Mohon tunggu...
Bambang Trim
Bambang Trim Mohon Tunggu... Pendiri Institut Penulis Indonesia

Tukang buku keliling ini telah lebih dari 25 tahun berada di jagat perbukuan sebagai penulis dan editor. Ia pernah memimpin beberapa penerbit nasional. Kini memimpin Penpro (Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia) dan LSP Penulis & Editor Profesional. Suatu saat ia ingin mendirikan perguruan tinggi penulisan-penerbitan.

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Apakah Penulis Buku Itu Profesi?

7 Oktober 2019   18:33 Diperbarui: 7 Oktober 2019   20:45 0 17 5 Mohon Tunggu...
Apakah Penulis Buku Itu Profesi?
Foto: Bambang Trim/Istimewa

Bagi petugas bank, petugas asuransi, atau juga petugas kelurahan yang membantu pembuatan KTP, pekerjaan sebagai penulis buku itu mungkin agak aneh. Pasalnya menurut orang awam menulis buku itu bukan pekerjaan tetap atau lebih sebagai pekerjaan sampingan. Hal yang lebih ekstrem lagi bahwa pekerjaan menulis buku tidak dapat dijadikan sandaran hidup.

Pertanyaan sesungguhnya yang masih menggelayuti benak para penulis sendiri adalah apakah benar menulis buku itu dapat dijadikan sandaran hidup. Sebenarnya ada percabangan dari hal ini karena tujuan orang menulis itu berbeda-beda. Ada yang sekadar menulis dan menjadikannya sebagai hobi belaka. Ada yang menulis untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya, tidak terpikir mengapitalisasinya atau bahasa kerennya monetisasi.

Cabang yang termasuk paling sering ditekuni oleh para penulis buku adalah menjadikan menulis buku sebagai batu pijakan untuk karier mereka. Posisi ini biasanya digiatkan oleh para guru dan dosen yang memang harus menghasilkan publikasi berupa buku. Para guru dan dosen menulis buku sebagai bentuk pengakuan terhadap karier mereka di dunia buku. Mereka umumnya belum berpikir menghasilkan uang dari buku.

Di samping para guru atau dosen, ada juga anak-anak muda yang menjadikan menulis buku sebagai debut karier mereka, sebelum akhirnya menjadi selebritas. Contoh nyata dari hal ini adalah Raditya Dika yang sebelumnya dikenal sebagai narablog (bloger). Raditya kemudian berkembang kariernya menjadi host acara televisi, komika, dan bintang film. Ia juga kemudian dikenal sebagai youtuber.

Kekayaan dari efek samping buku itu menjadi berlipat ganda setelah menjadi selebritas. Menulis buku pun lambat laun kurang ditekuni lagi.

***

Cabang menulis buku sebagai pekerjaan karyawan tampaknya tidak banyak ditekuni. Apakah memang ada penerbit yang merekrut karyawan untuk menulis buku? Ada, tetapi tidak banyak. Biasanya yang merekrut ini adalah penerbit buku di jalur pendidikan yaitu penerbit buku pelajaran dan buku pengayaan (sering juga disebut buku nonteks).

Sewaktu ada acara Bimtek Penulisan Buku Nonteks di Surabaya September lalu, saya bertemu seseorang yang menekuni karier sebagai penulis buku pelajaran di beberapa penerbit. Namun, beliau bekerja sendiri (self-employee) bukan sebagai karyawan. 

Nama beliau adalah Marthen Kanginan, spesialis menulis buku fisika dan terkadang matematika untuk SMP dan SMA. Pak Marthen dapat menikmati penghasilan yang tinggi dari royalti buku-bukunya. Ia benar-benar menekuni penulisan buku sebagai profesi.

***

Cabang menulis buku sebagai usaha writerpreneur boleh disebut juga hanya ditekuni oleh orang-orang tertentu. Writerpreneur di sini ada yang dijalankan secara solo (seorang diri) dan ada yang dijalankan sebagai sebuah badan usaha. Rantingnya banyak. Ada yang menjadi ghost writer, self-publisher, co-writer, co-author, publishing service, dan book packager. Honor dari profesi writerpreneur seperti ini tidak dapat dikatakan kecil.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x