Mohon tunggu...
Bayu Saputra
Bayu Saputra Mohon Tunggu... Mahasiswa biasa sih

Cuman mahasiswa yang pingin nulis dan lulus.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Galaknya Netizen 4.0

22 Januari 2020   11:00 Diperbarui: 22 Januari 2020   11:31 52 0 0 Mohon Tunggu...

Pagi itu, saya sedang asyik berselancar di Twitter sambil menikmati secangkir kopi sachet-an favorite saya. Keasyikan saya hilang seketika saat saya menonton salah satu video yang diunggah salah satu netizen (saya lupa men-screenshoot/menyimpan videonya, mungkin bisa dicari sendiri)

Video tersebut berisi seorang pria berumur sekitar 30-an, berbicara di depan kamera, mengkritik habis-habisan bapak gubernur Anies Baswedan karena telah gagal menangani banjir di Jakarta. Yang menarik di sini bukan malah substansi dari kritikannya, tapi cara dia menyampaikannya di dalam video tersebut.  

Penyampaiannya berujung pada ujaran kebencian. Pria ini malah mencaci-maki Anies secara personal, menantang, dan banyak sekali ungkapan tidak etis yang dilontarkan seperti anj*ng, bab* (dan nama-nama fauna endemik lainnya wkwk). Saya pun terdiam sejenak sambil bergumam, "hmmmmmmmmmm..."

Saya bukannya pendukung, ataupun membela sosok Anies Baswedan. Bagi saya video pria tersebut hanya satu bukti dari banyaknya kritikan netizen yang tak memperhatikan etika, kasar, bahkan cenderung menyerang personal. 

Pada waktu itu banjir Jakarta memang menjadi isu yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan oleh netizen, sering menjadi subjek politisasi sampai-sampai tagar #banjir menempati top trending Twitter. 

Sering saya temui (dan saya yakin kalian juga) kritikan-kritikan yang disampaikan oleh netizen sangat kasar, tak beretika hingga argumen-argumennya bersifat Ad Hominem. 

Kecenderungan menyerang personal dalam berkomentar atau berargumen sudah menjadi hal yang lumrah di masyarakat kita. Kalau kata Lord Rocky Gerung mah, fenomena ini sebagai salah satu bagian dari Logical Fallacy.

Tak bisa dipungkiri kebenaran kutipan dari buku "Kebudayaan dalam Politik" karya pak Radhar Panca, bahwa "mungkin kebebasan merupakan buah demokrasi yang paling asam, yang mau tidak mau harus kita petik". 

Melihat masyarakat dewasa ini dengan bebas menyuarakan pendapat melalui media sosial dengan cara yang sangat kasar tak beretika. Belum lagi melahap mentah-mentah informasi tanpa tabayyun terlebih dahulu dohh.... Semua ini tak terlepas dari sikap fanatisme terhadap satu kelompok, tokoh, maupun ajaran terntentu. 

Mungkin kalian tidak sadar meskipun setiap menit kita disuguhi fakta, audio, visual, literal yang seharusnya dapat menginternalisasi kita dengan sebuah pemahaman, semua itu malah tertutupi oleh perasaan fanatisme belaka. 

Memang benar kita berperan sebagai rakyat yang secara kultural, konstitusional harus menjadi subjek utama yang dibela kepentingannya dalam demokrasi ini. Mengutarakan pendapat itu sah-sah saja, tapi mbok ya dengan cara yang baik, logis dan beretika. Tunjukan jati diri bangsa kita yang jelas-jelas sudah terpampang di dalam sila ke-2.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN