Mohon tunggu...
Bambang Trim
Bambang Trim Mohon Tunggu... Pendiri Institut Penulis Indonesia

Tukang buku keliling ini telah lebih dari 25 tahun berada di jagat perbukuan sebagai penulis, editor, dan konsultan. Ia pernah memimpin beberapa penerbit nasional. Kini menjabat sebagai Ketua Umum Penpro (Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia), Direktur Institut Penulis Indonesia, serta Direktur LSP Penulis dan Editor Profesional.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Durang Duraring Kuliah Daring

20 Mei 2021   12:03 Diperbarui: 22 Mei 2021   17:17 397 12 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Durang Duraring Kuliah Daring
Sumber: Getty Images/Canva Pro

Hirup mah durang duraring. Lamun teu cageur nya gering. Hirup mah durang duraring. Lamun teu luring nya daring. (Hidup mah dibawa santai saja. Kalau nggak sehat, ya sakit. Hidup mah dibawa santai saja. Kalau tak luring, ya daring).

Hirup mah durang duraring adalah ungkapan bahasa Sunda yang populer. Dosen saya di Sastra Indonesia Unpad, Pak Ade Kosmaya (almarhum), mengutipnya dalam puisi. Lalu, Doel Sumbang juga menggubahnya dalam lagu. Saya pun mengutipnya dalam fenomena kuliah daring

Kuliah daring mah dibawa santai saja. Mereka yang boleh santai saja mungkin para mahasiswa. Saya sebagai dosen tetap saja tak mampu untuk santai.

Hari ini, 20/5 saya mengikuti rapat kelulusan di Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia). Kebetulan semester genap ini saya mengampu dua mata kuliah untuk empat kelas di Program Studi Penerbitan. Saya mengajar mata kuliah Penyuntingan Fiksi (semester IV) dan Dasar-Dasar Penyuntingan (semester II). 

Semester ini adalah kali kedua saya mengisi kuliah dengan cara daring, menggunakan aplikasi Zoom. Saya juga menggunakan aplikasi Google Class Room untuk mengelola kuliah, penugasan, dan asesmen.

Kuliah daring ini mengapungkan masalah tersendiri di telaga ilmu pengetahuan---biar agak dramatis. Penggunaan teknologi digital sedikit banyak membantu. Namun, ada saja faktor nonteknis yang membuat kuliah daring jangka panjang ini tidak efektif.

Meskipun saya generasi digital imigrant, tidak terlalu bermasalah dengan teknologi digital. Sedikit dan tertatih masih dapat mengikuti sehingga perkara teknis dapat teratasi.

Perkara nonteknis adalah durasi kuliah yang panjang berkonsekuensi pada kuota internet para mahasiswa. Tak semua mahasiswa saya mendapat bantuan kuota dari pemerintah. Alhasil, saya harus menimbang durasi kuliah yang panjang menjadi hanya sepertiga. 

Kuliah saya paling lama 60 menit. Sisanya dilakukan pembelajaran mandiri, termasuk praktik dan penugasan. Saya selalu menyiapkan materi presentasi dan beberapanya berupa risalah materi (handout). Saya pun kadang memvideokan materi agar dapat diakses setiap saat. Mahasiswa sudah sangat dimudahkan dengan materi terstruktur.

Masalahnya apakah mahasiswa itu serius untuk mau belajar mandiri? Saat kuliah daring saja, saya mempersilakan mereka mematikan video. Tentulah tidak dapat dikontrol apakah mereka benar-benar kuliah atau tidak. Jangan-jangan ya jangan-jangan, saya mengisi kuliah sampai berbusa, beberapanya malah bermain TikTok.

Pernah sekali saya mengajukan pertanyaan secara acak dan tiba-tiba. Satu-satu mahasiswa saya panggil. Ada mahasiswa yang tetap siaga, tetapi ada juga yang sudah menghilang. Alasan klasiknya sinyal internet hilang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x