Sofyan Basri
Sofyan Basri Wartawan

Menilai dengan normatif

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Penyanderaan Papua dan Propaganda Publik

14 November 2017   23:02 Diperbarui: 14 November 2017   23:46 1015 2 1
Penyanderaan Papua dan Propaganda Publik
ilustrasi-penembakan-papua-5a0b19755e1373448a5772b2.jpg

Dua atau tiga hari lalu  kabar sedikit mengejutkan datang dari daerah  paling timur Indonesia,  Papua. Menurut informasi yang beredar di media  cetak dan on line,  didaerah penghasil emas terbaik seantero dunia itu  sedang terjadi  penyanderaan oleh kelompok bersenjata terhadap sebuah  masyarakat setempat.

Tak tanggung-tanggung kelompok yang disebut  Polri  sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) ini melakukan  penyanderaan  sebanyak 1.300 orang. Konon katanya, 300 diantaranya  adalah masyarakat  asal Sulsel, terutama dari suku Toraja yang  mendominasi.

Terus  terang saja, saya sedikit lucu-lucuan dengan  penyebutan KKB ini. Sebab  mirip-mirip atau hampir sama program Badan  Kependudukan dan Keluarga  Berencana Nasional (BKKBN) yakni program  Keluarga Berencana (KB).  Tinggal sedikit saja ditambahkan huruf K. Saya  sendiri baru mendengar  istilah ini. hahaha

Menurut saya secara  pribadi, apa yang terjadi  di Papua itu adalah bagian dari bentuk  teroris. Sebab dalam Wikipedia,  teroris itu adalah puncak aksi  kekerasan (terrorism is the apex of  violence). Sedang dalam kamus besar  bahasa Indonesia, teroris disebut  sebagai orang yang menggunakan  kekerasan untuk menimbulkan rasa takut.

Dengan demikian, dapat  kita disimpulkan bahwa penyebutan KKB tersebut  kurang tepat, tapi lebih  pas disebut kelompok teroris. Jangan karena hanya memakai senjata baru  dikatakan sebagai KKB. Sebab jika demikian,  kejahatan yang dalam  aksinya menggunakan senjata tajam maka akan disebut  sebagai Kelompok  Kriminal Senjata Tajam (KKSM).

Yang lebih  menarik lagi adalah  munculnya pro dan kontra terkait penyanderaan  tersebut. Ada pihak yang  mengatakan penyanderaan tersebut tidak benar,  pun ada pula yang  menyebut penyanderaan tersebut benar-benar terjadi dan  sangat kritis  karena telah terjadi pemerkosaan terhadap sandera perempuan.

Bahkan,  Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) ikut terlibat  dari perdebatan pro dan  kontra tersebut. Menurut politisi asal Sulsel  itu, apa yang terjadi di  Desa Banti dan Kimbely di Timika Papua itu  benar adanya. "Orang  disandera mana mungkin palsu beritanya," kata JK di  Istana  Kepresidenan, Selasa, 14 November 2017 (vivanews).

Sementara itu,  dilain pihak pengacara hak asasi manusia Veronica Koman  secara tegas  membantah adanya penyanderaan di Papua. Bahkan, Veronica berani  mengatakan kepolisian melakukan manipulasi fakta mengenai situasi  yang  sebenarnya yang terjadi di Papua. "Tidak benar itu (penyanderaan)," kata  Veronica, (Tempo).

Tak hanya itu,  Organisasi Papua Merdeka (OPM)  yang selama ini sering menjadi dalam aksi  kekerasan di tanah Papua pun  membantah. "Kami tidak sebodoh itu. Kami  tahu benar tindakan militer  yang paranoid dan selalu melakukan  propaganda murahan untuk  memprovokasi publik," kata juru bicara OPM  Sebby Sambon (vivanews).

Loh  ini ada apa sebenarnya? Tentu ini  adalah pertanyaan dasar sebagai  seorang warga negara. Atau karena ini  hanya merupakan bagian dari  penyerapan aspirasi publik untuk  menghilangkan fokus pada masalah  publik yang lain. Ataukah ini adalah  sebuah langkah propaganda publik.  Entahlah