Mohon tunggu...
Bingar Bimantara
Bingar Bimantara Mohon Tunggu... Penulis - Mahasiswa Mager

Seorang anak petani yang sekarang berjuang menjadi sarjana. Sering patah hati namun tak pernah putus harapan. Berusaha menyibukkan diri agar tidak luntang-lantung di kos.

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Obral Manis Kampus di Negeri Antah-Berantah

30 Desember 2018   14:52 Diperbarui: 30 Desember 2018   15:30 438
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kampus ibarat ladang bisnis. Dimanfaatkan sebagai alat dagangan. Menjajakan beranekaragaman jenis ijasah. Mengobral visi dan misi dalih mnecerdaskan kehidupan bangsa justru menjadi alat perbudakan manusia. Bila mana kampus telah kehilangan tujuanya dan hanya hendak menyedot uang-uang mahasiswa-mahasiswanya lalu nasib negeri ini mau dibawa kemana?.

Riwayatmu kini pedidikan di negeriku ini. Usiamu makin lama makin menua dam renta. Kamu bagian dari salah satu fungsi. Fungsi pendidikan tinggi salah satu harapan penerus generasi bangsa, dengan berbagai harapan yang diembanya.

Setiap warga negara wajib memperoleh pengetahuan pendidikan dan konstitusi kita menjamin akan hal tersebut. Penyelenggaraan sistem pengajaran nasional telah tegas diatur dalam UUD 1945 Pasal 31: Ayat (1) Setiap warga negara berhak memperoleh pengajaran, Ayat (2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang.

Dalam kaitan ini kitapun bertanya-tanya apakah pendidikan Indoensia,khusunya perguruan tinggi kita. Pendidikan bukan persoalan teori dan ceramah oral saja namun tujuan pendidikan adalah membebaskan diri setiap insan untuk merdeka dan bebas berekspresi

kampus sudah menjadi ladang bisnis dan bancakan birokrat serta jualan berbagai dagangan-dagangan kampus. Kasus jual beli ijasah berteberan dimana-mana. Oknum-oknum yang hanya hanya ambil enaktanpaharus masuk kuliah dan takperlu capek-capek kerjakan tugas atau laporan. Para jajaran kampus cari-cari keuntungan dan main belakang dengan mafia, cermin pendidikan tinggi masa kini.

Pendidikan dimasa lalu dijadikan para pendiri bangsa untuk membebaskan belenggu dari kolonialisme. 73 tahun Indonesia merdeka secara penuh. Apakah pendidikan kita sudah merdeka? Sedangkan sekarang pendidikan sekarang justru dijadikan alat untuk mencetak tenaga-tenaga pabrik, dididik menjadi penyembah korporasi, insan terdidik diajak tunduk terhadap pimpinan.

Semua dibatasi ruang geraknya. Kebebasan berfikir dan kemampuan seseorang hanya dinilai dari nilai skala A sampai E dan hitungan angka semata. Ketika seseorang nilai mendapat E maka mereka sebut mereka bodoh.

Semua orang akhirnya akan berada dalam tuntutan. Mau dan tidak mau akan masuk kedalam siklus dimana sistem konspirasi tersebut. Kita harus mau mengakui bahwa pendidikan sekarang bicara soal uang dan uang. Mulai biaya pendidikan yang tinggi, biaya hidup yang tidak sedikit, dan semua pada akhirnya berujung pada uang.

Orang diajarkan mindset dan menilai kesusksesan adalah dengan pekerjaan layak dengan gaji tinggi dan pasangan ideal. Karena pada akhirnya semua terpola pada makna realistis dan materialis. Pemikiran kita adalah pemikiran gaya hidup sinetron yang gelamor.

Heran saja ketika tujuan pendidikan tinggi menjadikan insan yang berintelektual kini dibatasi dengan berbagai standart pabrik-pabrik buruh kerja. Karena pada dasarnya mahasiswa dibangku kuliah bukan disiapkan sebagai perubah namun menjadi hamba dengan doktrin normatif. Datang dan duduk dicekoki teori diberikan berbagai midshet materialistis dengan  menghamba pada uang. Berburu Indeks Prestasi Komulatif setinggi-tingginya sebagai targetnya.

Mereka meyakini bahwa dengan nilai yang tinggi akan menjamin segalanya. Kelak semakin lama manusia akan menjadi individualistis dan dan semakin lama manusia akan merasa tidak membutuhkan orang lain. Pendidikan adalah alat pembebasan untuk berfikir, dan berekspresi dengan daya dan kemampuan kita kini mundur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun