Mohon tunggu...
Band
Band Mohon Tunggu... seniman separuh

dari atas tangki amonia melihat kebawah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Selamat Jalan Purnama

17 September 2019   05:52 Diperbarui: 17 September 2019   17:51 0 11 6 Mohon Tunggu...
Cerpen | Selamat Jalan Purnama
Pixabay.com

Ketika temans bertanya siapa cewek pertama yang ku taksir. Ku jawab Purnama. Wkwkwk... mereka tertawa medsos. Aku bodo amat. Purnama itu teramat kurus, pipinya cekung matanya belok, mulutnya lebar, kulitnya sawo matang engga putih kinyis kinyis. 

Makanya temans body shaming, karena tolok ukur kebanyakan kecantikan adalah paras dan bentuk bodi. Itu jadul, abg banget, melihat kecantikan seperti bioskop. Aku bilang, kita sudah kuliahan, mosok masih ndak bergerak, disitu terus dalam memandang arti kecantikan.

Tapi embuhlah, aku engga mau berdebat tentang hal yang terlalu luas dan filosofis, argumennya bakal engga karu karuan.  Pastinya aku emang kesengsem Purnama, perempuan eksotik pertama yang hadir di hati dan benak setiap malam.  Tapi yaitulah, aku merasa piawai menilai dan berdebat soal sosok perempuan, namun jeblok dalam aplikasinya. 

Perangaiku langsung kaku apabila bersua, mulutku seperti terkunci engga sesuai amat dengan teori perempuan yang kerap kubeber dalam diskusi kongkow. Mungkin terperangkap ke dalam pesona linear saja, sehingga naluri konversasi yang menarik menjadi macet. 

Kata-kata yang keluar bibirku begitu standar seperti, kuliah apa, cuaca, alamat, dan selanjutnya lebih banyak diem. Jadinya engga nampak bahwa aku ini lelaki yang plus apalagi plus plus sebagai pengisi ocehan yang bisa membuat dia penasaran. Norak deh diriku.

Perkenalan perdana dengan Purnama kuingat saat kami jalan berjejer, saat selesai kuliah. Aku yang banyak diem tiba tiba saja dikenalkan oleh temanku yang juga temannya.

"Ada yang mo kenalan Pur". "Sapa?". " Sebelah gue"

Purnama menatapku , dia ketawa dan aku mengulurkan lengan. "Purnama". "Bogi". "Sapa? Bagio?" dia ketawa renyah. "Bogi!" jelas temanku kencang. "Ooh..". "Suara loh kurang keras, bro" temenku protes. Aku cuma tersipu gugup. 

Seterusnya kami berbincang ria sepanjang jalan, cuma aku aja yang banyak diem. Hanya mencuri paras Purnama sesekali, tanpa partisipasi melarut di obrolan riuh. Introver begitulah, kadang ku menyalahkan diri.

Melanjut hari hari sesudahnya, aku kembali berceloteh soal Purnama  sebagai perempuan yang meluruh hati kepada teman satu pondok. Berhayal melontarkan keindahan seorang Purnama, perempuan yang memang tidak cantik an sich, tapi  memiliki tampilan artistik, membuatku mabuk kepayang sendiri. 

Jago kandang dan utopia, tak menghalangi mimpiku tentang Purnama sebagai pacar diluar kenyataan. Aku lebih major memaafkan inferioritas diriku ketimbang melepaskan kenikmatan akan ikatan imajiner dengan Purnama yang chic.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2