Politik

Menyandingkan AHY dengan Justin Trudeau

14 Januari 2018   01:17 Diperbarui: 14 Januari 2018   01:28 656 1 1
Menyandingkan AHY dengan Justin Trudeau
whatsapp-image-2018-01-14-at-01-02-28-5a5a4ba9cf01b42e98402172.jpeg

Sepanjang tahun 2017,  media internasional cukup sering menyoroti jejak PM Kanada, Justin Trudeau. Ia disorot terkait kebijakannya dalam menerima pengungsi atau korban perang. Pada pidatonya, ia mengatakan akan menyambut dengan hangat. Tak pelak kemudian langkahnya banyak diapresiasi oleh masyarakat internasional.

Kemudian, di dalam negeri ada Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Namanya santer diberitakan akhir-akhir ini. Pasca kalah di Pilkada DKI lalu, namanya terus meroket diiringi dengan berbagai survey yang mengaitkan dirinya sebagai capres dan cawapres potensial.

Kedua nama ini tentu tak bisa dilepaskan dari rekam jejaknya selama ini. Muda, tampan, dan bergelimang prestasi. Itulah kemiripan keduanya. Untuk meraih hal tersebut tentu diiringi proses yang tidak mudah.  Keduanya terbukti mampu menjalani proses dengan baik dan tumbuh bersama proses itu sendiri.  

Pertama, mari kita telaah AHY. Lahir di Bandung, 10 Agustus 1978 silam,  ia merupakan putra sulung Presiden Keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Sebelum terjun ke politik, AHY lebih dulu mengenyam karir militer. Sebagai perwira TNI ia mendulang sejumlah prestasi yang membanggakan ia dan bangsa Indonesia.

Ia pernah bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian Kontingen Garuda XXIII-A yang dikirim ke Lebanon. Kemudian di tahun 2008, Agus Yudhoyono kemudian ditunjuk sebagai anggota dari tim yang bertugas mendirikan Universitas Pertahanan. Karena konsentrasi dalam pembentukan universitas tersebut, Agus kemudian dipindahkan ke Kementerian Pertahanan dan diberi jabatan sebagai Kepala Seksi Amerika di Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan.

Prestasinya yang cemerlang membuat ia terpilih sebagai peserta dari The Young Future Defence Leader Workshop dari situ Agus Yudhoyono kemudian kembali ke Amerika dan mengikuti pendidikan Sekolah Lanjutan Perwira di Fort Benning, Amerika Serikat dan sekali lagi ia menjadi lulusan terbaik dari sekolah tersebut dan mendapat banyak penghargaan dari sana.

Kembali ke Indonesia ia kemudian ditugaskan sebagai Kepala Seksi 2 Operasi di Satuan elit Kostrad, Brigade Infanteri Lintas Udara 17. Ia bertugas untuk melakukan manajemen operasi dan latihandi Kostrad. Tahun 2014, Agus Yudhoyono kemudian kembali mengikuti pendidikan militer di sekolah komando Command and General Staff College (CGSC) di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat yang pernah diikuti oleh ayahnya Susilo Bambang Yudhoyono.

Pendidikan di sekolah komando tersebut ia selesaikan dalam jangka waktu satu tahun dan berhasil meraih ipk sempurna 4.0 dan lulus di bulan Juni 2015. Disamping itu ia juga berhasil meraih IPK 4.0 di George Herbert Walker School di Webster University dalam program master di bidang Leadership and Management dan kembali ke indonesia ia kemudian langsung dipromosikan sebagai Danyonif Mekanis 203/Arya Kemuning di bawah jajaran Kodam Jaya.  

Otaknya yang cerdas membuat ia kemudian melanjutkan pendidikan masternya di Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University dan lulus sebagai Master of Science in Strategic Studies di tahun 2005 dengan predikat memuaskan.

Kemudian mari kita lihat nama kedua, yakni Justin Trudeau. Justin lahir di Ottawa, Kanada, 25 Desember 1971 silam. Dia adalah putra sulung Pierre Elliot Trudeau, Perdana Menteri ke 15 yang menjabat hingga 16 tahun.

Melihat rekam jejaknya, Justin tak lantas menjadi Perdana Menteri. Bahkan, pekerjaannya sebelum terjun ke politik adalah dari berbagai macam-macam pekerjaan. Setelah menamatkan studi di McGill University pada 1994, ia mengambil beberapa pekerjaan yang kiranya sangat jauh dari hingar-bingar politik, yakni penjaga klub malam, instruktur arung jeram, penyair radio, dan guru matematika.

Meski pekerjaannya terdengar aneh bagi sebagian orang, namun potensi untuk menjadi pemimpin sudah terlihat sedari kecil. Kala itu, beberapa bulan setelah kelahirannya, Presiden Amerika, Richard Nixon bersama Ayah Justin sedang makan malam resmi. Dikutip oleh BBC news saat itu, ia mengatakan, "Saya ingin bersulang untuk Perdana Menteri masa depan Kanada, Justin Pierre Trudeu."

Ucapan Nixon ternyata manjur, setelah bertahun-tahun memagari diri dari arena politik, pada 2006 ia memutuskan untuk memimpin tugas Partai Liberal untuk memperbarui kaum muda.

Membawa pesan-pesan "real change" dalam kampanyenya, Justin terbukti mampu menarih simpati publik dan mengalahkan Stephen Harper yang telah menjabat sebagai perdana menteri sejak 2006. Pada bulan Oktober 2015, Partai Liberal memenangkan mayoritas di Parlemen dengan 184 kursi, yang tercatat sebagai kenaikan terbesar dalam sejarah negara tersebut.

Dengan kemenangannya meraih kursi Perdana Menteri pada usia 43 tahun, Justin Trudeau adalah orang termuda kedua setelah Joe Clark yang dilantik pada usia 40 tahun.

Karir Justin terus meroket dan berhasil menarik simpati publik. Diberkahi dengan paras yang memikat, ia kemudian kerap disebut dalam barisan pemimpin tampan di dunia. Netizen juga terus membanjiri lini masa media sosial merespon soal ketampanannya.

Menyandingkan AHY dengan Justin Trudeau tentu sah-saja. Keduanya sama-sama tidak memiliki basic politisi. Namun, dengan seiring berjalannya waktu, kecakapan dan modal usia muda membuat keduanya cepat beradaptasi dan mendapat apresiasi yang luas. Yang membedakannya mungkin jabatan di pemerintah. Justin punya payung dan jabatan. AHY masih berjuang di luar posisi itu. Namun, ia lantas tak berhenti begitu saja. ia tetap bersafari ke daerah-daerah dan belajar dari para tokoh nasional. 

Jika Trudeau jadi PM di usia 44 tahun, bahkan tak mungkin AHY bisa menyamainya pada usia serupa (saat ini usia AHY 39). Kita tunggu saja