Mohon tunggu...
Muhammad Aliem
Muhammad Aliem Mohon Tunggu... ASN di Badan Pusat Statistik.

Hampir menjadi mahasiswa abadi di jurusan Matematika Universitas Negeri Makassar, lalu menjadi abdi negara. Saat ini sedang menimba ilmu di Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Program Magister Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, beasiswa Pusbindiklatren Bappenas. Saya masih dalam tahap belajar menulis. Semoga bisa berbagi lewat tulisan. Kunjungi saya di www.basareng.com. Laman facebook : Muhammad Aliem. Email: m. aliem@bps.go.id

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Ekspor-Impor Surplus, tapi Tekor dengan Tiongkok

19 Oktober 2020   14:34 Diperbarui: 19 Oktober 2020   14:45 165 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ekspor-Impor Surplus, tapi Tekor dengan Tiongkok
Sumber : Berita Resmi Statistik Neraca Perdagangan September 2020, BPS

Neraca perdagangan nasional surplus, tetapi masih tercatat defisit dengan Tiongkok. Padahal baru saja kedua negara sepakat menggunakan mata uang lokal (Yuan dan Rupiah) dalam perdagangan bilateral dan investasi langsung. Ini menjadi salah satu trigger bagi Indonesia untuk memacu ekspornya ke negeri tirai bambu itu.

Neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus selama 5 (lima) kali secara beruntun sejak  Mei 2020.  Ini berarti selama tahun 2020, neraca perdagangan nasional telah surplus selama 7 (tujuh) kali, yakni pada Februari, Maret, Mei hingga September 2020. Meski jika dilihat lagi di bulan September itu, masih terjadi defisit pada sektor migas.

Kinerja perdagangan luar negeri kembali menunjukkan hasil positif pada medio September 2020. Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan nilai ekspor meningkat 6,97 persen dibanding bulan sebelumnya. Sementara nilai impor juga tercatat naik 7,71 persen. Jika dilihat dari sisi volumenya, ekspor September naik 1,38 persen yang disebabkan oleh naiknya ekspor komoditas nonmigas sebesar 0,49 persen dan migas naik 18,09 persen.

Jika dibandingkan dengan data pada periode yang sama tahun 2019, capaian ekspor Indonesia tercatat mengalami penurunan. Boleh jadi ini disebabkan oleh pandemi covid yang membuat perekonomian negara tujuan ekspor masih lesu. Perekonomian global dihantam resesi. Sebenarnya ini sudah terlihat dari beberapa waktu lalu sebelum covid terdeteksi.

Negara tujuan ekspor terbesar saat ini masih diduduki Tiongkok dengan kontribusi sebesar 18,37 persen. Terjadi kenaikan sebesar 6,62 persen pada September dibanding Agustus 2020. Komoditas utama yang diekspor ke Tiongkok yakni besi/baja, batubara, dan minyak kelapa sawit. Kinerja ekpor sektor pertanian memang sedang menanjak. Terjadi kenaikan sebesar 9,70 persen sepanjang tahun ini (Januari-September 2020) dibanding periode sama tahun lalu.

Sumber: Berita Resmi Statistik Neraca Perdagangan September 2020, BPS
Sumber: Berita Resmi Statistik Neraca Perdagangan September 2020, BPS
Sementara data impor juga menunjukkan kenaikan mencapai 7,71 persen. Impor migas dan nonmigas  kembali menggeliat meski masih diterpa pandemi covid . 

Data impor memang menunjukkan penurunan mencapai 18,15 persen sepanjang tahun 2020 dibandingkan tahun sebelumnya. Pembatasan gerak manusia akibat wabah melalui berbagai aturan menekan angka konsumsi bahan bakar.

Sumber : Berita Resmi Statistik Neraca Perdagangan September, BPS
Sumber : Berita Resmi Statistik Neraca Perdagangan September, BPS
 Ini bisa dilihat salah satunya dari nilai impor migas, baik minyak mentah maupun hasil minyak yang masing-masing mengalami penurunan sebesar 31,78 persen dan 40,03 persen. Sebaliknya untuk nilai impor gas terjadi kenaikan 1,27 persen.

Salah satu isu sepanjang merebaknya virus corona memang terjadi pada sektor migas. Negara-negara penghasil minyak mengalami tekanan yang cukup tinggi. Hasil produksi mereka tertahan di kilang dan menyedot biaya ekstra. Bagaimana tidak, kebijakan beberapa negara menyebabkan penggunaan bahan bakar minyak menurun drastis.

Kendaraan-kendaraan yang biasanya antri mengisi bahan bakar tidak begitu terlihat. Orangnya kan dipaksa tinggal di rumah. Melakukan segala aktivitas di rumah. Anak-anak belajar di rumah. Para pekerja juga diberi kelonggaran untuk bekerja di rumah, sebagiannya lagi terpaksa kehilangan pekerjaan. Hanya tersisa beberapa orang yang berlalu-lalang pada masa penerapan pembatasan sosial berskala besar di beberapa daerah di Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x