Bara Susanto
Bara Susanto

Indonesian Lovolog and Sexual Intelligence (SI) Expert

Selanjutnya

Tutup

Wanita

Kajian tentang Kampanye 16HAKTP

29 November 2017   08:52 Diperbarui: 29 November 2017   09:22 418 0 0
Kajian tentang Kampanye 16HAKTP
Sumber: www.kisara.or.id

Pada Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan ini, saya Bara Susanto, penulis buku Sexual Intelligence -- Basic for Relationship Goals ingin memberikan kajian berdasarkan riset saya selama 9 tahun tentang  "Pengaruh Perilaku Seks, Seksual dan Seksualitas Dalam Pencapaian Semua Tujuan Hidup Manusia".

Tentang riset klik disini| Download riset Bara Susanto disini

Dalam hal kekerasan terhadap perempuan, saya lebih fokus untuk membicarakan tindakan prefentif atau pencegahan. Bahwa berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan ternyata sangat-sangat  memungkinkan untuk dihindari sejak awal. Tidak hanya bagi wanita sebagai korban, tetapi juga bagi pria atau sesama wanita sebagai pelakunya. Sehingga kekerasan itu sungguh tidak perlu terjadi, atau mungkin bisa dihindari sebelum terjadi. Karena ternyata ada potensi kekerasan yang bisa perkirakan sejak awal.

Apa mungkin? Tentu saja sangat memungkinkan.

Maaf... jika saya mencermati dengan kaca mata yang berbeda. Bukan karena saya adalah seorang pria. Namun itu merupakan salah satu kesimpulan dalam riset saya. Bahwa berbagai bentuk kekerasan adalah "akibat" yang harus dipahami "sebab" awalnya.

Lalu apa sebab awalnya?

Potensi terbesar terjadinya kekerasan seksual selalu berada pada area kebersamaan yang intim, atau setidaknya antara korban dan pelaku telah saling mengenal. Inilah sebab yang paling mendasar. Karena hingga saat ini kita (pria, wanita atau yang merasa dirinya berbeda) belum memiliki ilmu tentang kebersamaan yang intim atau ilmu tentang love and relationship. Sebagai panduan yang memberikan batasan, arah dan tujuan yang jelas dari hubungan kebersamaan (baik intim maupun tidak).

Sembilan tahun merupakan waktu yang cukup panjang bagi saya untuk bisa memahami sebab-akibat dari berbagai kejadian dalam kebersamaan untuk kemudian membuat solusi yang tepat dari permasalahan ini. Bahkan hingga kini pun belum ada yang mempublikasikannya. Sehingga kita selalu saja heboh dan baru tertindak ketika sudah ada kejadian.

Mengapa kita tidak membuat solusi prefentif sebagai tindakan awal yang jauh lebih bijaksana dari pada tindakan pasca kejadian? Hingga akhirnya, saya akan lebih banyak mengambil bagian pada "pencegahan" ini.

Solusi itu kemudian saya publikasikan sebagai LOVOLOGY dan Sexual Intelligence (SI). Lovologyadalah ilmu yang paling tepat untuk mempelajari tentang Love And Relationship Goals Management.Sedangkan Sexual Intelligence (SI) adalah kecerdasan yang paling sesuai untuk membentuk pola perilaku seksual dalam berbagai aktivitas dalam kebersamaan.

Sexual Intelligence (SI) inilah yang kemudian menjadi sebuah kesadaran baru setiap manusia yang ditakdirkan untuk hidup berpasang-pasangan. Bahwa setiap fase kebersamaan (ada 4 fase) harus dijalani dengan batasan, arah dan tujuan yang jelas. Dan saya sepakat, jika kekerasan seksual pada perempuan memang sudah melewati batasan, arah dan tujuan dari kebersamaan.  

Sekarang pilihannya ada ditangan kita bersama. Mau dilawan ketika telah ada korban atau dicegah sehingga tidak perlu ada korban kekerasan.


Semoga bermanfaat