Mohon tunggu...
Basri Hasanuddin Latief
Basri Hasanuddin Latief Mohon Tunggu... Lainnya - Analis Keimigrasi Pertama di Kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Palopo

Lulusan Sarjana pada Ilmu Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin yang saat ini mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Pelayanan Prima di Masa New Normal

10 Desember 2020   21:05 Diperbarui: 10 Desember 2020   21:10 162
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pemerintahan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Tulisan ini adalah tulisan yang saya ajukan ke Majalah Bhumipura untuk edisi ke-3 akan tetapi tulisan ini belum terpilih. Dibanding tulisan ini hanya tersimpan di laptop maka saya berinisiatif untuk membaginya ke lini masa.

Secercah Harapan dari kemelut COVID-19

Corona Virus Disease 2019 (covid-19) telah mereformasi berbagai sisi kehidupan manusia. Bagaimana tidak, virus yang konon berawal dari Wuhan (Tiongkok), kini telah menjalar secara global. Rilis terkini mencatat, pertanggal 13 Juni 2020[1], covid-19 telah menginfeksi 7.553.182 orang dan merenggut 423.349 nyawa di seluruh dunia. 

 Secara khusus di Indonesia, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mengkonfirmasi 37.420 kasus positif covid-19 dengan angka kematian sejumlah 2.091 orang[2]. Sebuah fakta yang sangat merisaukan. Olehnya, melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2020, pemerintah pun  mengafirmasi bahwa pandemi covid-19 ialah Bencana Non Alam. 

 Terlepas dari jumlah kasus kematian musabab covid-19, fakta bahwa virus ini dapat disembuhkan setidaknya membawa secercah harapan bagi umat manusia. Realita menunjukkan lebih dari sepertiga pasien positif covid-19 (13.776 orang)[3] dinyatakan sembuh dan dapat kembali beraktivitas. 

Tak hanya di Indonesia, secara universal akumulasi kesembuhan melebihi setengah dari jumlah kasus positif (4.058.335)[4]. Fakta ini seakan menyatakan bahwa kekhawatiran berlebihan terhadap virus, ialah suatu hal yang menyesatkan.

 Tatanan Normal Baru

Seiring berjalannya waktu, Pembatasan Sosial diterapkan dihampir setiap lini kehidupan demi menekan laju penyebaran virus. Mengoptimalkan sarana teknologi informasi pun menjadi keniscayaan. Dari bekerja hingga belajar semuanya berpijak pada virtual reality.

Akan tetapi, transisi sosial semacam ini tentulah menimbulkan berbagai bahaya laten. Di balik  teknologi informasi yang memberikan sejumlah nilai efisiensi, ia juga turut memberikan sejumlah dampak destruktif, khususnya di bidang ekonomi.

The World Bank melaporkan bahwa selama pandemi covid-19 penurunan ekonomi ditaksir sebesar 5.2%, terburuk sejak Perang Dunia II[5]. Laju pertumbuhan ekonomi yang melambat, mendorong negara-negara di dunia mengambil langkah terobosan guna membuat ekonomi tetap berjalan sembari meminimalisir laju persebaran covid-19 hingga vaksin ditemukan. 

Upaya ini ditempuh dengan pertimbangan bilamana ekonomi tidak segera dipulihkan, maka bukan virus yang menghancurkan peradaban manusia melainkan fenomena kemiskinan dan kelaparan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun