Bambang Setyawan
Bambang Setyawan buruh harian lepas

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Modal Bambu, Jadi Potensi Wisata di Tengah Sawah

12 Oktober 2017   15:43 Diperbarui: 12 Oktober 2017   17:31 2073 35 31
Modal Bambu, Jadi Potensi Wisata di Tengah Sawah
Lokasi selfie di wisata desa Kemetul (foto: dok pri)

Melimpahnya tanaman bambu di pedesaan, sepertinya membuat warga Desa Kemetul, Susukan, Kabupaten Semarang terpacu untuk membuat destinasi wisata. Hasilnya, selama 1 tahun belakangan mereka mampu merintis lokasi wisata alam di pinggir areal persawahan. Seperti apa bentuknya ? Berikut catatannya, Selasa (10/10) siang.

Letak Desa Kemetul, sebenarnya relatif jauh dari ibu kota Kabupaten Semarang. Di mana, hitungan kasar mencapai jarak sekitar 44 kilometer. Sementara untuk aktifitas ekonomi, warga lebih banyak memilih ke Kota Salatiga yang hanya berjarak tempuh 14 kilometer. Kendati begitu, warga terus mengasah kreatifitas guna memajukan desanya, salah satunya yakni merintis destinasi wisata.

Desa yang memiliki empat Dusun, yakni Kaliwarak, Krajan, Kidul Jurang dan Sipenggung ini, sepertinya sadar benar bahwa di masa mendatang, ketika Tol Semarang- Solo sudah jadi, maka desanya akan semakin terisolir. Terkait hal tersebut, sejak akhir tahun lalu, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mulai membangkitkan gairah masyarakat guna merintis sebuah obyek wisata.

Deretan gazebo hasil gotong royong pengurus RT (foto: dok pri)
Deretan gazebo hasil gotong royong pengurus RT (foto: dok pri)

Tahab awal, ditentukan lokasi ideal untuk digarap. Kebetulan, Desa Kemetul memiliki satu ruas jalan beraspal yang terletak di sisi persawahan, maka areal ini pun dianggap potensial menjaring wisatawan. Kebetulan, di desa yang akses transportasi daratnya tak begitu lebar tersebut, terdapat ribuan tanaman bambu. Otomatis, dari pada menggunakan material lainnya, bambu pun jadi pilihan guna mewujutkan angan- angan itu.

Menjalin kerja sama dengan para Ketua RT, masing- masing RT membuat gazebo yang dibangun di sisi jalan. Tentunya, prioritas utama, gazebo berbahan baku bambu. Fungsi gazebo di sini untuk sekedar kongkow atau pun beristirahat bagi pengunjung, pasalnya di sisi kanan terdapat puluhan pedagang yang akan mengais rejeki. Hasilnya, sedikitnya 40 unit gazebo terwujut sehingga kesan artistik sangat terasa.

Jelang sore baru mulai ramai (foto: dok pri)
Jelang sore baru mulai ramai (foto: dok pri)

Tak komplit bila deretan gazebo tanpa dilengkapi satu ikon Kemetul, Pokdarwis yang menggandeng para pemuda akhirnya membangun gardu pandang di tengah persawahan. Masih tetap memanfaatkan bambu sebagai metarial utamanya,dibuatlah gardu pandang setinggi sekitar enam meter. Sementara, guna mendukung pengunjung yang ingin berselfie, di tengah sawah didirikan bangunan berbentuk bintang.

Kendati belum sempurna 100 persen, namun karena pengunjung sudah mulai berdatangan, maka sejak awal tahun ini, pihak Pokdarwis sudah membuka destinasi wisata tersebut. Masyarakat yang mempunyai naluri bisnis pun, sepertinya enggan melewatkan peluang. Mereka ramai- ramai membuka lapak kuliner. Bahkan, yang mempunyai cukup modal berani menginvestasikan uangnya dengan memborong mobil mini cooper yang digerakkan aki.

Tempat penjualan tiket masih sangat sederhana (foto: dok pri)
Tempat penjualan tiket masih sangat sederhana (foto: dok pri)

Jaring 2.000 Pengunjung

Kenthis (35) selaku koordinator parkir Kemetul menjelaskan, lokasi ini pada sore hari biasanya mulai didatangi wisatawan lokal. Karena pengunjung hanya dibebabi biaya parkir Rp 2.000/ sepeda motor dan Rp 5.000/ mobil, maka di hari Sabtu atau Minggu, jumlah pengunjung bisa mencapai 2.000 orang. Sedangkan di hari biasa berkisar 100- 300 orang. " Tetapi kalau pas ada event, jumlah pengunjung bisa mencapai ribuan orang," ungkapnya.

Yang dimaksud event oleh Kenthis, Desa Kemetul saban tahun selalu menggelar hajatan Merti Desa. Di mana, acara peninggalan nenek moyang tersebut biasanya digelar berbagai atraksi budaya yang melibatkan seluruh warga desa. Karena terbilang unik, maka pengunjung dari berbagai daerah kerap menyaksikan tontonan langka itu.

Gapura sederhana menuju ikon Kemetul (foto; dok pri)
Gapura sederhana menuju ikon Kemetul (foto; dok pri)

Di luar tradisi tahunan, lanjut Kenthis, Kemetul juga menyediakan home stay dengan tarif sangat terjangkau. Yang dimaksud home stay, sebenarnya merupakan rumah- rumah penduduk yang sudah dipoles, meliputi kamar tidur hingga toiletnya. " Di sini pengunjung bisa berbaur dengan pemilik rumah, sekaligus mengikuti ritme kehidupan masyarakat desa," jelasnya.

Terobosan yang dibuat oleh Pokdarwis, kata Kenthis, ternyata direspon positif oleh wisatawan. Terbukti, selain wisatawan lokal, berdasarkan catatannya, beberapa turis manca negara sempat menginap di Desa Kemetul dan mengikuti berbagai ritual tradisional seperti memanen padi, menumbuk padi sampai menikmati aneka kuliner khas desa.

Untuk mengambil gambar di sini bayar Rp 5.000 (foto: dok pri)
Untuk mengambil gambar di sini bayar Rp 5.000 (foto: dok pri)

Sementara untuk menikmati ikon wisata Kemetul, yakni gardu pandang, pengunjung wajib membayar Rp 5.000 / orang. Di pintu masuk, terdapat beberapa anak muda menjual memungut bea masuk. Mau selfie atau tidak, setiap orang harus setor Rp 5.000 dan bebas bermain di areal persawahan tanpa dibatasi waktunya. Sedangkan pengunjung yang ingin menikmati beragam kuliner khas desa, boleh menyantapnya di pinggir sawah sembari "mengejakulasi" mata dengan pemandangan yang tak mungkin ditemui di kota.

Itulah sedikit catatan tentang wisata ndeso yang digagas masyarakat Kemetul,sepertinya mereka sangat sadar bila nantinya Tol Semarang- Solo sudah menyatu, maka hal tersebut harus diantisipasi agar desanya menjadi destinasi wisata. Dengan segala keterbatasannya, langkah mereka layak diapresiasi. Bagaimana tidak, dengan material yang telah tersedia di wilayahnya, mereka berupaya menciptakan suguhan wisata alam yang lumayan mempesona.

Satu hal catatan penting, yakni akses menuju lokasi memang agak rumit. Untuk ke desa Kemetul ini , selain bisa melalui jalan raya Salatiga- Suruh, selanjutnya potong kompas melalui Desa Plumbon ambil jalan ke kanan. Pengunjung juga bisa melewati pasar Suruh berbelok arah selatan atau melalui Klero lurus ke timur. Yang penting, jangan malu bertanya pada warga. Sebab, bila enggan menyapa, alamat nyasar. (*)