Bass Elang
Bass Elang Seniman

Dan pada akhirnya senja berubah menjadi malam yang gelap. Tak ada yang berkesan kecuali wajah manismu yang melintas.

Selanjutnya

Tutup

Novel

#Move #On2

17 April 2018   03:03 Diperbarui: 20 April 2018   13:10 222 0 0
#Move #On2
https://botakstm.blogspot.co.id/2016/08/jika-diubah-ke-dalam-bentuk-ilustrasi.html?m=1

"Hati yang patah akan tumbuh lebih kuat.." Parto mencoba memancing reaksi teman-temannya—yang sedang mengibuli Sinta.

     Setiap orang ada kalanya sakit hati, atau hancur. Kesakit-hatian atau kehancuran adalah dasar pijakan menuju bangkit, menuju kekuatan dari kelemahan. Seseorang yang tidak bisa move on; seperti seorang nahkoda yang belum menemukan pulau harapan yang dapat ia singgahi. Ia memilih untuk tetap di tengah laut: bingung. Ke mana ia harus berlabuh; menyandarkan kapalnya.

       Bagi mereka yang mengalami sakit hati adalah mereka yang akan menemukan kebahagiaan di kemudian hari. Begitu juga seseorang yang hancur hidupnya, adalah dia yang akan mau bergegas menemui titik temu yang sudah digariskan oleh Tuhan.

      Saat menemui sakit hati, orang beranggapan, itu adalah pengalaman yang menyedihkan. Seolah-olah menggrogoti kekuatan jiwanya sehingga menjadi hancur. Seluruh tulang-belulang berasa rapuh. Sekujur badan terhempas. Sukma melayang dari raga. Harapan lenyap. Tubuh tersungkur ke tanah. Nafsu makan berkurang. Pikiran jadi tak menentu. Perasaan gelisah. Hidup menjadi tak semangat lagi. Medan gerak menjadi sempit.

Tetapi, bagi Parto, semua itu adalah dasar-dasar pijakan. Dia mencoba menerangkan pemikirannya kepada teman-temannya, agar mereka tahu dan berhenti mengibuli Sinta yang sedang hancur karena hubungannya dengan Sugih tidak bisa dilanjutkan lagi.

"Setiap yang dialami adalah dasar pijakan menuju titik temu yang di depan." kata Parto, "Kalian boleh berasumsi bahwa, Sinta yang sedang sakit hati ia lemah, maka ketika kalian mengibulinya, ia tidak akan melawan. Tapi, jangan heran! Itu adalah Sinta hari ini," tutur Parto di halaman Kafe #Ngoceh sebelum dia-temannya memesan kopi.

"Ya. Kalau saja dia lebih banyak menggunakan pikirannya, tentu dia akan membuang perasaannya itu," sangkal Sapar.

     Sapar berpendapat bahwa semestinya Sinta membuang perasaannya itu ketimbang menampung ke dalam hatinya. Hati akan rapuh dan merasa capek kalau pemiliknya hanya baperan. Namun, mengenai pendapat Sapar agak menjanggal di pikiran Susi.

"lho, Par. Apa kamu gak salah? Bukankah Perempuan lebih banyak menggunakan perasaannya?" celetuk Sinta sambil memegang daftar menu kopi yang akan dipesannya.

"Tapi,, mungkin. Putusnya hubungan itu, adalah karena keinginan Sinta sendiri," Jarwo menimpali—membuat temannya tercengang. "Karena Sinta yang ngebet—pengin balikan, berarti Sinta lah yang punya keinginan untuk putus."

"Nggak, lah. Bukannya sebaliknya? Wong Sinta yang pengin balikan, berarti dia bener-bener cinta ma Sugih. Dan, tentu dia serius dengan Sugih," Susi kekeuh dengan pendapatnya.

     Berbeda dengan Parmin. Menurutnya, soal putus adalah perkara biasa terjadi dalam hubungan percintaan: ada jadian, ada putus, ada pertemuan, ada perpisahan. Begitulah cinta bekerja. Dan begitu pun adalah pekerjaan alam semesta—membuatkan sejarah manusia. Selain cinta menyenangkan sekaligus menyakitkan. Selain membutakan sekaligus menerangkan: yang gelap terlihat dan yang terang terbuta.

     Cinta adalah kumpulan perasaan: 99% rasanya pahit dan 1% rasanya manis. Apabila yang 1% semakin menipis, maka yang 99% pahit baru bisa dirasakan oleh seseorang.

     Pesanan kopi mereka telah disediakan pelayan. Obrolan itu makin panjang, dan seperti tidak menemui titik temu persoalan mengenai hubungan sahabat mereka, Sinta dan Sugih. Datanglah Sutejo, yang kerap ditunggu-tunggu pendapatnya. Teman-temannya menjelaskan pendapat mereka masing-masing yang sudah dilontarkan sebelum kedatangan, Sutejo.

"Ya. Apa yang dikatakan kalian, semuanya benar. Nggak ada yang salah. Tapi saya menekankan, biarkan Sinta dengan perasaannya, dan biarkan Sugih dengan keputusannya," tukas Sutejo, lalu menyeruput kopinya.

"Betul. Tapi, apakah kita diam saja melihat Sinta menderita oleh perasaannya terus-menerus?" Parto menyoal.

"Iya, Jo. Benar apa kata Parto," samber Parmin.

"Dan, apakah kita tidak segera membujuk Sugih, agar dia mau kembalian lagi dengan Sinta?" Susi mulai bergairah.

"Sepertinya, kita tidak usah membujuk Sugih untuk mau jadian lagi dengan Sinta. Karena cinta tidak bisa dipaksakan," Sapar menyangkal pendapat Susi.

     Hening. 

     Mereka belum bisa menyimpulkan.

     Tiba-tiba Parmin yang diam-merenung mengagetkan teman-temannya. Sepertinya ia menangkap ide dari alam pikirannya. Dengan PD ia ngoceh. "Sinta dan Sugih lebih baik kita tonton saja. Karena itu takdir," sontaknya.

"Bagaimana itu takdir, Min? Bukankah, apa yang dikatakan Jarwo tadi, itu adalah keinginan Sinta sendiri untuk putus," sanggah Susi.

"Keinginan menghasilkan nasib. Nasib adalah takdir. Kita pergi dari sini adalah takdir, kita tetap di sini juga takdir," jelas Parmin.

     Temannya tersentak diam.

     Sutejo belum juga mengeluarkan jurusnya. Dia masih mau mendengarkan temannya dengan berpikir. Fungsi telinga adalah 'mendengar' bukan 'nguping'. Dalam bahasa inggris; "listen" adalah mendengar sesuatu yang disengaja, sedangkan "hear" adalah kebalikannya; mendengar sesuatu namun tanpa disengaja. Karena itu, Sutejo mencoba mendengarkan pendapat temannya dengan mengaktifkan pikirannya. Guna mengaktifkan argumen yang ada di pikirannya.

"Maka sebaiknya, kita biarkan saja Sinta dengan perasaannya, dan Sugih dengan keputusannya." kata Sutejo, "Benar apa yang dikatakan teman-teman sekalian, bahwa itu takdir," ujar Sutejo menyepakati.

"Kalau begitu, nggak bisa move on adalah takdir?" pungkas Jarwo membuat Sapar mengangguk-angguk.

     Susi, seorang teman yang paling dekat dengan Sinta, belum sepakat oleh pendapat temannya: Jarwo, Parmin, Sapar dan Sutejo. Dia pikir. Ada kesan nasib meski itu takdir. "Bukankah, kalau Sinta pengen melanjutkan hubungannya lagi adalah kewajaran? Dia berhak dengan kemauannya, dan dia punya hak untuk dicintai lagi?"

"Tapi, nyatanya, Sugih kekeuh nggak mau balikan!" ceplos Parmin.

"Pun, Sinta juga kekeuh dengan perasaannya untuk balikan," Jarwo menambahi.

"Memang susah untuk menyatukan keduanya." kata Parto, "Karena perasaan keduanya, tidak sama; ndak balance," terang Parto.

     Perdebatan belum juga selesai di Kafe Ngoceh itu. Jagat semakin malam.

     Sutejo membuat spekulasi. Bahwa, malam akan berganti siang. Semakin malam semakin mendekati pagi. Bila pagi tiba, tentu akan menjelang siang. Semakin siang semakin mendekati sore dan seterusnya. Ia pikir. Ada sesuatu yang relatif dari perasaan seseorang. Walau perasaan itu diakui cinta mati.

"Kalian tentu tahu," seru Sutejo.

"Tahu, Apa?" sahut Susi.

"Nggak ada yang absolut dalam perasaan seseorang," balas Sutejo.

"Berarti ia bisa berubah kapan saja, maksudmu?" sambut Parmin.

"Iya," Sutejo membenarkan.

"Dan, pada akhirnya, Sinta akan berhenti dengan sendirinya—mengejar-ngejar Sugih?" Sapar menambahi.

"Tepat!" kata Sutejo. "Dalam falsafah Jawa: habis bencinya tinggal cintanya. habis cintanya tinggal bencinya." closing Sutejo.

#Bass #Elang.