Mohon tunggu...
Very Barus
Very Barus Mohon Tunggu... Writer, Traveler, Photo, Videographer

Seorang mantan jurnalis yang masih cinta mati dengan dunia tulis menulis sehingga bisa menelurkan 7 buah buku. Suka traveling kemana saja. Suka mendaki gunung karena sejatinya kehidupan itu seperti mendaki gunung. Tiga tahun terahir suka dengan dunia videography, suka editing video dan menciptakan video yang layak untuk di tonton. semua ada di channel Youtube saya. sehingga menelurkan channel youtube (www.youtube.com/verybarus).

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Suka Duka Menuju Suku Baduy Dalam (Part 2)

18 April 2020   21:09 Diperbarui: 18 April 2020   21:10 92 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Suka Duka Menuju Suku Baduy Dalam (Part 2)
saya bersama anak-anak suku baduy


            Sebelumnya, aku telah mengisahkan perjalanan ke Desa suku Baduy Luar. Berikut lanjutanya menu Desa Suku Baduy dalam

           

Dari desa Suku Baduy luar, kami harus menapaki jalan yang cukup menguras energi lagi untuk menuju Desa suku Baduy dalam. Jalan yang harus kami tempuh benar-benar sangat tidak asyik. Tanjakan, turunan, ditambah lagi curah hujan yang masih betah menemani sepanjang perjalanan kami menuju Baduy dalam. 

Sesekali kami harus berhenti untuk merehatkan kaki yang mulai terasa lelah.  Ternyata benar apa kata teman, sebelum aku memutuskan pergi kesini. Dia menyarankan agar memilih waktu yang tepat yaitu musim kemarau lebih baik ketimbang musim hujan. 

Tapi aku mengabaikan anjurannya. Aku mengira Desa Suku Baduy ya, layaknya desa yang tidak perlu menguras tenaga untuk mengunjunginya. Kini terbukti. Lelahnya luar biasa karena berjibaku dengan hujan.

Sekarang aku menganjurkan bagi yang membaca kisah ini, jika hendak ke Suku Baduy, jangan pilih waktu dimusim hujan, kamu akan menyesal setelahnya. Lelahnya dua kali lipat.

Pukul 18:30 WIB, kami mulai memasuki Desa Suku Baduy dalam. Hari mulai gelap. Kami berjalan lebih hati-hati karena takut kepeleset karena jalan licin. Cahaya senter hape menjadi cahaya yang menerangi setiap langkah kami. Segala perangkat elektronik sudah tidak boleh diaktifkan. Itu kata pemandu yang asli berasal dari Baduy dalam. 

Aku sempat kelupaan, waktu itu aku hendak merekam momen jalan kaki di kegelapan menuju Baduy dalam. Namun, dengan sopan bocah 17 tahun yang mendampingi kami berkata," Maaf, kamera tidak boleh dinyalakan." Aku tersadar, langsung mematikan kamera.

foto:very barus
foto:very barus
30 Menit kemudian, kami tiba rumah penduduk tempat menginap malam itu. Suasana desa sangat gelap. Nyaris tidak ada cahaya lampu selain lampu teplok di dalam rumah-rumah penduduk. Wajar kalau kaki kami beberapa kali tersandung bebatuan yang cukup banyak di desa itu. Rasa lelah yang sudah pada puncaknya akhirnya  bisa kami rehatkan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN