Mohon tunggu...
Bambang Setyawan
Bambang Setyawan Mohon Tunggu... Bekerja sebagai buruh serabutan yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Begini Cara PT Pos Indonesia Mengapresiasi Kompasianer

3 Februari 2017   13:35 Diperbarui: 3 Februari 2017   13:44 1363 41 36 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Begini Cara PT Pos Indonesia Mengapresiasi Kompasianer
Delapan perangko seri Kompasianer (foto: dok pri)

Perangko, yang merupakan tanda pembayaran pengiriman surat biasanya bergambar para pahlawan nasional, tumbuhan langka, binatang hingga event- event penting. Namun, apakah pernah terbayangkan suatu saat potret diri kita dijadikan perangko resmi ? Itulah yang terjadi pada diri saya selaku Kompasianer beberapa hari yang lalu, berikut adalah catatannya.

Selasa (31/1) siang, Samsu Panitis ,Kepala Kantor PT Pos Indonesia (PI) DC Kota Salatiga, datang bertamu. Kebetulan saya belum bangun karena selama dua hari tidak tidur karena ada keperluan keluarga di Purworejo. Seperti biasa, hanya mengenakan kaos dan celana kolor, saya pun menemui beliau yang didampingi stafnya. Jangankan mandi, cuci muka saja tak sempat.

Ternyata, Samsu membawakan souvenir berupa kalender, buku diary dan 8 lembar perangko nominal Rp 3.000. Yang membuat surprise, perangko- perangko tersebut bergambar diri saya. “ Ini bukan perangko mainan pak, ini perangko resmi yang bisa digunakan untuk mengirim surat,” kata Samsu dengan mimik serius.

Wow ! Karena saya memang awam, otomatis saya agak terpana. Sebab, setahu saya, yang namanya perangko ya bergambar pahlawan, jaman dulu juga ada binatang atau tumbuhan langka. Sedang yang ini, gambarnya orang tak jelas, tetapi bisa untuk mengirim surat dan diakui keabsahannya. “ Lha wong ga jelas juntrungnya kok dicetak jadi perangko,” batin saya.

Ke 8 perangko tersebut, terdiri atas gambar saya saat berada di atas sepeda motor kuno merk Djawa buatan tahun 1940, foto wajah yang dulunya ada di facebook, foto mengenakan blangkon usai among tamu (menerima tamu) juga di facebook dan foto profil di Kompasiana.com. Semuanya dengan nilai Rp 3.000, sementara ikut dicetak gambar diri saat berkepala pelontos berlatar terali besi.

Ini seluruh souvenir yang saya terima (foto: dok pri)
Ini seluruh souvenir yang saya terima (foto: dok pri)
Menurut Samsu, perangko bergambar potret diri saya sengaja diambil dari akun facebook dan akun Kompasiana.com secara diam- diam. Pasalnya, bila jauh hari memberitahu saya, namanya bukan surprise. “ Ini merupakan bentuk apresiasi PT PI terhadap pak Bambang atas kepeduliannya mengupas PT PI DC Kota Salatiga, baik dari sisi negatif mau pun positifnya,” jelas Samsu.

Samsu yang dikenal sangat responsif sekaligus seorang pimpinan yang gaul di kantornya, menjelaskan, apresiasi ini juga suatu bentuk ekspresi ketulusan pertemanan di antara kami. Terkait hal itu, saya pun sangat menghargainya. Persahabatan bukan diukur dari materi, kendati hanya berupa perangko, namun tak ternilai harganya di mata saya. Apa lagi, foto tertera di beberapa perangko resmi, bagi saya sangat membanggakan kendati cenderung berlebihan.

SouvenirPertama

Pertemanan saya dengan Samsu Panitis selaku pihak PT PI, sebenarnya belum begitu lama terjalin. Di mulai awal tahun 2016 lalu, saya menulis tentang keberadaan bis surat peninggalan pemerintahan kolonial Belanda yang ada di depan kantor PT PI DC Kota Salatiga.Selanjutnya, bulan September 2016 lalu, saya menulis artikel tentang lambannya pengiriman paket buku ke Cirebon, Jawa Barat.

Sehari setelah artikel terkait paket yang saya kirim melalui kantor PT PI muncul, Samsu Panitis bersama dua orang stafnya buru- buru menemui saya di rumah. Selain meminta maaf atas keterlambatan paket yang saya kirim, dirinya juga menyerahkan uang pengembalian pembayaran biaya paket sebesar  Rp 133.825 (seratus tiga puluh tiga ribu delapan ratus dua puluh lima rupiah) dan souvenir.

Perangko seri bung Karno yang dulu saya terima (foto: dok pri)
Perangko seri bung Karno yang dulu saya terima (foto: dok pri)
Samsu dalam kesempatan iitu menjelaskan bahwa artikel saya di Kompasiana.com telah menginspirasi PT PI untuk membenahi manajemen. Untuk itu, sebagai bentuk kepedulian PT PI terhadap konsumennya, saya diberi souvenir berupa filateli (koleksi perangko) edisi bung Karno,  mug dan dompet kecil. Khusus filateli, memang sangat menarik, sebab, di dalamnya terdapat perangko asli sebanyak 18 lembar. Tentunya perangko- perangko seri bung Karno ini nilainya sangat tinggi, sulit diukur dengan rupiah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN