Mohon tunggu...
Band
Band Mohon Tunggu... Don't Forget to Remember

(PPTBG) Pensiunan Penyanyi The Bee Gees

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Final Liga Champions: Pep Guardiola Melawan Bayangannya Sendiri

29 Mei 2021   13:09 Diperbarui: 29 Mei 2021   13:22 93 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Final Liga Champions: Pep Guardiola Melawan Bayangannya Sendiri
Manchester City akan menghadapi Chelsea di final Liga Champions. (AP/Martin Rickett). Sumber: CNN Indonesia

Tentu saja ini Liga Inggris, meskipun banyak pendapat menyiratkan ini sama sekali berbeda. Mancity vs Chelsea adalah salah satu pertandingan Britania Raya yang saban minggu bisa di saksikan. Mungkin ada yang menarik ketika kedua finalis UCL ini menjadi romantisasi dari kancah elit Eropa agar tidak kehilangan kemegahannya. 

Tapi tak bisa dipungkiri bahwa kali ini UCL tidak akan menjadi UCL, ketika Double England ini memindahkan liga premier ke lapangan liga champions. Inilah Liga Champions rasa Premier. Tuan rumah Porto adalah Inggris yang menggelar game ekstra ke-39 Premier League di Estadio do Dragao pada Minggu dini. Dimana kesempatan kali ini lebih tegas bernuansa Inggris dengan pemain asli, empat di City dan lima di Chelsea.

Namun gaya berbola ria bukanlah Ingris.  Ini telah merupa menjadi gaya bermain ala Catalan-Belanda yang telah mengharu-birukan pengusiran gaya Britain Alex Fergusson, oleh seorang Guardiola. 

Transformasi ini terjadi semenjak cibiran Bald Fraudiola mulai berangsur sirna seiring dengan prestasi Mancity. Entah jika Pep gagal meraih juara liga Champions kali ini, apakah Fraudiola akan mengusiknya kembali? 

Namun yang jelas, sepak bola Inggris telah tersaring dari atas ke bawah dalam pengaturan All Guardiola dalam taktis, kultur, bahkan filosofi, yang tidak menyisakan sepakbola gaya Inggris yang bisa teridentifikasi apalagi di elemen aslinya.

Apa yang didapat dari final ini? Mancity dan Chelsea adalah cermin dari benda asli dan bayangannya. Thomas Tuchel adalah "foto kopi" Pep Guardiola. Lihat saja tiga bek mereka yang sama dan penguasaan permainan tengah serupa, adalah satu-kultur dengan versi berbeda. Sensasi Pep adalah kekaguman Tuchel yang telah menjadi bayangannya. 

Dan sekarang bayangan itu bisa saja menerkam mahluk aslinya.  Tapi sayang, dalam tulisan rekaman akhir mereka, bahwa Manchester City telah memenangkan tujuh dari sembilan pertandingan terakhir mereka  dengan 11 gol hanya dalam tiga pertandingannya. Sementara Chelsea mengalami tiga kekalahan dan lima kemenangan tanpa clean sheet. Apakah Chelsea telah melambat di saat yang tidak tepat, sehingga meragukan untuk membuat kemenangan final?

Tak boleh ada toleransi adanya overthinking Guardiola lagi. Taktik yang berjalan akan serupa, pandangan klise bahwa standard City bermain dengan belakang yang tinggi untuk mendekatkan lini guna memperoleh pressure dan ball possession, tetap akan menjadi keuntungan serangan balik Chelsea yang memanfaatkan kerentanan belakang City. 

Namun telah dipercaya pula bahwa Mancity memiliki kalsifikasi teknik rondo yang terbaik. Merangsek saat bola terebut juga keahlian Mancity dan bek berlebih 2v1 atau 3v2 saat diserang, sudah terpola di laga-laga sebelumnya.

Anti striker adalah kekeraskepalaan seorang Pep "Gundul", namun sekaligus penipuan barisan belakang lawan. Penggunaan variasi false nine yang bisa diperankan oleh hampir semua penyerang dan gelandang City adalah keunggulan Guardiola, dibandingkan teori false nine lawas yang hanya bisa dikerjakan oleh satu orang saja, di saat jamannya Francesco Totti dibawah Spalleti atau Christiano Ronaldo dibawah Sir Ferguson.

Mungkin Kevin De Bruyne dan Bernardo Silva akan mengecoh sebagai duo sembilan palsu bergantian, karena Riyad Mahrez di kanan dan Phil Foden sang anak Inggris kesayangan Guardiola akan melayang dari kiri untuk saling bersilangan membuka ruang di depan jala Chelsea. Atau bisa saja Ilkay Gundogan tiba-tiba muncul menerobos dari lini tengah dalam?  Atau si jangkung Rodri menendang langsung dari kejauhan? Entahlah!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN