Mohon tunggu...
Bay Bayu Firmansyah
Bay Bayu Firmansyah Mohon Tunggu... Penulis yang menulis

Mahasiswa Public Relations yang tertarik di bidang penulisan dan desain grafis, suporter sejati Manchester City FC

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Autobiografi: Bay Bayu Firmansyah (The Planner)

24 April 2020   22:17 Diperbarui: 24 April 2020   22:33 52 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Autobiografi: Bay Bayu Firmansyah (The Planner)
dok. pribadi

Namaku Bayu Firmansyah, lahir di Sumedang, 27 April Sembilan belas tahun yang lalu. Aku adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Baybay, begitulah panggilan akrabku, aku terlahir dari keluarga dengan keadaan ekonomi menengah.

Ayahku seorang wiraswasta di bidang jual beli motor, dan Ibuku adalah ibu rumah tangga yang bertugas memastikan anak-anaknya mendapat didikan sejak kecil.

Pertama kali aku duduk di bangku sekolah pada tahun 2007-2013 di SDN SUKALILAH. Kenyataan bahwa aku tidak pernah memasuki TK (Taman Kanak-kanak) tidak pernah menjadikanku rendah diri dari teman-teman sekelas, hal itu kubuktikan dengan menjadi  siswa rangking kesatu selama lima tahun berturut-turut di setiap pembagian rapor. Setelah lulus, aku diterima di SMPN 2 PAMULIHAN, sebuah sekolah yang berjarak tidak jauh dari tempat aku tinggal. Tiga tahun aku habiskan untuk menimba ilmu di SMP terhitung dari 2013-2016.

Di masa SMP ini aku mengalami pengalaman yang dalam ilmu sains disebut masa pubertas, beberapa perubahan mulai terjadi pada tubuhku secara lahiriah dan batiniah. Aku kira kalian tidak akan tertarik dengan perubahan lahiriah yang aku alami, sejalan denganku, satu-satunya yang aku sukai dari perubahan ini adalah munculnya ketertarikan terhadap lawan jenis. 

Tidak tanggung-tanggung, perempuan pertama yang aku jadikan pacar adalah perempuan yang menjadi dambaan teman-temanku. Aku harap itu menjelaskan kepada kalian bahwa sejak awal aku mempunyai selera yang tinggi terhadap perempuan yang aku sukai.

Hanya lima bulan aku bertahan dengan perempuan itu, tidak ada kejadian spesial yang bisa aku tuliskan dari perjalanan cinta pertamaku, namun aku bisa berbagi hikmah dengan kalian. Jangan pernah berharap lebih dari cinta pertamamu.

Menuju masa SMA, pilihan hidup menjadi bertambah sulit bagiku. Orang tuaku memberi dua pilihan sebelum melanjutkan sekolah, yang pertama mereka menyuruhku untuk sekolah sambil menimba ilmu agama di pesantren, dan pilihan kedua mereka menyuruhku tinggal di rumah dengan jaminan bahwa aku akan belajar ilmu agama. Aku kira kita sepakat bahwa inti dari dua pilihan itu menyuruhku untuk memperdalam ilmu agama.

Tidak ingin berlarut-larut dengan keragu-raguan, aku akhirnya memilih untuk menjalani masa SMA sambil tinggal di pesantren. Aku rasa tidak ada salahnya mencoba hal baru dalam hidup ini. Pertanyaan selanjutnya yang timbul adalah dimana aku akan bersekolah dan mondok di pesantren?

ide pertama datang dari seorang kerabat yang merekomendasikan Cimalaka sebagai tempat belajarku, disana terdapat beberapa sekolah dan pesantren yang bisa dijadikan pilihan. Maka disepakatilah SMAN 1 CIMALAKA dan PONDOK PESANTREN AT-TARBIYAH yang berada di Cimalaka sebagai pelabuhanku selanjutnya.

Diluar dugaan, hidup di pesantren ternyata tidak semudah dan se-menyenangkan dari apa yang terlihat. Menjadi santri berarti harus siap dengan segala kebiasaannya, sebut saja bangun sebelum shubuh, dengan toilet yang mengantri, tidur dengan Kasur yang saling berebut, makanan di lemari yang bisa hilang jika kita lupa menguncinya, dan tidak jarang juga kami harus tidur larut malam untuk menghapal kitab dan mengerjakan tugas sekolah.

Semua itu membuatku kepayahan dalam minggu-minggu pertama berada di pesantren, timbul rasa ingin pulang dan melanjutkan sekolah di rumah. Namun, mengingat perjuangan orang tua yang terus membiayai sampai saat ini  mengurungkan niatku sekaligus menguatkan tekad untuk tetap berada di pesantren walau ditinggal teman-teman seperjuangan yang sudah tidak kuat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x