Bambang Setyawan
Bambang Setyawan buruh harian lepas

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Rumah Nenek Duafa di Tuntang ini Perlu Dibedah, tapi...

12 Oktober 2018   12:40 Diperbarui: 12 Oktober 2018   16:02 2187 36 27
Rumah Nenek Duafa di Tuntang ini Perlu Dibedah, tapi...
Dokpri

Muini (85) nenek duafa warga Dusun Karang Tengah RT 3 RW I, Desa Karang Tengah, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang sebenarnya hidup ngenes. Sudah sebatangkara, menempati rumah bobrok, namun menolak rumahnya untuk dibedah. Seperti apa sosoknya, berikut kunjungan saya, Kamis (11/10) sore.

Berawal dari adanya laporan seorang relawan Lintas Komunitas yang memberitahukan keberadaan mbah Muini (demikian biasa disapa), menempati rumah kecil ukuran sekitar 3 X 6 meter yang kondisinya sangat memperihatinkan. Di mana, selain sudah lapuk semua, tanpa kamar dan juga tak dilengkapi fasilitas MCK.

Berdasarkan cerita relawan, mbah Muini bukan berasal dari desa setempat, beliau merupakan pendatang. Karena kondisi kesehatannya terus menurun, untuk makan sehari- hari dirinya hanya berharap pada bantuan warga.  Pendengarannya telah jauh menurun, begitu juga dengan virus kepikunan, sepertinya mulai merasuki tubuhnya. Akibatnya, komunikasi sulit nyambung.

Dokpri
Dokpri
Karena data awalnya saya anggap masih perlu diverifikasi, maka, sore sekitar pk 16.00 saya pun meluncur ke desa Karang Tengah yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Kota Salatiga. Sembari menenteng sembako, tak butuh waktu lama untuk tiba di rumah mbah Muini. Hanya makan waktu sekitar 15 menit, saya sudah berada di ujung gang masuk yang relatif sempit.

Sebelum memasuki rumah mbah Muini, saya sempatkan memperhatikan rumah berbahan papan kayu dan bamboo dibelah (galar) tersebut. Terlihat sana sini penuh lobang akibat lapuk dimakan jaman, sementara di bagian belakang, nampak dindingnya dilapisi plastik kumal. Mungkin untuk menahan terpaan hujan, namun karena cara memasangnya terkesal asal, maka semakin menambah kesan kumuh.

Dokpri
Dokpri
Kendati pintu rumah dlm posisi terbuka, saya tetap mengucapkan salam berulangkali. Ternyata, mbah Muini yang tengah bobok sore tak bereaksi (maklum telinganya sudah tak normal lagi). Untuk itu, saya pun langsung masuk dan membangunkannya. " Kenapa ? Mau memberi uang ? " ujarnya dalam bahasa Jawa saat melihat saya.

Badhalah ! Belum apa- apa malah ditanya soal uang. Kendati komunikasi berulangkali terputus akibat sulit nyambung, namun saya dapat menangkap ceritanya. Mbah Muini merupakan warga asli desa Karang Tengah, dulunya pernah memiliki rumah yang belakangan dijual karena ia memilih tinggal bersama sang suami bernama Yasmin.Hingga suaminya meninggal dunia, dirinya sempat berpindah- pindah, sampai akhirnya kembali ke kampung halamannya.

Mbah Muini tengah bobok sore di peraduannya (foto: dok pri)
Mbah Muini tengah bobok sore di peraduannya (foto: dok pri)
Pilih Uang untuk Jajan

" Suami saya meninggal, saya juga tidak memiliki anak terus sama keponakan- keponakan disuruh pulang ke desa ini. Dulu ikut keponakan yang di sana, terus pindah ke sini," jelasnya.

Untuk makan sehari- hari, mbah Muini mengaku sering dibantu para tetangga atau keponakannya. Sedangkan dapur yang ia pergunakan masih seperti jaman pemerintahan kolonial Belanda, yakni memanfaatkan tungku berbahan bakar kayu. Otomatis, saat sedang memasak, seluruh ruangan rumah terhirup bau asap. Maklum, rumahnya memang terlalu mungil.

Setelah mendengarkan berbagai ceritanya, saya menyodorkan sembako yang saya bawa. Melihat hal tersebut, mbah Muini menolaknya karena masih memiliki sembako pemberian orang. Dirinya lebih memilih uang dari pada sembako, alasannya uang bisa buat jajan. " Enakan duit, bisa buat jajan apa saja," tukasnya.

Pilih diberi uang dibanding sembako (foto : dok pri)
Pilih diberi uang dibanding sembako (foto : dok pri)
Sembari berbincang, mbah Muini berupaya untuk duduk, namun sepertinya ia merasa kesulitan sehingga harus saya bantu. Sukses duduk di atas kasur lecek, ceritanya makin menjadi, namun lebih banyak yang tidak saya pahami. Harap maklum, penuturannya kurang runtut, loncat sana loncat sini. Ingatannya sepertinya luntur, apa lagi nenek ini juga buta huruf.

Agar tak makin ngelantur, "diskusi" saya akhiri. Dengan dalih rumahnya harus diperbaiki mengingat musim hujan segera tiba, saya menawarkan agar rumahnya boleh dibedah oleh relawan. " Ah ! Buat apa diperbaiki, hidup saya tinggal berapa lama. Kalau mau memberi, kasih saya uang buat jajan," tepisnya.

Hampir tiga kali saya ajukan tawaran yang sama, namun jawabannya tidak pernah berubah. Ia mengaku sudah nyaman dengan kondisi rumahnya, yang penting mempunyai uang di tangan. Karena putus asa menjalin komunikasi, akhirnya saya pun berpamitan. Kebetulan, di jalan bertemu keponakan mbah Muini yang bernama Moh Khalim (60).

Moh Khalim keponakan jauh mbah Muini (foto: dok pri)
Moh Khalim keponakan jauh mbah Muini (foto: dok pri)
Moh Khalim mengakui bahwa mbah Muini masih saudara jauh, meski begitu dulunya beliau tinggal di lahan miliknya. Hingga beberapa tahun lalu, pindah ke lahan keponakan yang lain bernama Subardin (45), sampai sekarang. " Kalau diajak komunikasi memang susah karena ada gangguan pendengaran. Kalau mau bedah rumah, coba hubungi ketua RT dan Subardin saja ," sarannya.

Menanggapi temuan lapangan ini, para relawan Lintas Komunitas tetap menyatakan akan membedah rumah milik mbah Muini. Pasalnya, menghadapi musin hujan mendatang, kondisi rumah nenek duafa tersebut sangat mengkhawatirkan. " Hari ini, Jumat (12/10) kami akan cek lokasi sekaligus koordinasi dengan pihak RT setempat," kata Hariyadi (50) sie Bedah Rumah Relawan Lintas Komunitas.

Setelah melakukan pengecekan di lokasi, Hariyadi mau pun relawan lainnya mendapatkan keterangan bahwa lahan yang ditempati bukanlah milik Subardin. Namun, tanah tersebut merupakan milik kakak kandung Subardin yang tengah berada di Kalimantan. Untuk aksi bedah rumah, salah satu syarat mutlak adalah adanya ijin dari pemilik lahan. Artinya, aksi Relawan Lintas Komunitas harus tertunda entah sampai kapan. (*)