripada-Nya, ternyata merupakan sebuah kegagalan kehidupan. Namun keadaan berubah. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada."  Panggilan "Hai anak-anak" adalah panggilan keakraban, kekeluargaan. Yesus tetap setia pada persahabatan, persaudaraan sekalipun telah pernah dikhianati, disangkal dan ditinggal lari murid-Nya. Selanjutnya Yesus berkata: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Petrus yang katam pengalaman dalam hal  perikanan, meskipun tahu saat siang hari akan sia-sia menebarkan jala, namun ketika diminta menebarkan jalanya di sebelah kanan, ia nurut saja. Belajar mengabulkan kehendak liyan, pikirnya. Lalu mereka menebarkannya dan astaga mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan.  Murid yang dikasihi, begitu peka akan hadirat-Nya. Keberhasilan menangkap ikan menandakan siapa yang bersabda penuh kuasa. Dia Yesus, Allah yang hidup, yang -- sudah, sedang dan senantiasa -- ikut melibatkan diri, campur tangan, "cawe-cawe", dalam kehidupan. Segera Yohanes berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan." Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, ia semakin salah tingkah. Ia kenakan pakaian, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau  datang kepada Yesus. Semakin tersadarlah bahwa ia mesti harus lebih belajar mengabulkan kehendak Yesus, yang pernah disangkalnya. Kemudian murid-murid yang lain datang dengan perahu menghela jala yang penuh ikan itu. Bahkan ketika  tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus : "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu....Marilah dan sarapanlah." Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan. Dengan mengajak makan bersama,Yesus mengulurkan tangan persahabatan, persaudaraan, bukan kebencian balas dendam atas pengkhiatanan dan penyangkalan terhadap-Nya.. Pengalaman perjumpaan dengan Yesus yang bangkit adalah pengalaman pergaulan dengan Allah yang hidup, yang menyelenggarakan kehidupannya. Kesuksesan adalah buah penyelenggaraan Tuhan. Kesuksesan tanda hadirat Tuhan.

Keberhasilan apa saja yang sudah dapat diraih dalam kehidupan ini? Bagaimana menghayati pengalaman sukses? Senantiasakah berkata "Itu Tuhan" setiap kali mengalami kesuksesan? Bersama Tuhan itu kesuksesan, terpisah dari Tuhan itu sejatinya kegagalan. Tidak naik kelas, patah hati, gagal panen, kebanjiran, dll  tidak membuat hidup terpisah dari  Tuhan. hidup tetap dilakoni penuh syukur  sukacita  semangat, jadi berkat,  Ini  misteri. Hadirat Tuhan di  balik kesuksesan!

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x