Bang Nasr
Bang Nasr

Bangnasr. Masih belajar pada kehidupan, dan memungut hikmah yang berserakan. Mantan TKI. Ikut kompasiana ingin 'silaturahim' dengan sesama.

Selanjutnya

Tutup

Politik featured

Berlomba Mengamankan Ketahanan Pangan

1 Mei 2010   19:07 Diperbarui: 27 Februari 2017   20:01 2035 3 0

[caption id="attachment_131110" align="aligncenter" width="300" caption="Persawahan Subur (https://subadra.files.wordpress.com/2008/02/ceking1.jpg)"][/caption] Saya pernah menulis bahwa Cina untuk mengamankan ketahanan pangan negeri dengan penduduk 1 miliar lebih itu telah menginvestasikan di sepanjang Afrika Timur dengan pantai lebih dari 2000 km. Cina sangat cerdas membaca situasi perubahan iklim dan kekurangan lahan dengan ekspansi ke luar negeri. Begitu juga negara-negara kaya di kawasan Teluk dan Afrika Utara sudah mulai mengikuti jejak Cina dalam mengamankan ketahanan pangan mereka. Libya, misalnya sudah mulai melakukan investasi ketahanan pangan di luar negeri, terutama gandum, kendati harga gandum dunia cenderung turun. Staf Ahli Kementerian Pertanian Libya, Ahmed Urhumah menegaskan bahwa Libya menginvestasikan ketahanan pangan negara tersebut, terutama di negara Arab dan Eropa Timur. Untuk itu Libya telah melakukan investasi di sebagian negara Afrika, diantaranya menyewa lahan pertanian seluas 100.000 ha di Mali dan juga menjajaki kesepakatan yang sama di Sudan, dan tahun telah melakukan investasi di Ukrania dengan menyewa lahan seluas 100.000 ha. Sebelum Libya, Arab Saudi dan UAE juga sudah melakukan lebih dahulu pengamanan ketahanan negara tersebut dan mengurangi ekonomi berbasis import. Menteri Pertanian Arab Saudi Fahd Abd. Rahman Balghanem mengatakan dalam kunjungan ke Aljaziar (28 April 2010) bahwa sebagian sektor swasta Arab Saudi yang bergerak di bidang pertanian telah menginvestasikan di Sudan dan Aljaziar. Saudi sudah melakukan rencana strategis untuk mengamankan ketahanan pangannya di negara-negara subur di luar Saudi seperti di Ukrania, Ethiopia, Pakistan dan Thailand (kenapa gak terus ke Indonesia... ???). Selain itu, Arab Saudi juga sudah membangun beberapa proyek raksasa yang masing-masing luasnya lebih dari 100.000 faddan (ha) atau 10 kali lipat luas pulau Manhattan di New York yang nantinya hasilnya akan dipasok ke Arab Saudi. Pihak Menteri Pertanian Arab Saudi mengharapkan salah satu proyek tersebut berada di Aljazair. Sebelumnya Aljazair tidak menjadi perhatian para investor Arab karena negara tersebut belum membuka peluang investasi di sektor pertanian. Negara Arab lain yang sudah melakukan hal yang sama adalah Uni Arab Emirat (UAE). UAE sudah merambah ke Kazakhstan dan Sudan sebagai pengamanan ketahanan pangan negara kaya minyak di Teluk Persia tersebut. Sudan merupakan kiblat investasi negara Arab kaya karena negara tersebut membuka peluang investasi yang mencapai miliran dollar di sektor pertanian, selain itu Sudan juga merupakan salah satu negara Arab terluas kawasannya dengan kawasan pertanian seluas 85.000.000 ha, dan baru tereksploitasi  sekitar 15 % saja. Sudan juga sudah menandatangani kerjasama di bidang  pertanian dengan beberapa negara Arab lain antara lain Kuwait dan Jordania untuk menanam gandum dan jagung, begitu juga dengan Mesir untuk menanam pertanian di kawasan Timur dan Selatan Sudan. Sudan yang tandus menarik perhatian para investor negara Arab kaya di sektor pertanian, kenapa Indonesia tidak. Apakah karena di Indonesia banyak 'hantu'nya berkeliaran di setiap perizinan investasi sehingga para investor kaya Arab tidak tertarik investasi di sektor pertanian di Indonesia. Wallahu A'lam. salam, peace, syaloom..