Mohon tunggu...
Bambang Trim
Bambang Trim Mohon Tunggu... Tukang Buku Keliling

Direktur Institut Penulis Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Prakata Vs Kata Pengantar

17 Juli 2019   19:09 Diperbarui: 18 Juli 2019   08:46 0 16 4 Mohon Tunggu...
Prakata Vs Kata Pengantar
Sumber: Bambang Trim

Hal ini mungkin soal "remeh" saja di dalam dunia penulisan, khususnya penulisan buku. Ada banyak kegiatan ketika saya berkesempatan memberi tahu bahwa berbeda antara prakata (preface) dan kata pengantar (foreword). Perbedaannya dari siapa yang menuliskannya.

Prakata ditulis oleh penulis sendiri sebagai halaman pembuka di dalam sebuah karya tulis. Adapun kata pengantar ditulis oleh orang lain yang bukan penulis, boleh pejabat, pakar, editor, atau bahkan orang yang mewakili penerbit. Istilah kata pengantar sendiri merujuk pada ada yang mengantarkannya. 

Siapa yang mengantarkan kita? Tentu saja orang lain.

Kekeliruan jamak terjadi ketika kata pengantar di dalam buku justru ditulis oleh si penulis buku itu sendiri. Demikian pula di dalam skripsi, tesis, dan disertasi. Buku-buku gaya penerbitan atau gaya selingkung (house style) seperti APA, MLA, dan CMS (Chicago Manual of Style) jelas membedakan pengertian antara prakata dan kata pengantar. 

Demikian pula yang terdapat pada buku The Australian Editing Handbook karya Elizabeth Flann dan Beryl Hill (1994: 72). Keduanya menuliskan begini.

A foreword is written by someone other than the author, often an authority in the field who commends the book to the reader or writers in support of its aims ....

Tentang prakata mereka menuliskan berikut ini.

The preface is written by the author, and may explain why or how the book came to be written or acknowledge the asistance of others in its preparation ....

Di dalam pedoman penulisan buku ilmiah seperti yang dikeluarkan oleh LIPI Press dan Direktorat Pengelolaan Kekayaan Intelektual Dikti (Pedoman Publikasi Ilmiah 2017) hal ini juga telah ditegaskan bahwa berbeda antara kata pengantar dan prakata. Namun, tidak banyak yang tahu perihal pedoman ini sehingga kekeliruan massal tetap terjadi di kalangan akademisi hingga kini.

Tentang Penulisan Prakata

Pada tanggal 16 Juli 2019, saya berkesempatan juga berbagi soal ini kepada para dosen di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, FBS, Universitas Negeri Semarang. Saya menjadi narasumber dalam Lokakarya Penulisan Buku Ajar. Ada banyak hal tentang buku akademis (academic book) dan buku sains (scientific/scholarly book) yang saya ungkapkan, termasuk tentang anatomi buku. Persoalan prakata versus kata pengantar saya bahas di dalam anatomi buku.

Bahkan, para dosen itu kemudian diberi praktik menulis prakata. Dalam penilaian buku ajar/buku teks yang dilakukan Kemenristek Dikti, memang ada penilaian prakata dengan poin maksimal 5. Di dalam Panduan Publikasi Ilmiah 2017, Dikti mensyaratkan prakata harus memuat hal berikut:

  1. siapa pembaca sasaran buku;
  2. gambaran ringkas isi buku (penyebutan kuantitas bab dan judul bab);
  3. keunggulan buku (dibandingkan dengan buku sejenis yang telah terbit); dan
  4. pesan untuk pembaca.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x