Mohon tunggu...
Band
Band Mohon Tunggu... Disini duduk menunggu Langganan

Tak punya pilihan, memilih linear lalu sembunyi

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Dua Pasien

16 April 2021   18:48 Diperbarui: 16 April 2021   18:53 133 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dua Pasien
Gambar oleh StockSnap dari Pixabay

Dokter spesialis jantung Rodri menerima pasien dadakan karena sesak napas. Dia memutus praktek regulernya dan berlari menuju emergensi. Seorang lelaki muda terbujur di brankar dengan masker oksigen, tubuhnya naik turun mencari udara sambil memegang dada. Suster memerlihatkan cetakan rekam jantung yang seperti tanda tangan panjang. 

Apakah ini firasat tanda tangan persetujuan sang kematian? Dokter Rodri membaca cepat dan mengisyaratkan kondisi jantung dengan kerusakan yang tidak biasa.  Sebagai ahli jantung berpengalaman Rodri seperti menemukan kasus baru yang tak pernah terjadi sebelumnya, bahkan kasus langka yang pernah dikenalnya tak juga masuk dalam hitungan.

Dia menurunkan stetoskop ke dada kiri penderita menyimak ketukan yang berirama ngaco. Mata cerdasnya menatap pasien lunglai di hadapannya, seakan berusaha membaca arah jalan keempat pembuluh darahnya. Sekiranya pemuda ini bisa bertahan, dia menggereng.

"CT Scan, ya suster!" Dokter Rodri menginstruksi suster kepala, sehabis penyuntikan cedocard. Dan suster mengirim pasien ke ruang scanning.

Dokter kembali ke ruang praktek yang kebetulan jadwal bpjs, otomatis pasien mbludak karena banyak pasien tua dan papa. Dia tak tebang pilih dalam melayani pesakitan, makanya semua rakyat derita merindukannya. Tak berapa lama suster emergensi masuk dan menyerahkan hasil CT, dokter Rodri pun seksama meneliti dan memutuskan pria derita itu rawat inap untuk observasi. 

Tidak sebagaimana biasanya Rodri tampak masygul dan kembali memeriksa klise CT Scan di mejanya. Diamatinya hanya terdapat arteri tunggal yang mengular di permukaan jantung, sebagai satu satunya pembuluh darah besar yang menggerakkan degup jantung.  Bagaimana bisa kehidupan? Kepala Rodri seperti dipenuhi 'magic'. Namun dia menyelakan hal ini dan meneruskan pelayanan kesehatan bpjs yang rata-rata penikmatnya tidak pernah naik kelas.

Dokter Rodri mengakhiri praktek hingga akhir pasien, dia melangkahkan kaki keluar kamar prakteknya menuju sal perawatan inap untuk memeriksa pasien barunya. Masih terlihat muda nian pemuda ini tertidur dengan mesin perekam jantung dimana kurva detak termonitor loncat kesana dan kemari, namun kini keadaan relatif lebih tenang dengan infus remedy yang tertancap di nadi tangannya. Dokter Rodri meletakan punggung tangannya di kening pemuda dan merasakan demam. Pemuda membuka mata.

"Okei.. apa dirasa?" Rodri bertanya.

"Saya merasa kehilangan dokter..." orang muda itu memutus perkataannya serta merta monitor jantung bergerak makin tidak karuan.

"Okei.. tenanglah. Besok kita bicarakan lagi" Rodri menyentuh bahunya dan pesakitan itu kembali tenang. Dokter Rodri menunggu sejenak sebelum dia menghilang untuk kembali pulang.

Senja mulai merebak, intensitas matahari menyurut menuju penyerahan diri, makin ke bawah berniat menyentuh laut. Rodri memacu mobilnya di jalan pulang yang menyisir pantai yang memanjang paralel, mematikan pendingin dan membuka jendela kaca mobilnya. Angin menerpakan kesejukan sore, Rodri mengurangi laju untuk bisa menghirup udara laut. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN