Mohon tunggu...
Basril Tarigan
Basril Tarigan Mohon Tunggu... Simple writer, big dreams.

Simple writer, big dreams.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Tuntutan Delapan Jam Berdiri

2 Mei 2019   23:06 Diperbarui: 2 Mei 2019   23:37 187 16 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tuntutan Delapan Jam Berdiri
Ilustrasi - invaluable.com

Delapan jam lamanya tiap hari. Kau berdiri, menulis dan berbicara.  Dulu kau tak perlu membawa bekal makan siang. Debu kapur sudah cukup mengenyangkan bagimu

Di masyarakat kau disegani. Jalan setapak desa adalah karpet merahmu.  Dari kejauhan saja aku sudah mengenalmu. Ku sapa sambil menunduk, menatap matamu pun aku segan

Pernah kuterima rotan darimu. Membekas dibetisku sebelah kiri.  Bapakku malah menambahi di sebelah kanan. Kira-kira seminggu lamanya membiru tapi hinggankini membekas diingatan

Tak ada dendam sama sekali di hatiku. Sbab kau menuntutku untuk pintar. Ku akui segenap hati. Bentukan tanganmu menjadikanku periuk yang mahal

Berjalannya waktu karpet merahmu jadi bolong. Tak ada lagi yang memperhatikan jalanmu. Tuntutanmu pun bukan lagi kepintaran. Seragam pengakuan dan uang untuk membeli bekal siang nanti, itulah tuntutanmu sekarang

Kalau niat tulus tidak ada lagi. Sebaiknya kau pergi. Biarlah meja menggantikan delapan jammu. Berdiri menemani papan tulis, ia juga tak kan menentut ku untuk pintar

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x