Bambang Setyawan
Bambang Setyawan buruh harian lepas

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Pilihan

Membangunkan Tidur Panjang Atletik Salatiga

30 November 2017   17:04 Diperbarui: 30 November 2017   19:11 2109 13 11
Membangunkan Tidur Panjang Atletik Salatiga
Baliho lomba lari di lapangan Pancasila Salatiga (foto: dok pri)

Sempat tertidur hampir empat tahun, akhirnya dunia atletik Kota Salatiga berupaya untuk bangun kembali. Minggu (10/12) mendatang, digelar lomba lari 5 K (kilometer) , 10 K dan fun run dengan total hadiah mencapai Rp 150 juta. Diharapkan, event ini nakal mampu mendongkrak "syahwat" para atlet kota kecil tersebut.

" Di sini, selain hadiah uang tunai bagi pelari profesional dan beragam barang sebagai doorprize untuk pelari amatir, kejuaraan ini juga memperebutkan piala Kemenpora ," kata Susi Erawati,  salah satu panitia lomba lari yang diberi label Ketua DPRD Salatiga Open, Kamis (30/11) sore.

Menurut Susi, dalam lomba lari yang dibagi tiga nomor tersebut, pihaknya juga akan bekerja sama dengan TNI. Di mana, nantinya tak menutup kemungkinan nama event bakal ditambahi embel- embel Hari Juang Kartika ke 71. "Ini merupakan hal yang positif, sebab di kalangan TNI/Polri sendiri sebenarnya banyak terdapat pelari-pelari tangguh," ungkapnya.

Untuk bisa mengikuti kejuaraan lari ini, lanjut Susi, peserta bisa mendaftar ke Kantor Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kota Salatiga yang terletak di Jalan Adi Sucipto Nomor 2, Kota Salatiga. Hingga sekarang, calon peserta yang tercatat mencapai hampir 1.000 orang. "Peserta datang dari berbagai daerah di Indonesia, tak hanya dari Salatiga saja," jelas Susi.

Upaya membangkitkan atletik di Kota Salatiga, lanjut Susi, sebenarnya sudah dirintis sejak bulan Agustus lalu. Di mana, puluhan pegiat olahraga telah berniat menggelar event marathon dengan hadiah ratusan juta juga. Sayang, sebelum kegiatan digeber, terjadi intrik sehingga lomba diubah menjadi bulan Desember.

"Kami berharap, lomba lari ini tidak dikaitkan masalah- masalah politik. Semuanya 100 persen demi bangkitnya olahraga Kota Salatiga tercinta, sehingga event tersebut mampu mendorong pihak- pihak terkait untuk menggelar lomba serupa," tukas Susi serius.

Memang, apa yang diungkapkan Susi benar adanya. Kota Salatiga yang sejak tahun 80-an dikenal sebagai gudangnya pelari-pelari tangguh, hampir lima tahun terakhir ini mengalami kemunduran. Bahkan, kejuaraan lomba lari terakhir, yakni Ganesha Marathon di tahun 2013 lalu, praktis tanpa kelanjutan alias hanya berhenti begitu saja.

Padahal, publik sangat mafhum, sejak tahun 1985 para pelari di Salatiga selalu merajai nomor 5 K, 10 K mau pun marathon. Dirintis oleh Padepokan Atletik Dragon yang dipimpin Yon Daryono, lahir pelari- pelari nasional seperti Suryati , Maryati Sukoco, Rumini Sudragni, Heny Melon, Hendro Suwarno, Teguh Setyaji, Supriyadi (sekarang anggota TNI AD), Lestariyanto, Lucan Yatindas hingga Noor Amin.

Para pelari muda tengah berlatih di Stadion Kridanggo (foto: dok pri)
Para pelari muda tengah berlatih di Stadion Kridanggo (foto: dok pri)

Kejayaan Atletik Salatiga

Berkat prestasi atlet-atlet Dragon, akhirnya di tahun 1988  Menpora Abdul Ghafur meminta  Presiden ke-2 Soeharto untuk memberikan bantuan berupa Stadion Kridanggo yang berfungsi sebagai lapangan bola sedang pinggirnya dibuat jalur lintasan untuk latihan lari. Selain itu, Yon Daryono juga diberi fasilitas bangunan kamar-kamar atlet sekaligus markas Klub Atletik Dragon yang lokasinya hanya sepelemparan batu dari stadion. Sejak saat itu, nyaris setiap kejuaraan lari, selalu didominasi anak- anak binaan Yon Daryono.

Hingga Suryati (pemegang  Rekornas nomor marathon) di tahun 1990-an, mendadak pindah ke Binjai, Sumatera Utara. Hilangnya Suryati, membuat Dragon agak kelimpungan, untungnya atlet-atlet yang lain masih konsisten berlatih dan tetap mampu merajai jalanan. Kendati begitu, nama besar Dragon perlahan mulai redup. Apa lagi, Yon Daryono sempat didera sakit sehingga program-program latihan kurang berjalan optimal.

Saat prestasi Dragon mulai redup, dari Salatiga muncul Alwy Mugiyanto yang di tahun 1972 tercatat sebagai atlet di  Pekan Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (POPSI). Alwy merintis berdirinya klub atletik yang diberi nama Salatiga Putra. Karena prestasinya tak kunjung berkembang, akhirnya di tahun 1990 nama klub diganti menjadi Tiger Atletik.  Perubahan nama tersebut membawa dampak positif, terbukti , salah satu atletnya yang bernama Ruwiyati mampu menyabet beragam rekornas.

Padahal, Alwy melatih anak asuhnya di areal pemakaman Ngebong. Selama bertahun-tahun Alwi melatih anak didiknya di lokasi yang sama, di mana ada hal yang bisa diambil hikmahnya berlatih di jalanan tanah berbatu tersebut. Sebab, sulitnya medan pemakaman, ternyata membuat atlet- atlet Tiger memiliki porsi berlebih saat latihan. Dampak positifnya, ketika diturunkan di lomba lari 10 K yang berlangsung di jalanan aspal mendatar, mereka dengan enteng melahap rute itu dan menjadi raja jalanan.

Tahun 1993, angin segar  menerpa klub atletik Tiger. Setelah malang melintang di lomba 10 K, Prestasi atlet binaan Alwi ,rupanya memikat Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia, Anwar Supriyadi (waktu itu). Melihat kondisi keuangan klub atletik Tiger yang megap- megap, akhirnya Anwar menawari untuk menjadi sponsor utama. Kompensasinya, nama Tiger diganti dengan nama Locomotif. Tanpa menunggu lebih lama, Alwi langsung menyambutnya. Sehingga, terhitung sejak tahun 1993, nama klub atletik Tiger secara resmi berubah menjadi Locomotif.

Mendapat sokongan logistik dari perusahaan pengelola kereta besi itu, prestasi atlet -- atlet klub atletik Locomotif semakin berkibar. Salah satu atletnya, yakni Ruwiyati yang menjadi ratu 10 K dan marathon dalam negri. Tahun 1994, PB PASI mengirim Ruwiyati mengikuti kejuaraan internasional yang berlangsung di Seoul Korea Selatan. Dalam event reli marathon tersebut, Ruwiyati berhasil menjadi juara favorit di bawah Kenya, China dan Jepang. Bahkan, di tahun 1995, Alwi bersama ruwiyati dikirim ke Sea Games yang berlangsung di Chiang mai, Thailand. Ruwiyati yang diturunkan di nomor marathon (42,195 km) , ternyata mampu memecahkan rekor Sea Games dengan catatan waktu 2 jam 45 menit.

Saat prestasi Ruwiyati mulai ada indikasi meredup, Alwy yang sebelumnya sudah menyiapkan penggantinya, yakni Triyaningsih yang merupakan adik kandung Ruwiyati. Cukup lama Triyaningsih diperam, masalahnya, Triyaningsih masuk ke klub atletik Locomotif dalam usia yang relative belia dan tak mungkin diikutkan dalam kejuaraan lari.

Gadis mungil yang saat itu masih kelas I SMP terus dipoles selama berbulan- bulan. Hingga akhirnya, ia mulai diarahkan ke nomor 10 kilo meter (10 K). Selama tiga bulan berlatih di nomor jarak menengah, ternyata prestasi Triyaningsih membuat pelatihnya terkesima. Ketika diturunkan di lomba lari 10 K di Bukittinggi mau pun 10 K di Riau, ia berhasil mengalahkan atlet- atlet pelatnas SEA Games dan menyabet juara 1. Semenjak kejuaraan ini, praktis nama Triyaningsih makin berkibar.

Melonjaknya prestasi Triyaningsih, akhirnya membuat KONI mau pun PB PASI "kesengsem". Ia menjadi salah satu langganan atlet yang bertarung di ajang SEA Games. Bahkan, di SEA Games tahun 2011 yang berlangsung di Palembang, Sumatera Selatan, dirinya diturunkan di tiga nomor , yakni 5.000 meter, 10.000 meter dan Marathon (42.195 kilo meter). Jika ditotal, selama berlangsungnya SEA Games, dia berlari sejauh 57.185 kilo meter !. Hasilnya 3 medali emas di tangan.

Di saat nama Triyaningsih semakin berkibar karena mampu memegang beberapa nomor Rekornas, menjelang akhir tahun 2011, Alwy didera penyakit kelenjar getah bening sehingga ia harus keluar masuk Rumah Sakit. Sabtu tanggal 24 Maret 2012, raganya tak bisa menahan ganasnya penyakit tersebut dan menghembuskan nafas terakhirnya. Paska meninggalnya Alwy, klub atletik yang dirintisnya mengalami kekosongan hingga sekarang.

Saat ini, di Kota Salatiga sendiri, selain Padepokan Dragon mulai berdiri beberapa klub atletik. Kemunculan mereka sebenarnya merupakan angin segar bagi perkembangan atletik, sebab, selain direspon oleh masyarakat, para pegiat olahraga juga mengapresiasinya. Terbukti, belakangan digelar event lumayan bergengsi dan diharapkan bakal menjadi hajatan tahunan. Apakah hal ini akan berhasil ? Waktu jua yang mampu menjawabnya. (*)