Mohon tunggu...
Bambang Setyawan
Bambang Setyawan Mohon Tunggu... Buruh - Bekerja sebagai buruh serabutan yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Mengejar Adipura ala Warga Salatiga

11 Maret 2016   17:24 Diperbarui: 11 Maret 2016   20:36 566
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Salah satu sudut Kota Salatiga di pagi hari, bersih & rapi (foto: dokumentasi pribadi)"][/caption]Kendati tidak ada yang memberikan komando secara khusus, warga Kota Salatiga belakangan makin getol berbenah. Diduga, mereka tengah mengejar Adipura tahun 2016. Maklum, selama ini belum pernah menerima penghargaan bergengsi tentang kebersihan dan lingkungan tersebut.

Jumat (11/3) puluhan ibu-ibu muda sembari menggendong anaknya terlihat memasuki lapangan Pancasila. Dengan menenteng kantong plastik ukuran besar, mereka langsung memunguti berbagai sampah yang tersebar di atas rumput. Satu per satu sampah dipungut dan dimasukkan dalam kantong. Mereka adalah ibu-ibu muda Salatiga yang tiap hari Jumat pagi menggelar Operasi Semut, suatu bentuk kegiatan positif untuk mendidik masyarakat agar tak membuang sampah sembarangan.

[caption caption="Operasi Semut yang digelar ibu-ibu muda di Salatiga (foto: dokumentasi pribadi)"]

[/caption]Operasi Semut yang sudah berjalan berbulan-bulan ini, nyaris miskin publikasi. Sepanjang yang saya ingat, belum pernah satu media cetak pun yang menulisnya. Padahal, aktivitas mereka jelas-jelas mampu memberikan edukasi terhadap masyarakat yang selama ini abai terhadap lingkungan. Salah satu wartawan media cetak terbesar di Jawa Tengah yang bertugas di Kota Salatiga, saat saya konfirmasi, ternyata tidak mengenal keberadaan ibu-ibu pegiat Operasi Semut. Aneh!

Di tempat lain, puluhan pegawai Kantor PT Pos Indonesia Cabang Salatiga dengan seragam khasnya, yakni kaos berwarga oranye, terlihat sibuk kerja bakti membersihkan selokan di kawasan Blotongan, sekitar 3 kilometer dari kantor mereka. Kegiatan olahraga Jumat pagi, sepertinya sengaja dialihkan untuk gotong-royong bersih-bersih di berbagai lingkungan. “Saya mengapresiasi kegiatan para karyawan PT Pos ini,” kata Juwardi  warga Blotongan.

[caption caption="Karyawan kantor PT Pos tengah kerja bakti (foto: dokumentasi pribadi)"]

[/caption]Menurut Juwardi, kehadiran para karyawan PT Pos yang notabene bukan merupakan warga Blotongan, belakangan mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat setempat untuk menjaga kebersihan lingkungannya masing-masing. “Yang bukan warga Blotongan saja mau bersih-bersih, masak kita yang warga sini malas-malasan. Malu dong,” ungkapnya.

Warga Kabupaten Semarang Rasa Salatiga

Di luar dua kelompok yang rajin bersih-bersih itu, di Salatiga terdapat komunitas Salatiga Peduli Lingkungan (SPL) yang digagas anak-anak muda. Mereka secara rutin, setiap hari Minggu berkumpul untuk membersihkan beragam sampah yang ada di tempat-tempat umum. Dengan peralatan seadanya, mereka konsisten menjaga lingkungan tanpa imbalan apa pun. “Pinginnya Kota Salatiga biar dapat Adipura, tetapi semisal tak dapat pun, minimal kota ini jadi bersih,” kata salah satu anggota SPL.

[caption caption="Aktivis Salatiga Peduli Lingkungan tengah memunguti sampah (foto: dokumentasi pribadi)"]

[/caption]Apa yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat ini, belakangan juga direspons oleh pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga. Apa lagi tahun 2015 lalu kota tersebut memperoleh sertifikat Adipura, tak pelak, menjelang penilaian Adipura tahun 2016, segenap pemangku kepentingan semakin bernafsu untuk mengejar Adipura yang bukan hanya sekedar sertifikat. Sebulan terakhir, beberapa sudut kota terlihat dibangun taman-taman mini. Demikian pula di sepanjang jalur utama Jalan Jendral Sudirman, ratusan bibit pohon peneduh sudah mulai ditanam.

Kota Salatiga yang jumlah penduduknya berkisar 190 ribu jiwa memang unik. Posisinya yang berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Semarang membuatnya berbeda. Di siang hari, puluhan ribu warga Kabupaten Semarang melakukan aktivitas rutinnya di Salatiga. Baik sebagai pedagang, pegawai hingga pelajar. Akibatnya, di siang hari jumlah penduduk Salatiga bisa meningkat menjadi 250-an ribu jiwa.

[caption caption="Alat berat dikerahkan untuk membuat lubang penghijauan di kota (foto: dokumentasi pribadi)"]

[/caption]Hal ini tentunya bisa dimaklumi, mengingat domisili warga Kabupaten Semarang itu memang berdekatan dengan Kota Salatiga. Setidaknya terdapat 6 kecamatan yang posisinya mengepung Salatiga yakni Tuntang, Pabelan, Bringin, Suruh, Tengaran dan Getasan. Para warga Kabupaten Semarang tersebut terkadang lebih Salatiga dibanding warga asli Salatiga. “Mereka warga Kabupaten Semarang rasa Salatiga,” kata Dwi  (55) yang merupakan warga Sraten, Tuntang, Kabupaten Semarang.

Yang dimaksud dengan istilah warga Kabupaten Semarang rasa Salatiga ini, menurut Dwi, karena kendati status kependudukannya merupakan warga Kabupaten Semarang, karena aktivitas kesehariannya berada di Salatiga, baik logat maupun perilakunya cenderung mirip warga Salatiga. “Termasuk ketika ada kegiatan bersih-bersih, kita juga ikut andil,” jelasnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun