Mohon tunggu...
Muhammad Aliem
Muhammad Aliem Mohon Tunggu... Aparatur Sipil Negara di Badan Pusat Statistik

Saya masih dalam tahap belajar menulis. Semoga bisa berbagi lewat tulisan.. Kunjungi saya di www.catatanaliem.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Ramadan Memangkas Kesenjangan?

24 Juni 2019   12:08 Diperbarui: 24 Juni 2019   12:24 0 1 0 Mohon Tunggu...

Ramadan yang mulia, penuh ampunan, dan bulan untuk melatih diri itu telah berlalu. Sudah sepatutnya kita tetap melakukan amal kebajikan sebagaimana yang telah dilakukan selama berpuasa. Seperti menjaga ibadah, membantu sesama lewat sedekah, dan menahan diri dari segala laku tercela.

Salah satu hakikat puasa adalah untuk merasakan lapar dan dahaga orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka yang serba kekurangan dalam hal finansial. Bekerja hari ini untuk sesuap nasi di hari yang sama. Terkadang harus mengais sisa-sisa makanan di tempat sampah demi mengisi perut yang terasa lapar.

Ramadan membentuk karakter saling berbagi dengan sesama. Berbagi rezeki kepada mereka yang hidup serba-kekurangan. Dalam bentuk makanan maupun kebutuhan sekunder seperti pakaian dan kebutuhan lainnya.

Pundi-pundi rupiah yang mengalir ke tempat-tempat ibadah pun mengalami kenaikan. Jika diteruskan dengan langkah pembangunan masjid tentu akan meningkatkan perekonomian. Toko-toko bangunan panen untung, pekerja bangunan ketiban rezeki. Sekadar membuat dapur mereka tetap mengepul dan menghindarkan diri dari pengangguran.

Sepanjang ramadan, sudah menjadi pemandangan lazim melihat orang-orang berbagi makanan. Baik takjil maupun menu sahur. Orang yang bersedekah juga lebih banyak. Apalagi pada akhir ramadan terdapat kewajiban untuk mengeluarkan zakat fitrah. Salah satu sasaran penerimanya adalah masyarakat fakir miskin.

Kegiatan acara buka bersama menjamur di banyak tempat. Tak terkecuali di panti asuhan. Jika tidak di panti, biasanya anak-anak penghuni panti asuhan yang diundang langsung ke rumah atau ke kantor penyelenggara kegiatan buka bersama. Setelah acara makan-makan, mereka akan menerima amplop berisi rupiah. Wajar saja jika aktivitas perekonomian akan meningkat di bulan ramadan karena perilaku saling berbagi kepada orang yang kurang mampu.
Pada bulan ramadan pula jamak dijumpai kegiatan berbagi makanan berbuka di jalanan atau di persimpangan jalan raya. Konsumsi makanan meningkat drastis. 

Artinya pada bulan-bulan itu, tingkat pengeluaran komponen konsumsi rumah tangga akan mengalami pertumbuhan yang signifikan. Sebagaimana kita ketahui bahwa komponen ini masih menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi di PDRB Pengeluaran.

Di penghujung ramadan, warga perantau akan memilih pulang kampung. Jika ditelisik, kegiatan ini juga mampu memutar perekonomian di desa. Para perantau biasanya membawa bekal finansial yang cukup. Dan akan dibagi kepada keluarga yang tinggal di kampung. Uang yang dibawa pulang itu adalah hasil jerih payah bekerja dan memang sengaja disimpan untuk momentum mudik lebaran.

Aktivitas berbagi akan memicu terjadinya pemerataan distribusi pendapatan masyarakat. Disadari atau tidak, perilaku berbagi dapat menurunkan angka kemiskinan dan tingkat ketimpangan penduduk. DImana BPS mencatat gini rasio Sulsel masih sebesar 0,388.

Pada dasarnya, momentum puasa dan lebaran dapat berperan sebagai penggerak ekonomi negara. Sudah seyogyanya tradisi berbagi itu tetap dilanjutkan di luar bulan ramadan. Sehingga pemerataan pendapatan masyarakat betul-betul bisa diwujudkan. Tidak hanya sebatas anjuran dalam ajaran agama, tetapi langsung dipraktekkan dalam perilaku kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya, hal ini dapat diwujudkan dengan pengelolaan zakat dengan baik. Masyarakat yang terdaftar sebagai pemberi zakat secara rutin pun cukup banyak. Pengelolaan zakat bagi muslim disinyalir mampu membantu pemerintah dalam usaha mengatasi ketimpangan ekonomi masyarakat. Yang kaya berbagi terhadap yang miskin. Dengan syarat harus disalurkan oleh lembaga yang kredibel.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2