Bambang Setyawan
Bambang Setyawan buruh harian lepas

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

Regional highlight headline

Mengubah Musala Maksiat jadi Tempat Salat

12 Agustus 2017   21:39 Diperbarui: 13 Agustus 2017   02:05 3211 23 20
Mengubah Musala Maksiat jadi Tempat Salat
Posisinya yang terpencil jadi tempat maksiat (foto: dok pri)

Bangunan kecil yang merupakan musala wakaf di Dusun Banggirejo, Suruh, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang sebenarnya telah berusia 50 tahun. Kendati begitu, posisinya yang berada jauh dari kampung, belakangan kerap dijadikan lokasi maksiat. Dalam sepekan terakhir, saya bersama para sahabat berupaya mengembalikan menjadi tempat salat yang bermatabat. Seperti apa perjalanannya, berikut catatannya.

Kamis (3/8) siang, saat dalam perjalanan  menuju Desa Purworejo yang berjarak sekitar 14 kilometer dari Kota Salatiga, saya tertarik dengan keberadaan bangunan mungil berukuran 3 X 5 meter yang terletak di pinggir jalan sekaligus pinggir sawah. Karena terlihat ada seorang remaja putri usai menunaikan salat Dzuhur di rumah tersebut, saya segera berhenti. Ternyata, ini merupakan musala wakaf seorang warga Desa Suruh, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang tahun 1967.

Mushola wakaf yang berusia 50 tahun (foto: dok pri)
Mushola wakaf yang berusia 50 tahun (foto: dok pri)

Keterangan perihal musala wakaf tersebut, terlihat jelas pada tulisan di tembok depan. Di mana, disebutkan bahwa musala merupakan wakaf Purwo Asri (diduga nama orang) yang jadi tempat salat dan tertulis tanggal 10 Mei 1967. Artinya, musala minimalis ini usianya telah mencapai 50 tahun pada bulan Mei lalu. Demi membaca tulisan yang tak rapi tersebut, saya pun tertarik memasukinya. Pasalnya, selain temboknya kusam, rumput di samping dan di halamannya tumbuh subur.

Karena pintunya terbuka, saya bisa masuk secara leluasa. Hasilnya? Astaghfirullah hal adzim! Plafonnya nyaris remuk, sedikitnya 10 iternit berlobang tanpa ada yang menggantinya. Sementara di pojok, mukena bercampur sajadah teronggok begitu saja. "Di sini hanya untuk salat Dzuhur dan Ashar pak, itu pun yang memanfaatkan para petani dan orang lewat saja," kata remaja siswi SMP yang tak sempat saya tanya namanya.

Seperti ini plafonnya, remuk tak berbentuk (foto: dok pri)
Seperti ini plafonnya, remuk tak berbentuk (foto: dok pri)

Cat yang menempel di dinding, awalnya berwarna hijau, tapi karena tergerus jaman menjadi pudar. Sedangkan pintu hanya dibuat dari papan sederhana tanpa kunci mau pun gembok, sehingga siapa pun bebas keluar masuk selama 24 jam. Sementara tidak ada penerangan apa pun, sehingga di malam hari gelap gulita. Duh! Nelangsanya musala ini, saya sangat yakin, sosok yang mewakafkan pasti menangis di alam kubur melihat kondisinya.

Setelah mengambil beberapa foto, saya pun meneruskan perjalanan. Hingga sore harinya, setiba di rumah, temuan mengenaskan ini segera saya posting di group Facebook yang ada di Kota Salatiga. Tidak butuh waktu lama, postingan tentang musala "yatim piatu" itu langsung menjadi viral. Ribuan netizen memberikan like berikut komentarnya. Mayoritas, menginginkan musala bisa diperbaiki kendati banyak pula yang omong doang (omdo).

Pintu ala kadarnya membuat pemabuk nyaman (foto: dok pri)
Pintu ala kadarnya membuat pemabuk nyaman (foto: dok pri)

Ironisnya, banyak netizen yang menyebut bahwa fungsi musala wakaf tersebut telah berubah 180 derajat. Nyaris saban malam kerap dijadikan tempat nyaman untuk bermabuk-mabukan, yang lebih menyedihkan, beberapa pasangan muda berulangkali dipergoki tengah berbuat mesum di bangunan ini. Entah dosa apa yang bakal ditanggung mereka, karena berani melecehkan rumah Allah.

Hanya selang beberapa jam, sedikitnya tiga orang mengontak saya. Dua diantaranya memang sahabat saya di dunia nyata, seorang diantaranya teman di dunia maya. Mereka meminta agar saya menjadi koordinator renovasi musala uzur tersebut. Mengingat saya yang memulai, konsekuensinya saya pula yang harus mengakhiri. Akhirnya permintaan mereka saya iyakan, tentunya setelah mendapat lampu hijau dari ahli waris berikut pamong desa setempat.

Faramita dan suami ikut turun tangan (foto: dok pri)
Faramita dan suami ikut turun tangan (foto: dok pri)

Tempat Maksiat

Usai mendapat dukungan dari tiga sahabat, Jumat (4/8) saya kembali lagi menuju musala minimalis itu. Tujuannya, menemui Kepala Dusun (Kadus) Banggirejo yang bernama Darmanto. Dengan didampingi Widi, seorang anak muda asal Kota Salatiga, akhirnya saya menemuinya. Pria bertubuh kekar tersebut menjelaskan, untuk memperbaiki musala, harus meminta izin ahli warisnya. "Ahli warisnya H. Zarkasi, sebelum ada restu beliau, sebaiknya ditunda dulu," ujarnya.

Menurut Darmanto, musala wakaf itu memang sehari- hari tidak ada yang merawat karena jauh dari perkampungan. Sedangkan orang yang memanfaatkan kesehariannya para petani yang biasa menggarap sawah di sekitar lokasi. Terkadang, ada satu dua pengguna jalan yang ikut menunaikan salat Dzuhur mau pun Ashar. Sesudah Maghrib, situasinya gelap gulita tanpa menerangan apa pun.

Menyikat tempat wudlu dan tempat pipis (foto: dok pri)
Menyikat tempat wudlu dan tempat pipis (foto: dok pri)

Yang membuat marah, Darmanto membenarkan bahwa musala yang seharusnya menjadi tempat sakral, ternyata kerap dijadikan tempat mabuk anak muda. Bahkan, beberapa kali digunakan oleh pasangan muda berbuat mesum. "Pasangan mesum yang saya pergoki di sini sudah tak terhitung jumlahnya, bahkan pernah ada pasangan yang saya bawa ke Balai Desa," ungkapnya.

Duh!  Laknat akherat apa yang bakal diterima oleh orang-orang yang tersesat di jalan terang tersebut. Jelas- jelas musala untuk beribadah, malah dimanfaatkan bermabukria dan berbuat mesum. Lokasinya yang terpencil, memang nyaman untuk dipakai sarana maksiat. Mendengar hal itu, semakin kuat niat saya mendandani musala "yatim piatu" ini. " Saya akan meminta izin ahli waris, besok saya kabari hasilnya," kata Darmanto.

Ternyata, Darmanto baru Senin (7/8) siang memberikan kabar bahwa ahli waris musala wakaf menginzinkan renovasi ini. Siang itu juga saya langsung ke lokasi untuk menghitung perkiraan biaya yang dibutuhkan. Hasil observasi lapangan, perbaikan membutuhkan dana sekitar Rp 2,5 juta. Untungnya, Ninung Murtini, seorang apoteker di Kota Semarang yang merupakan teman SD saya, langsung mengirim uang Rp 500 ribu. Malam harinya, Ahmad, sahabat saya asal Salatiga datang ke rumah menyerahkan Rp 500 ribu.

Bak disulap, jadi cantik sekarang (foto: dok pri)
Bak disulap, jadi cantik sekarang (foto: dok pri)

Hingga Selasa (8/8) pagi, Faramita warga Pakis, Bringin, Kabupaten Semarang bersama suaminya tiba di lokasi. Ia menyatakan akan membantu pengadaan plafon berikut pemasangannya. Padahal, perkiraan untuk memperbaiki plafon butuh anggaran sekitar Rp 700 ribu bahkan bisa lebih. Sepeninggal Faramita, datang mas Petung juragan bakso di Wates, Getasan, Kabupaten Semarang. Ia menyerahkan uang sebesar Rp 300 ribu berikut kuas.

Bantuan belum berhenti, mas Antok warga Pengilon, Mangunsari, Kota Salatiga membantu cat tembok seberat 5 kg, belakangan kebutuhan cat tembok mencapai 20 kg. Sementara  Charix Isharudin  yang juga warga Salatiga mengirim Rp 100 ribu, jadi total dana yang masuk Rp 1,4 juta. Saya pikir lebih dari cukup untuk memperbaiki dan mengubah agar musala menjadi lebih bermanfaat. Terkait hal tersebut, mulai perbaikan segera dimulai.

Tidak butuh waktu lama, selama tiga hari dikerjakan, musala telah berganti wajah. Tembok yang sebelumnya berwarna hijau, diganti putih bersih. Widi  yang piawai membuat daun pintu, saya beri tugas merealisasikan pintu setebal 3 centimeter. Bahan baku mau pun biaya angkutnya mencapai Rp 600 ribu. Sementara sumbangan Ninung Murtini, saya belanjakan karpet dan meja buat menyimpan mukena. Sisa Rp 200 ribu, saya berikan pada tukang cat sebesar Rp 140 ribu, serta sisanya dibelanjakan kuas roll berikut  cat tembok.

Penerahan kunci kepada Kadus Banggirejo (foto: dok pri)
Penerahan kunci kepada Kadus Banggirejo (foto: dok pri)

Setelah nyaris seminggu penuh wira-wiri Salatiga- Suruh, akhirnya Sabtu (12/8) sore, musala wakaf sudah terlihat cantik. Lantai abu- abu yang sebelumnya terlihat kusam, sekarang sudah dibalut karpet hijau muda. Mukena yang biasanya teronggok di pojok, dibakar karena baunya menyengat hidung. Sebagai gantinya, Yetty Kusrini pemilik Salon Kecantikan di kompleks Taman Sari Salatiga memberikan dua lembar mukena berikut dua lembar sajadah. Daun pintu yang setiap saat bisa didobrak, diganti papan setebal 3 centimeter yang dipasangi gembok besar. Agar ada sedikit cahaya, dipasang lampu led tenaga matahari, sehingga tidak lagi gelap gulita.

Tanpa menunggu lebih lama, Kadus Banggirejo segera saya kontak. Kunci saya serahkan berikut tanggung jawab pengawasannya, tak ada tamu undangan yang menyaksikan. Selain Malaikat di atas sana, hanya disaksikan oleh Widi, pelimpahan kerja keras selama seminggu terealisasi. Badan letih, itu sudah pasti. Namun, melihat musala mini tersebut berubah menjadi lebih bermanfaat, rasanya merupakan kebahagiaan tersendiri. Kiranya, orang- orang yang tidak waras, yang sebelumnya sempat menggunakannya untuk berzina mau pun mabuk, mampu mengubah jalan pikirannya. (*)