Mohon tunggu...
Bambang Trim
Bambang Trim Mohon Tunggu... Pendiri Institut Penulis Indonesia

Tukang buku keliling ini telah lebih dari 25 tahun berada di jagat perbukuan sebagai penulis dan editor. Ia pernah memimpin beberapa penerbit nasional. Kini memimpin Penpro (Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia) dan LSP Penulis & Editor Profesional. Suatu saat ia ingin mendirikan perguruan tinggi penulisan-penerbitan.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Kata Baku itu Ibarat Ban Kendaraan

27 Februari 2020   18:13 Diperbarui: 28 Februari 2020   06:53 312 13 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kata Baku itu Ibarat Ban Kendaraan
Sumber: Amador Loureiro/Unsplash

Bagi seseorang yang digelari "polisi bahasa" salah satu objek razianya adalah penggunaan kata-kata nonbaku di dalam karya tulis, terutama di media sosial. Penggunaan kata nonbaku sebenarnya bukan persoalan salah atau tidak benar. Kata nonbaku relevan digunakan di dalam konteks nonformal, seperti percakapan ataupun dalam tulisan-tulisan status dan komentar di media sosial.

Sederetan kata-kata nonbaku yang dieja secara tidak baku, misalnya antri, hembus, lembab, nafas, dan sekedar Ada juga yang termasuk ke dalam kata ragam cakapan, misalnya ketimbang, bisa, dan kenapa. Ada yang menggunakan kata nonbaku karena kebiasaan dialek, sepergi gimana, ngomongin, dan emang. Kita memaklumi penggunaan ini karena ketidaktahuan penggunanya soal baku dan nonbaku atau karena terbiasa menggunakannya dalam dialek bahasa daerah dan obrolan sehari-hari.

Saya setuju dengan penggunaan kata baku versus kata nonbaku bukan soal benar dan salah, tetapi soal tepat dan tidak tepat jika digunakan di dalam konteks resmi/formal. Bagi para penulis atau editor, seyogianyalah mereka menginstal kata baku dan kata nonbaku ke dalam benak mereka agar dapat digunakan secara tepat.

Di Kompasiana ini masih banyak penulis yang menggunakan kata-kata nonbaku. Konteks artikel di Kompasiana memang tidak dapat dibilang resmi atau tidak resmi. Itu bergantung pada penulisnya. Jika ia memang ingin menulis bersifat resmi, tentu ia menggunakan kata baku. Sebaliknya, jika ia menulis santai, boleh jadi ia menggunakan diksi yang tidak baku.

Namun, untuk kata-kata yang memang kerap dieja nonbaku, saya selalu berusaha menggunakan bentuk bakunya. Misalnya, antri menjadi antre; sekedar menjadi sekadar; merubah menjadi mengubah; atau analisa menjadi analisis.

Mereka yang tetap menggunakan kata-kata nonbaku pada ragam resmi, tentulah tidak berdosa dan tidak pula bakal dihukum pidana atau perdata. Anggap saja kata nonbaku itu kata-kata KW1, KW2, dan seterusnya. Namun, di tangan para editor, kata-kata tersebut pasti diedit meskipun tidak semuanya dapat diedit begitu saja.

***

Analoginya soal kata baku dan nonbaku seperti ban kendaraan. Saat membeli sepeda motor, dari pabrik pasti sudah distandarkan penggunaan ban, baik ukuran maupun tekanan angin. Terus kita bermaksud mengganti ban baku tadi menjadi ban nonbaku. Tentu tidak ada larangan, bahkan polisi lalu lintas pun tidak melarangnya.

Akan tetapi, penggunaan ban nonbaku akan berpengaruh pada keselamatan, kenyamanan, bahkan mungkin juga kecepatan laju sepeda motor.
Jika tidak ada pembakuan, dapat dibayangkan munculnya haru biru (kekacauan). Hal ini yang dihindarkan pada konteks berbahasa dalam ragam resmi/formal ketika tidak ada acuan berbahasa bagi penggunanya.

Apakah pejabat yang notabene menjadi anutan berbahasa akan patuh dan tidak melanggarnya? Fakta membuktikan banyak pejabat  yang tidak berbahasa baku. Selain karena tidak tahu, juga karena sudah terbiasa menggunakan bahasa tidak baku, seperti 'merubah'.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN