Mohon tunggu...
Abdullah Muzi Marpaung
Abdullah Muzi Marpaung Mohon Tunggu... Seorang pejalan kaki

sastra dan sains

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Teh Hijau Mungkin Tak Sehebat yang Diberitakan

29 Oktober 2020   07:05 Diperbarui: 29 Oktober 2020   07:09 18 2 1 Mohon Tunggu...

Secara sederhana, teh hijau adalah daun tanaman Camellia sinensis yang dikeringkan tanpa mengalami proses oksidasi, atau sering disebut juga sebagai fermentasi.Teh jenis ini sudah dikonsumsi di China selama ribuan tahun dan pertama kali diperkenalkan di Jepang pada periode Nara (710-794 M). Konon industri teh di Jepang sudah dimulai sejak tahun 1191.

Belakangan ini industri teh berkembang semakin pesat. Pada tahun 2019 pasar global teh hijau diperkirakan senilai 18,4 miliar dollar Amerika, dan diproyeksikan akan terus meningkat di masa mendatang. Klaim kesehatan, seperti manfaatnya untuk menurunkan berat badan, tampaknya membuat teh hijau kian hari kian populer. Benarkah teh hijau memberikan manfaat kesehatan?

Perlu terlebih dahulu disampaikan bahwa selalu tidak mudah menemukan jawaban atas pertanyaan seperti ini. Ada banyak penelitian ilmiah terkait manfaat teh hijau bagi kesehatan manusia, dan hasilnya tidak selalu sejalan. Perbedaan hasil itu bisa jadi disebabkan oleh perbedaan metode, jumlah sampel, kualitas rancangan penelitian, dan banyak lagi faktor lain. Untuk merangkum dan mengambil kesimpulan atas berbagai hasil penelitian yang tak saling sejalan itu dilakukanlah suatu kajian yang disebut dengan meta-analisis. Berikut ini ringkasan dari berbagai analisis terkait klaim kesehatan teh hijau.

Tidak ada bukti yang kuat bahwa teh hijau membantu mencegah atau mengobati kanker pada manusia. Hubungan antara konsumsi teh hijau dan penurunan risiko kanker perut dan kanker kulit non-melanoma tidak jelas, disebabkan oleh bukti yang tidak konsisten atau tidak memadai.

Ekstrak teh hijau belum terbukti menyebabkan penurunan berat badan yang berarti pada orang dewasa yang kelebihan berat badan (overweight) atau obesitas. Ekstrak teh hijau juga belum terbukti membantu orang mempertahankan berat badan.

Meta-analisis pada tahun 2015 mengungkapkan bahwa konsumsi teh hijau tidak secara signifikan menunjukkan efek anti inflamasi.

Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk melihat manfaat teh hijau untuk menurunkan risiko penyakit jantung dan tekanan darah Akan tetapi, kesimpulan yang kuat tidak dapat diperoleh. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan bukti yang kuat. Sementara itu, meta-analisis tahun 2013 membuktikan bahwa konsumsi teh hijau menurunkan konsentrasi kolesterol total dan LDL dalam darah.

Komponen dalam teh hijau yang paling penting adalah epigalokatekin galat (EGCG). Studi terhadap kemungkinan dampak buruk dari konsumsi teh hijau pada tahun 2018 menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau dalam jumlah harian rendah hingga sedang (setara dengan 90 hingga 300 mg EGCG per hari) dapat dianggap aman, walaupun ada beberapa kasus yang menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau yang berlebihan atau penggunaan suplemen EGCG kadar tinggi dapat menyebabkan toksisitas hati. Satu cangkir minuman teh hijau mengandung sekitar 50 -- 100 mg EGCG. Dengan demikian, konsumsi hingga 3 cangkir minuman teh hijau per hari masih dapat dianggap aman.

Jadi, konsumsi teh hijau mungkin memberikan manfaat, walau tidak sehebat seperti klaim yang diberikan selama ini. Kedua, konsumsi teh hijau dalam jumlah banyak berpotensi memberikan dampak buruk bagi kesehatan.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x