Mohon tunggu...
Bangun Sayekti
Bangun Sayekti Mohon Tunggu... Apoteker - Pensiunan Pegawai Negeri Sipil

Lahir di Metro Lampung. Pendidikan terakhir, lulus Sarjana dan Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Apa Salah Binatang Ini (1)

7 Juni 2021   06:50 Diperbarui: 7 Juni 2021   07:13 259
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Padahal bila mau mengaji Al Qur'annya dengan baik, dan benar semua yang dipertentangkan atau dipermasalahkan sudah ada penjelasan didalamnya. Karena memang disitulah keunikan Al Qur'an itu, pernyataan satu ayat dalam surat tertentu ada penjelasan, dan atau solusinya dalam ayat yang terdapat dalam surat yang sama, atau dalam surat yang berbeda.

Juga hendaklah dihindari, jangan sampai baru menemukan satu pernyataan dalam suatu ayat langsung digunakan sebagai topik bahasan, dan disampaikan kepada umat. Tanpa check and recheck terlebih dahulu dengan ayat - ayat sejenis, atau ayat -- ayat senada dengan surat lainnya dalam Al Qur'an.

Hal dimaksud sangat perlu dilakukan agar bahasan yang disampaikan tidak menjadi masalah, membingungkan, dan menjerumuskan umat ke lembah sesat. Sebagai contoh nyata. Saat akan menunaikan ibadah haji, calon jama'ah diwajibkan vaksinasi meningitis menuai pro, dan kontra dalam pelaksanaannya karena bahan pembuat vaksin ada unsur babi. Demikian juga pemberian vaksin MR untuk mencegah meluasnya virus Rubella menuai pro, dan kontra dalam pelaksanaannya di masyarakat.

Oleh karena itu mestinya orang, atau lebih - lebih sebagai pemuka agama apapun sebutannya, dan yang sudah terlanjur dipercaya bahwa setiap apa yang dikatakan adalah benar adanya, hendaklah dapat berlaku bijak dalam menyampaikan suatu kebenaran. Dengan niat memperbaiki agar umat tidak terbelenggu, dengan pemahaman yang keliru atau bahkan bertolak belakang dengan perintah, dan petunjuk Allah. Mengingat kebiasaan tersebut sudah terjadi sejak lama, dan telah membudaya di masyarakat.

Memang tidak mudah, untuk merubah kebiasaan yang sudah lama berkembang di masyarakat. Memerlukan waktu yang tidak sebentar, membutuhkan kesabaran, dan berulang. Layaknya Nabi Muhammad SAW. dalam mensyi'arkan agama Islam pada mulanya juga mengalami hambatan, dan rintangan yang tidak ringan, dan bahkan bertaruh nyawa.

Karena kebenaran yang beliau sampaikan dianggapnya sebagai penghalang atas kebiasaan buruk yang telah lama berkembang, dan membudaya di masyarakat saat itu. Alangkah nistanya sebagai penganut Islam bila perintah, dan petunjuk Allah yang disi'arkan Nabi dengan bertaruh nyawa, pelaksanaannya hanya berhenti sampai dibaca an sich ( saja) dengan masih mengharap pahala, dan surga sebagai imbalannya. 

Surat Al Baqarah ayat 173. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut ( nama ) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 

Mari dirasakan melalui rasa yang merasakan ( Jawa = pangroso roso ), apa yang dinyatakan dalam ayat tersebut. Apakah pemahaman kelompok yang bersikukuh mengatakan bahwa memakan daging babi dosa, mengandung kebenaran, atau tidak? Allah saja menyatakan, tidak ada dosa bila terpaksa harus memakannya. Kok manusia yang nota bene hanya merupakan makhluk ciptaan-Nya, menyatakan hal yang bertolak belakang dengan kehendak Allah Swt. Tuhan Yang Maha Pencipta. Bukankah kebiasaan seperti itu mengindikasikan, bahwa orang tersebut menganggap dirinya lebih kuasa dari Allah Swt. Tuhan Yang Maha Kuasa.

Itu merupakan gambaran nyata, bahwa banyak orang yang belum dapat berbuat sesuai dengan perintah, dan petunjuk-Nya? Sehingga pendapat yang didengung - dengungkan justru bertentangan, atau bahkan bertolak belakang dengan firman Allah. Disatu sisi orang mengatakan memakan daging babi berdosa, tetapi disisi lain Allah menyatakan tidak ada dosa bila seseorang terpaksa harus memakan daging babi.

Padahal setiap hari ( 24 jam ) umat Islam diwajibkan sembahyang, atau melaksanakan shalat 5 waktu untuk melatih dirinya. Dan sudah terbiasa menyatakan Allah Maha Besar, Allah Maha Agung, Allah Maha Tinggi, ...... Allah Maha Kuasa. Tetapi dalam prakteknya, tanpa disadari manusia masih merasa dirinya lebih kuasa dari Allah Swt. Tuhan Yang Maha Kuasa.

Akankah diteruskan pemahaman yang mendasarkan atas kata orang? Atau umat Islam akan hijrah mengikuti perintah, dan petunjuk Allah Swt. Tuhan Yang Maha Kuasa? Mudah - mudahan dari penjelasan ini, dapat menggugah semangat umat Islam untuk mempelajari atau mengaji, dan menggali lebih dalam lagi makna batiniah yang terkandung dalam ayat - ayat Allah, sekaligus meluruskan hal - hal yang belum tepat. Sehingga ke depan setiap perbuatannya benar - benar atas dasar perintah, dan petunjuk Allah Swt. Tuhan Yang Maha Kuasa, dan bukan atas dasar kata orang saja, apapun predikat orang dimaksud. Untuk itu mari dikaji bersama surat berikut dengan jujur, dan menurunkan atau mengesampingkan gengsi, dan perasaan merasa paling benar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun