Mohon tunggu...
Bambang Setyawan
Bambang Setyawan Mohon Tunggu... Bekerja sebagai buruh serabutan yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Begini Heningnya Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono

23 Agustus 2016   15:05 Diperbarui: 24 Agustus 2016   19:51 3471 49 47 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Begini Heningnya Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono
Kapel karya Romo Mangun (foto: dok pri)

Kendati sudah sejak lama mengetahui keberadaan Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono (PBPG) yang terletak di Desa Jetak, Getasan, Kabupaten Semarang, namun, saya belum pernah berkunjung ke lokasi. Selama dua hari berturut- turut, karena mengantar seorang sahabat, kesempatan bertandang tersebut tiba juga. Berikut adalah catatannya.

Selama dua hari, Senin (22/8) dan Selasa (23/8), seorang sahabat asal Jakarta meminta tolong untuk mengantarkan ke PBPG yang letaknya hanya berjarak sekitar 10 Km dari Kota Salatiga. Meski saya bukan pemeluk agama Katolik, namun, sepertinya tidak ada alasan untuk menolaknya. Perbedaan beragama tak bisa dijadikan dalih untuk menghindar. Jadilah kami berdua berkunjung ke lokasi yang sarat keheningan itu.

Gedung administrasi dan toko (foto: dok pri)
Gedung administrasi dan toko (foto: dok pri)
Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit, kami tiba di PBPG yang berada di ketinggian 1.000 mdpl tersebut. Usai memasuki Desa Jetak, sebelum memasuki kawasan tempat bermukim para rubiah, kami harus melalui jalan menanjak. Dari kampung terdekat, jaraknya berkisar 1 Km. Melewati perkebunan yang terkesan sangat rapi, akhirnya sampai di tempat yang kami tuju.

Sayang, waktu sudah menunjuk angka 17.00, seorang penjaga PBPG yang bernama Tukiman mengatakan bahwa pelayanan terhadap pengunjung telah ditutup. Kami disarankan datang lagi Hari Selasa , sebelum pukul 14.00. Sesudah menyempatkan diri mengambil gambar untuk dokumentasi, akhirnya kami berpamitan. Sekilas, kami perhatikan, lokasi ini terasa sangat hening. Nyaris tidak ada suara apa pun, bahkan, daun kering jatuh pun bakal terdengar.

Penampakan jendela dan teras gedung administrasi (foto: dok pri)
Penampakan jendela dan teras gedung administrasi (foto: dok pri)
Esok siangnya, kami kembali meluncur ke PBPG. Tak butuh waktu lama, seperti kemarin, dalam tempo 15 menit sudah tiba di lokasi. Sahabat saya langsung menuju toko tempat penjualan beragam hasil kerja para rubiah (umat Katolik menyebutnya suster), ternyata, ia memborong kefir (yogurt) dan roti hosti. Awalnya, dia berniat menginap semalam untuk mengikuti retret. Namun, karena Hari Rabu (24/8) pagi harus sampai ke Jakarta, akhirnya keinginan itu ditunda. Entah sampai kapan.

Enggan membuang kesempatan yang ada, mumpung masih berada di areal PBPG, saya berupaya menelisik segala aktivitas para rubiah. Hasilnya, nol besar. Tak ada yang mau memberikan keterangan. Setiap mau melangkah, penjaga selalu mengatakan tidak boleh ini, tidak boleh itu. Untungnya, ada seorang umat Katolik yang bersedia berbagi. Namanya Ibu Anastasiana Ida Christanti, warga Kota Salatiga.

Penginapan bagi tamu terkesan adem (foto: dok pri)
Penginapan bagi tamu terkesan adem (foto: dok pri)
Ibadat 7 kali Sehari
Menurut Ibu Anastasiana yang pernah menginap di PBPG beberapa tahun lalu, para suster selain bekerja memproduksi beragam makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Mereka juga ketat beribadat. Dalam sehari, ibadat yang yang dilakukan sebanyak 7 kali, meliputi 6 kali ibadat serta satu kali misa. “Ibadat malam dilakukan pukul 03.15, saat udara di sekitar PBPG terasa dingin sekali,” jelasnya sembari menambahkan usai ibadat dilanjutkan doa selama sekitar 30 menit yang semuanya dilakukan di kapel.

Pukul 06.00, kembali diadakan misa yang selanjutnya diteruskan ibadat pagi. Tentunya, jeda antara ibadat malam dengan misa hanya selisih sedikit, maka para suster maupun peserta retret tak mungkin meneruskan tidurnya. Agar tidak jenuh, biasanya pengunjung menunggu waktu sembari berjalan- jalan di areal PBPG. Yang paling sulit dilupakan, udara paginya di sini benar-benar terasa di kulit. Pasalnya, suhu bisa mencapai 17 derajat, bahkan terkadang 16 derajat.

Aula untuk pertemuan (foto: dok pri)
Aula untuk pertemuan (foto: dok pri)
Dua jam kemudian, tepatnya pukul 08.00 digelar ibadat tertia, selanjutnya pukul 11.00 diteruskan ibadat tengah hari (sexta). Usai santap siang dengan menu ala PBPG, yakni minim garam dan tanpa penyedap rasa. Selanjutnya pukul 13.00 diadakan ibadat siang. Sore harinya, pukul 16.45 dilaksanakan ibadat sore sekaligus pentahtahan Sakramen Maha Kudus dan ditutup doa individu mirip meditasi. “Ibadat terakhir atau disebut ibadat penutup dilakukan pukul 18.55,” kata Ibu Anastasiana.

Detail dinding luar aula karya Romo Mangun (foto: dok pri)
Detail dinding luar aula karya Romo Mangun (foto: dok pri)
Kalau peserta retret, lanjut ibu Anastasiana, hanya mengalami 7 kali ibadah dalam sehari dan mungkin hanya pada waktu- waktu tertentu. Sebaliknya, para suster saban hari melakukannya tanpa jeda. Rutinitas berkomunikasi dengan sang pencipta terus menerus dilakukan. Seakan, hidup mereka hanya untuk Tuhannya. Sementara pekerjaan lainnya cuma pengisi waktu luang. “Jadi kalau berniat meditasi, ya paling tepat di PBPG,” ungkap Ibu Anastasiana.

PBPG sendiri, sekarang dipimpin oleh Suster Martha yang mempunyai nama lengkap Abdis Martha Elisabeth Driscoll, OCSO. Memimpin sekitar 40 orang suster, Suster Martha juga memperkerjakan 80-an orang warga sekitar untuk bekerja menggarap kebun, penjaga dan pekerjaan lainnya. Toleransi yang tinggi terhadap kehidupan umat beragama juga diperagakan di sini, para pekerja ternyata hanya satu dua yang memeluk agama Katolik. Sisanya, sebagian besar beragama Islam serta Kristen.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x