Bayujati Prakoso
Bayujati Prakoso

Lahir di Tangerang, Banten, pada 09 Juli 1997. Saat ini, tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, konsentrasi Public Relations Tahun Akademik 2015 di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA. Memiliki hobi dan minat dalam membaca, menulis & editing.

Selanjutnya

Tutup

Jakarta

Respons Dinamika Keumatan, PP Muhammadiyah Gelar Pengajian Bulanan "Membangun Jakarta yang Berkemajuan"

13 November 2017   14:54 Diperbarui: 13 November 2017   15:28 223 0 0
Respons Dinamika Keumatan, PP Muhammadiyah Gelar Pengajian Bulanan "Membangun Jakarta yang Berkemajuan"
img-20171110-202003-5a094da8ade2e11bb960eb92.jpg

Haedar Nashi memberikan Pengantar Pengajian Bulanan PP Muhammadiyah di Auditorium KH. Ahmad Dahlan, Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jl. Menteng Raya no. 62, Jakarta Pusat, Jum'at, (10/11/2017).

oleh: Bayujati Prakoso*

Jakarta - PP Muhammadiyah menggelar Pengajian Bulanan dengan mengangkat tema "Membangun Jakarta yang Berkemajuan" di Auditorium KH. Ahmad Dahlan, Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jl. Menteng Raya no. 62, Jakarta Pusat, Jum'at, (10/11/2017).

Dalam pengajian tersebut turut hadir Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah), Anies Rasyid Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Zulkifli Hasan (Ketua MPR RI), Bahtiar Effendy (Ketua PP Muhammadiyah), serta warga persyarikatan Muhammadiyah di berbagai daerah di Indonesia.

Haedar dalam pengantar pengajian PP Muhammadiyah tersebut mengatakan, "Ini yang harus dijadikan rujukan oleh seluruh anggota, kader dan aktivis keluarga besar Muhammadiyah bahwa satu paket Islam Berkemajuan, Indonsesia berkemajuan, Muhammadiyah berkemajuan.

Ketua Umum PP Muhammadiyah itu melanjutkan, Indonesia, Islam, Muhammadiyah berkemajuan bukanlah retorika. tetapi udah menjadi paradigma, yang sah, sistematik, dan dipilih oleh Muhammadiyah. "Islam yang progresif menjadi tajdid Muhammadiyah di abad baru ini. Bagaimana kontruksinya? bahwa Muhammadiyah memahami betul Islam sebagai agama peradaban," tutupnya.

Dalam hal ini, Zulkifli Hasan, Ketua MPR RI ikut menghadiri pengajian bulanan dan menyampaikan beberapa poin, yaitu dari MPR ada 5 masalah termasuk Jakarta. Pertama yang kronis adalah kemiskinan, masalah kedua kesenjangan, ketiga penegakan hukum, yang keempat korupsi, yang kelima distrust taat dalam beragama.

Dalam kesempatan ini, Bachtiar Effendy, Ketua PP Muhammadiyah menjelaskan bahwa, "Adanya intoleransi ekonomi. intoleransi soal politik, sosial, jangan pernah lalai bahwa ada saudara-saudara kita tidak toleran, kalau saudara-saudara lain makmur secara ekonomi. Jadi, Jakarta tidak berkemajuan. Akan terwujud gubernur baru bisa mewujudkan apa yang nyatakan oleh ketua MPR tadi. Hanya itu parameternya. Kunci cuma 1 Jakarta akan memiliki keterampilan memimpin, keterampilan itu berdasarkan tradisi nabi yaitu sifat Sidiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah. Sidiq itu bersih, benar, dan baik perbuatan dan perkataannya. Amanah, mampu menjaga kepercayaan masyarakat melalui kepemimpinan yang diembannya. Tabligh, Gubernur harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik, terutama dalam menyampaikan setiap gagasan untuk kebaikan bersama. Fathanah, punya kecerdasan," jelasnya.

"Demokrasi harus memiliki dasar-dasar etika dan moralitas. Karena dari itu, demokrasi itu tidak bisa demokrasi menang-menang-an," tutup Bahtiar Effendy.

Disesi akhir narasumber yan dalam pengajian PP Muhammadiyah, Anies Rasyid Baswedan menyatakan dalam forum yakni, ada konsep sebagai negara pembelajaran. learning society terus menerus, pembelajaran tanpa meninggalkan akal. Persoalan yang dialami Jakarta itu kompleks. kemiskinan disini kemiskinan yang ekstrim.

Anies melanjutkan, pertama adalah nomor 1 lapangan pekerjaan. Tidak membayangkan sekedar dari pemerintah membuat proyek itu dari luar. Yang dibangun itu usaha kecil untuk tumbuh, karena tidak ada pasar sebesar Jakarta untuk semua hal, itu kenapa Sudirman, Thamrin dibuka untuk motor. Diwilayah itu perhari bisa 480.000 pesanan datang, yang nganter pesanan pake motor, yang mereka membutuhkan akses lewat motor. Ini adalah alat untuk penunjang mobilitas ekonomi menengah kebawah sebelum kita punya transportasi publik massal yang baik. Selain itu, membangun interaksi warga dengan interaksi sosial. tanpa interaksi tidak ada intemensi. Membangun public transport, tempat bertemunya strata sosial ekonomi rakyat.

Anies menyampaikan bahwa pemerintah yang membereskan semua urusan. Kalau di Jepang warganya diajak sebagai pelaku. Nah, ini kita membutuhkan Muhammadiyah untuk masuk ke level yang di Jepang. Kita harus mengajak warga untuk masuk ke urusan-urusan dalam membenahi Jakarta seperti soal sampah, dan sebagainya. Sedangkan, negeri yang berkemajuan harus justru mengajak warganya terlibat. Sebagai contoh di Jakarta berapa jumlah warga penyandang disabilitas dari Jakarta 2-3, berarti kisaran kuranglebih 200.000 ribu orang, lalu mobil yang ada untuk membantu penyandang disabilitas ada sekitar 10 mobil.

Pasalnya, menurut Anies, kota yang berkemajuan, kota yang mengajak warganya. Jadi warga diikut sertakan. Banyak warga yang ingin berbuat baik, tapi bingung wadahnya bagaimana. Selain itu, soal pemanfaatan dana bisa diakses, warga dapat mengontrol langsung.

"Dengan menghidupkan kembali harapan, dan mengubah pesan bahwa kita terlalu toleran dengan persepsi kalau ibukota itu kejam, ibu kota itu kejam daripada ibu tiri. siapa suruh dateng ke Jakarta. Persepsi itu harus diubah. Kota yang rahim, kota yang nyaman. Tapi punya efek yang besar. Jakarta itu keras, kejam. Kita harus ubah, Jakarta bukan begitu," jelas Anies.

Selain itu, Anies menuturkan, menyangkut pelanggaran-pelanggaran kita tidak akan diam. Jakarta harus bisa menjadi kota percaya terhadap lingkungan.

Terakhir, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI itu melanjutkan dalam pernyataan terakhir dalam sesi ini, "Ada yang namanya toleransi dua pihak (twin tolerance). Kita ingin membangun persatuan. Tidak mungkin ada persatuan dalam ketimpangan dan kemiskinan. Persatuan harus ada kesetaraan. Catatan, ini bukan pekerjaan setahun atau dua tahun, tapi fondasinya harus dijalankan," tutup Anies dipenghujung sesi akhir pengajian bulanan PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, (10/11/2017).

_______________________

*Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Jakarta Selatan, Ketua Bidang Organisasi PK IMM FISIP UHAMKA Jakarta Selatan Periode 2017-2018