Bayu Mustaqim Wicaksono
Bayu Mustaqim Wicaksono Part time blogger

Mempelajari kapal, mengerjakan pesawat, menyukai kereta api, menggunakan sepeda, dan memilih mobil sebagai alternatif terakhir alat transportasi.

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan

Bukan Puasa Biasa

16 Mei 2018   23:45 Diperbarui: 16 Mei 2018   23:44 522 0 0
Bukan Puasa Biasa
Alquran - Ilustrasi. (instagram.com/adventurous_soul__)

Tadinya mau nulis serius nih. Target Ramadan buat bangsa dan negara. Widiiw. Tapi, kok target buat diri sendiri malah ga ditulis. Kayaknya kurang pas. Akhirnya, jeng... jeng.... Jadilah tulisan ini.

Ramadan kali ini sih saya inginnya bukan puasa biasa. Kalau dicoba merunut ke belakang, selama bulan Ramadan belum ada hal spektakuler yang saya lakukan. Aduh, jadi malu.

Zaman SD, puasa sehari penuh aja sudah menjadi pencapaian yang sangat besar. Iya ga? Kalau dipikir-pikir, itu kan memang kewajiban. Jadi, belum bisa disebut sebagai pencapaian.

Masa SMP dan SMA, masih ala-ala ABG. Kebahagiaan puasa zaman itu ya saat bisa menghabiskan waktu berpuasa bersama teman-teman. Kegiatannya bebas. Bisa diatur, seringnya diisi liga bola di PS. Jangan ditiru yak! Yang penting pulang saat matahari sudah nyaris menyentuh cakrawala. Alias sudah hampir magrib.

Konsol game - Ilustrasi. (Dyo Ivaldo)
Konsol game - Ilustrasi. (Dyo Ivaldo)
Puasa sudah bukan menjadi hal berat. Puasa dalam arti pindah jam makan dan minum ya.... Kalau ditambah ibadah-ibadah lain ya berat juga. Masih labil....

Setelah itu, momen puasa menjadi hambar. Kesannya sama saja dengan hari biasa. Ada tugaslah. Ada kerjaanlah. Ada Si Komo lewatlah. Macet dong?

Intinya, ga ada target khusus yang akan dicapai. Mengalir saja sampai akhir. Tanpa terasa 30 hari berlalu. Ramadan pergi dan baru akan datang setahun lagi. Syedih.

Saat salat di masjid sekarang-sekarang ini, mulai terpikir. Kok sekarang imamnya seumuran ya. Bacaannya bagus pula. Umur sama tapi kok bacaan beda, apalagi hafalannya.

Awal-awal ikut kajian lagi, ada yang lebih jadi pikiran. Sekarang peserta kajian agama kebanyakan anak muda. Dulu padahal saya yang paling kecil (ya iyalah masih SMP itu, itu juga buat isi buku Ramadan). Sekarang populasi orang tua justru yang minoritas. Rajin-rajin ya bocah sekarang buat ngaji.

Keputusan pun dibuat karena jika Ramadan ini ga boleh sama seperti kemarin-kemarin. Bisa semakin ketinggalan nanti. Sekarang harus masuk fast track. Lakukan hal-hal yang positif, bermanfaat, penting, dan mendesak.

Kebetulan sekarang semakin mudah mendapatkan informasi. Banyak masjid menawarkan berbagai program Ramadan. Dan yang paling menarik buat saya adalah belajar bahasa Arab.

Bulan Ramadan kan bagus untuk kita membaca Alquran. Satu huruf Quran saja mengandung 10 kebaikan bila dibaca. Tetapi, rasanya kurang kalau cuma dibaca saja. Harus bisa memahaminya juga dong. Minimal tahu artinya.

Alquran dan bahasa Arab - Ilustrasi. (Afghan Youth Comittee)
Alquran dan bahasa Arab - Ilustrasi. (Afghan Youth Comittee)
Berat memang ya. Bayangkan, belajar bahasa Indonesia yang dari lahir saja masih ada ujian yang diremedial. Belajar bahasa Inggris sejak SD (lupa kelas berapa) belum bisa was wes wos seperti bule-bule. Lah sekarang bahasa Arab, b a r u  m u l a i.

Tapi, kalau ga sekarang kapan lagi. Alhamdulillah ada kelompok yang sudah merencanakan ini dengan baik. Pelajaran akan dilakukan tiap hari setelah salat tarawih. Modulnya dibagikan. Dan gratis.

Semoga bisa terus lanjut. Pelajarannya dimulai dari dasar sekali memang. Mirip-mirip pertama kali belajar bahasa Inggrislah. Ada gambar dan kata. Walaupun begitu, pesertanya antusias lho. Dari anak SMP sampai yang seumuran bapaknya si anak itu (jangan-jangan benar bapaknya) gabung belajar bersama. Mirip-mirip kelas Kejar Paket jadinya.

Karena benchmark pertamanya adalah Mas-mas Imam, belajar bahasa saja belum cukup. Untuk menjadi imam kaidahnya haruslah yang bacaan dan hafalan Alquran-nya bagus. Mencapai itu perlu berapa lama coba?

Untunglah, saya pernah dengar nasihat dari Ustadz Adi Hidayat. Nanti setiap hari menjelang magrib ada ceramahnya di Trans TV (maaf sebut merek lain Mas/Mba Admin, ga ada di Kompas TV sih).

Beliau itu hafal Alquran bukan hanya isinya, tetapi juga letak katanya di Alquran. Maasyaa Allah. Bukan hanya itu, penjelasannya tentang Alquran pun jelas sekali. Nanti dengar ya ceramahnya sebelum buka puasa. Tonton di Youtube juga bisa.

Kembali ke konteks. Ustadz Adi berpesan jika menghafal Alquran itu bukan untuk hafal. Gimana tuh maksudnya? Ya ikhlas saja sama Allah bagaimana hasilnya setelah berproses untuk menghafal tersebut. Jika ditanamkan hafalannya di dalam ingatan itu baik. Jika lama sekali belum berhasil hafal pun jangan bersedih. Artinya kita bisa kembali membaca ayat itu berulang-ulang. Toh baca Alquran dapat pahala, apalagi di bulan puasa.

Menurut beliau, mungkin saja ayat yang sulit sekali dihafal itu ternyata jawaban atas permasalahan kita. Atau memang ayat itu harus tertanam kuat di hati, bukan hanya teringat di pikiran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2