wirdan bazilie
wirdan bazilie

Menulis untuk mengisi waktu luang bisa dihubungi di @beanbazilie Insyaallah akan ada tulisan baru setiap hari Sabtu

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen ǀ Rumah Sakit Ganja

13 Januari 2018   18:03 Diperbarui: 13 Januari 2018   21:10 491 1 0
Cerpen ǀ Rumah Sakit Ganja
Ilustrasi: Shutterstock

Jam dinding membabi buta hilangkan aku setelah aku sepersekian detik yang lalu. Aku yang kontemporer, yang baru jadi saksi dari larutnya gula-gula dalam gelas penuh es batu merasa telah dikhianati waktu. 

Akibat waktu, aku divonis insomnia berkepanjangan hingga pikiranku jadi sempit, menumpuk pada dinding biru atau kuning atau ... ah, tak penting lagi warna apa yang menyelimuti batu bata bisu di situ.

Desingan kendaraan sekonyong-konyong masuk ke telingaku, otakku lantas berpikir kencang layaknya mobil F1 yang melaju di sirkuit sepang 2 tahun yang lalu; orang kulit hitam juara mengangangkat piala tinggi-tinggi dan aku berteriak "Ibu, aku mau jadi pembalap." 

Tapi ibu malah membantingku ke rak buku dan mengatakan, "kamu harus jadi sarjana Nak." Jadi apakah hubungan antara desing kendaraan dan cita-cita yang tak disetujui ibu? Kukira, sudahlah, toh akhirnya kehidupan hanya berkisar antara perut dan hubungan kelamin.

Otakku terus melaju sampai-sampai percepatannya tak bisa kutafsir lagi, aku melewati samudera pikiran, terjebak dan berputar-putar di palung kesadaran.  

Akhirnya aku berada di pons varoli dan kini berubah bingung karena punggungku sendiri dapat kutatap tanpa bantuan cermin. "Aku terlepas dari tubuhku?" Aku berputar-putar di bawah plafon, tak ada mual yang biasa terjadi, kini kuyakin, aku telah bebas 100% dari dunia materi.

"Sekarang aku harus apa?" Kuperhatikan wajah tampanku yang rautnya sedang serius menatap kaca penuh es batu. Aku menuju cermin, melalui ilusi optik itu, aku tak mendapati wujudku lagi, "aku benar-benar moksa ya?" Pertanyaanku mencari jawab pada foto Dia sedang memeluk kloset duduk. Dia hanya menyeringai dan tak berganti ekspresi. "Aku harus menemui Dia, Dia pasti senang jika tahu keadaanku sekarang."

Melalui celah dinding, aku memasuki malam yang akhir-akhir ini hanya kukunjungi secara online. Malam terasa berbeda, padahal terakhir kali kami bertatap muka, ia menjelma jarum suntik yang membuat tubuhku menggigil. 

Sekarang, malam menjelma kendaraan yang masih terjebak urusan di ruas-ruas jalan, muda-mudi yang duduk di emperan toko, candaan antara kulit kacang dan botol plastik, serta penjual pangan yang menawarkan segala bahan bakar untuk hidup. Malam sepertinya telah meng-upgrade dirinya sendri dari dingin yang sunyi menuju ruang yang patut dihidupi.

Eh, yah goblog, kan indraku harusnya tertinggal di tubuh, tapi kok aku bisa lihat? Ah, setan lah. Biarlah kecacatan logika yang berlaku dalam kisah fiksiku ini.

Kupotong bagian-bagian tak penting yang kulewati, sekarang kita beralih ke gerbang rumah sakit tempat Dia berada; mengada atau bereksistensi dalam ruang yang khusus Dia ciptakan sendiri.

Aku turun perlahan tepat di gerbang masuk hingga wush! Angin tiba-tiba saja datang mendorongku, tahu-tahu aku berada di muka pintu kaca. Angin membukakan pintu, suara menghambur, berpantulan di lorong-lorong gelap dan pecahan kaca berjatuhan mengikuti hukum newton. 

Mereka yang menganggap dirinya waras bermunculan, mungkin penasaran siapa yang menyebabkan keributan di dini hari. Aku mengangkat tangan, tak mau angin jadi terdakwa; keributan hanya urusan manusia. 

Mereka clingak-clinguk, saling memandang lalu kembali ke tempatnya sendiri. Pecahan kaca yang terlanjur berserakan tak dikira sebagai keanehan.

"Pelan-pelan, tempat ini bukan rumahku!" Aku memarahi angin yang membuat sunyi tak suci lagi.

Kulangkahkan kakiku menuju kamar 207. Angin kembali membukakan pintu, tapi dengan cara yang lebih manusiawi. Kududuki kursi di sebalah ranjang. 

Wajah lelapnya berkuasa membuat bibirku melengkung, tanganku tak luput dari wajah itu hingga bergerak menyusuri rambut legamnya tanpa perintah. Sontak, ia terperanjat dan menunjukkan mata merahnya padaku.

            "Tenang-tenang," kataku sambil mengelus pipi kanannya menggunakan punggung tanganku.

            "Sayang, kamu datang?" Suaranya sumringah, tapi tatapannya tak tertuju ke arahku.

            "Sayang?" Dia bertanya lagi dan tetap memandang lurus ke depan. Aku terbang lalu mendarat di atas tubuhnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3