Mohon tunggu...
Banyu Wijaya
Banyu Wijaya Mohon Tunggu...
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

#nusantaraindonesiatrulyuniversa

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Buku "How To" Pangan, Pertanian, dan Perkebunan

12 November 2012   09:17 Diperbarui: 24 Juni 2015   21:34 275 0 0 Mohon Tunggu...

Untung Berlipat dari Bisnis Buah Naga Unggul Buah naga atau yang juga sering dikenal dengan nama Dragon Fruit atau Pitaya, merupakan buah dari tanaman kaktus asal Meksiko yang kini namanya sedang naik daun di Indonesia dan seluruh dunia sebagai komoditas pertanian unggulan. Tanaman yang eksotik dan memiliki buah yang unik berbentuk bulat lonjong, kulitnya berwarna merah atau kuning mengilap danmemiliki sirip, rasanya manis lezat membuat buah naga memiliki daya tarik dan banyak diminati kalangan. Selain itu, buah naga juga memiliki banyak khasiat yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan. Permintaan buah naga di Indonesia terbilang tinggi.Hal ini ditandai dengan masih mahalnya harga buah naga di pasaran. Saat ini, produksi buah naga dalam negeri masih belum mampu memenuhi permintaan pasar domestik sehingga masih harus mengimpor dari negara lain. Buah naga banyak beredar di pasaran, terjadi hanya pada musim panen yang umumnya pada bulan November sampai April. Di pasar internasional permintaan buah naga meningkat terus dari tahun ke tahun. Eropa, AS, dan negara-negara Asia adalah pasar potensial komoditas buah naga. (dok. kutukutubuku) Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan pertanian buah naga karena memiliki iklim tropis yang mendukung untuk pertumbuhan tanaman buah naga. Selain itu, Indonesia juga memiliki lahan sangat luas yang belum termanfaatkan dengan baik dan sumber daya manusia yang melimpah. Tanaman buah naga memiliki kemampuan adaptasi yang cukup tinggi dan memiliki daya tahan cukup bagus terhadap serangan hama dan penyakit. Sehingga tanaman buah naga dapat dikembangkan di banyak areal baik dataran tinggi maupun daerah pantai, lahan sempit seperti di perkotaan atau lahan kritis yang kurang subur. Tanaman ini juga dapat tumbuh dengan baik hanya dengan menggunakan pemupukan secara organik atau kompos. Selain menghasilkan buah komersil, tanaman ini juga memiliki penampilan yang cantik sehingga dapat dijadikan tanaman hias memperindah halaman rumah, ruas-ruas jalan, dan taman. Buku ini mengupas tuntas dari aspek pemasaran, teknik budidaya, aspek ekonomis hingga bagaimana cara mengolah buah naga menjadi produk olahan siap saji yang bernilai komersil. Semoga kehadiran buku ini menjadi solusi bagi Anda yang berminat untuk berinvestasi. Selamat mencoba dan membuktikan! Penulis: Emil S. Penerbit: Andi Publisher, Yogyakarta Edisi: Agustus 2011 Mengolah Singkong Menjadi Tepung Mocaf Mie, Roti, Biskuit hanyalah beberapa produk yang menggunakan bahan baku tepung terigu. Seiring perkembangan industri makanan berbahan baku tepung terigu di Indonesia, maka permintaan bahan baku tepung terigu ikut meningkat. Kebutuhan untuk konsumen rumah tangga juga tidak kalah banyak. (dok:  bukukita) Sayangnya Indonesia bukanlah penghasil komoditas gandum-bahan baku tepung terigu hal ini terkait dengan iklim Indonesia yang kurang mendukung untuk pertanian gandum. Sehingga sebagian besar kebutuhan dalam negeri masih didominasi oleh produk terigu impor. Hingga saat ini, harga tepung terigu di pasaran juga masih tergolong cukup tinggi. Untuk mengantisipasi krisis terigu dalam negeri, perlu adaya upaya mencari solusi alternatif untuk memenuhi permintaan produk tepung terigu yang terus meningkat, salah satunya adalah menciptakan produk substitusi. Hal ini bisa dilakukan dengan mengolah singkong menjadi tepung mocaf. Tepung mocaf dapat dijadikan produk alternatif pengganti tepung terigu. Di Indonesia produksi singkong sebagai bahan bakunya cukup tersedia. Sehingga tidak bergantung dengan impor. Di buku ini juga disertai dengan resep olahan yang telah diuji coba dengan menggunakan tepung mocaf. Penulis: Emil Salim Penerbit: Andi Publisher, Yogyakarta Edisi: Agustus 2011 Dari Limbah Menjadi Rupiah Masih banyak industri baik pangan maupun non-pangan yang membuang limbah ke lingkungan sehingga menyebabkan pencemaran yang dapat mengganggu pemukiman atau ekologi habitat setempat. Padahal limbah industri pangan masih dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomis menjadi nata. Nata merupakan bahan pangan berupa jeli yang biasa dijadikan sabagai campuran dalam produk minuman instan. Limbah cair pada industri tahu dan tempe dapat diolah menjadi produk nata de soya, limbah cair tapioka dapat diolah menjadi nata de cassava, limbah air kelapa dapat diolah menjadi nata de coco. Selain bermanfaat mengatasi pencemaran lingkungan, upaya pengolahan limbah tersebut telah memberikan banyak manfaat secara ekonomis. (dok. bukukita) Buku ini mengupas tuntas bisnis nata de coco, nata de cassava, dan nata de soya dari aspek pasar, penanganan bahan baku, teknik produksi, analisis ekonomi dan aneka produk olahan. Buku ini sangat tepat menjadi panduan bagi seorang calon entrepreneur dengan modal yang pas-pasan. Teknologi yang digunakan juga sederhana. Selain itu bahan bakunya mudah didapat dan murah. Selamat mencoba, anda bisa dan dari limbah pun bisa jadi rupiah! Penulis: Emil Salim Penerbit: Andi Publisher, Yogyakarta Edisi: Agustus 2011

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x