Mohon tunggu...
Bambang Trim
Bambang Trim Mohon Tunggu... Penulis - Pendiri Penulis Pro Indonesia

Pendiri Institut Penulis Pro Indonesia | Perintis sertifikasi penulis dan editor di Indonesia | Penyuka kopi dan seorang editor kopi.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Keterampilan Menulis Proposal

29 Juni 2017   07:36 Diperbarui: 30 Juni 2017   14:48 1190
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Awal 2017 hingga pertengahan tahun ini, entah berapa proposal sudah saya tulis dan ajukan. Sampai penghujung Juni 2017, saya masih dihadapkan tugas membuat proposal untuk berbagai rancangan atau program. Proposal berasal dari akar kata propose dalam bahasa Inggri bermakna 'mengajukan'. Pengajuan ada yang disampaikan secara lisan dan ada dalam bentuk tulisan yang disebut proposal.

Bagi saya, proposal termasuk seni sekaligus keterampilan menulis untuk 'menyodorkan gagasan' dan 'memohon untuk disetujui'. Alhasil, proposal menggunakan teknik penulisan persuasi untuk memengaruhi si penerima proposal. Namun, di dalamnya juga ada argumentasi, bahkan deskripsi tentang pentingnya sebuah gagasan direalisasikan.

Memang bersyukur jika proposal diterima. Jika tidak, cukuplah saya berpuas diri telah melakukan usaha. Paling tidak proposal yang ditolak menjadi koleksi karya tulis yang pernah saya susun. Lebih jauh, proposal itu berarti juga sikap pro terhadap masa depan saya sendiri.

Jadi, tidak salah jika Jamil Azzaini menulis buku berjudul Tuhan, Inilah Proposal Hidupku karena sejatinya Tuhan menciptakan manusia untuk satu tujuan (program) dan visi menjadikan manusia sebagai khalifah (pemimpin). Ciri tegas pemimpin adalah mengambil keputusan terhadap sekian pilihan dalam hidupnya, lalu bertanggung jawab terhadap pilihan yang diambilnya.

Proposal adalah sebuah keputusan akan suatu pilihan. Jika kita tidak memilih, tentu untuk apa proposal diajukan.

Jadi, pernah juga suatu masa, saya ragu-ragu mengajukan proposal yang justru sudah saya ucapkan. Lembaga yang hendak saya berikan proposal pun menunggu-nunggu. Saya ragu karena proposal ini sedikit banyak berpengaruh pada aktivitas yang saya jalani kini. Jika ragu, saya memerlukan "campur tangan" Tuhan untuk memberi petunjuk.

Kembali soal menulis proposal, ini menarik sebagai pelajaran. Ada banyak bagian di dalam proposal yang menjadi dasar mengapa suatu program atau gagasan diajukan dan perlu direalisasikan. Bagian penting pertama tentu saja 'latar belakang' atau 'dasar pemikiran'. Banyak yang menuliskan bagian ini sebagai basa-basi tak berarti, padahal bagian ini dapat menjadi kunci yang meyakinkan bagi penerima proposal.

Bagian penting kedua adalah benefit atau manfaat direalisasikannya suatu gagasan atau program. Di bagian ini biasanya disajikan butiran benefit untuk penerima proposal maupun pemangku kepentingan lainnya. Perlu diperhatikan urutan penyusunan butir benefit dari yang paling penting. 

Bagian penting yang ketiga dan biasanya menjadi pertimbangan utama adalah 'biaya' atau 'pembiayaan' dengan indikator efisien atau "masuk akal" bagi penerima proposal. Di sinilah pembuat proposal harus memiliki wawasan atas angka-angka yang relevan untuk diajukan. Biasanya pembuat proposal menggunakan referensi angka-angka yang pernah diajukan atau lazim untuk diajukan.

Selebihnya hanya pernak-pernik teknis yang memperlihatkan bagaimana sebuah program akan dilaksanakan. Beberapa lembaga pemerintah sering meminta gambaran input-process-output dan tentu saja outcome dari sebuah pengajuan yang disertai dengan linimasa (timeline) sebagai acuan pelaksanaan.

Berapa proposal yang berhasil saya golkan? Entahlah .... Sama tidak tahunya saya berapa proposal yang "berhasil" ditolak. Namun, menulis proposal itu sama dengan menuliskan harapan-harapan yang pro-masa depan. Menantinya harap-harap cemas karena bergantung juga pada takdir yang telah Tuhan tentukan menjadi nasib saya. Namun, yang jelas menulis proposal dan mengajukannya adalah pilihan yang saya ambil dan siap saya laksanakan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun