Bambang Trim
Bambang Trim Wiraswasta/Penulis

Tukang Buku Keliling | Ketum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia (Penpro) & Pendiri Institut Penulis Indonesia (institutpenulis.id)

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Kata Depan "di" Bukan untuk Waktu

4 Agustus 2018   07:15 Diperbarui: 4 Agustus 2018   14:58 1682 7 6
Kata Depan "di" Bukan untuk Waktu
Foto: Dok. Kemendikbud dalam Kompas.com

Kisah ini pernah saya dengar. Seorang editor yang tengah mengedit novel N.H. Dini, Pada Sebuah Kapal, mengganti judul novel itu menjadi Di Sebuah Kapal. Alasan editor itu terkait kaidah kebahasaan bahwa kata depan 'pada' tidak digunakan untuk tempat sehingga harus diganti dengan kata depan 'di'.

Konon, N.H. Dini menolak keras pengubahan itu karena menurutnya judul itu akan kehilangan "romantisme" ketika Pada Sebuah Kapal diganti menjadi Di Sebuah Kapal. Demikianlah kadang editor gamang berhadapan antara penerapan kaidah dan bahasa para penulis pesohor yang menerapkan gaya tertentu. 

Sering ada asumsi bahwa gaya bahasa seperti bahasa sastra dan bahasa jurnalistik dapat dimaklumi "menabrak" kaidah-kaidah kebahasaan yang berlaku. Alasannya bermacam-macam seperti alasan rasa bahasa atau alasan efesiensi berbahasa. Contohnya, soal penggunaan 'di' dan 'pada' memang paling banyak dilanggar.

Saya tergerak menuliskan kembali perkara sepele ini karena merasa terganggu melihat tema Seminar Leksikografi Indonesia (SLI) yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Tema seminar itu cukup mentereng, "Leksikografi di Era Digital".  Isu digital memang menarik untuk dibedah dalam segala hal.

Leksikografi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari teknik penyusunan kamus. Menguak hubungan antara leksikografi dan digitalisasi dalam penyusunan kamus mungkin terkait dengan perkembangan bahasa, kecepatan penyusunan, dan juga penerbitan kamus secara digital/elektronik seperti yang dilakukan pada KBBI. Tentu saja tema seminar yang disodorkan Badan Bahasa itu sangat menarik. 

Sayang, saya tidak dapat mengikuti acara yang digelar tanggal 1 s.d. 3 Agustus 2018 di Hotel Santika Premiere, Slipi, Jakarta itu. Ada lima pemakalah kunci yang mengisi acara tersebut dan 32 pemakalah terpilih. Salah satu bahasan dari seminar ini adalah bagaimana memasyarakatkan profesi leksikograf (penyusun kamus). 

Kembali soal yang mengganggu tadi mengapa Badan Bahasa menggunakan judul seminar yang justru melanggar kaidah? Pasalnya, kaidah tersebut justru ditekankan oleh Badan Bahasa sendiri. 

Kata depan 'di' digunakan untuk tempat sehingga pengguna bahasa harus menghindarkan bentuk seperti ini di malam hari, di bulan Agustus, di tanggal 10,  di era digital, dan di musim hujan

Keterangan yang terkait waktu, tidak dapat menggunakan kata depan 'di'. Hal ini sangat saya pegang teguh sebagai editor. Semua kata depan 'di' yang mengiringi waktu, saya ganti dengan kata 'pada'.

Di dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata depan 'di' dalam ragam cakapan memang dapat digunakan sebagai keterangan waktu, tetapi tidak untuk ragam resmi. Judul seminar seperti yang diselenggarakan Badan Bahasa jelas harus menggunakan ragam resmi atau baku.

Apakah ada perkembangan baru dalam soal pemakaian kata depan 'di' ini? Saya tidak tahu. Namun, pemakaian 'di' untuk mengiringi waktu memang sudah sangat menggejala, baik pada judul kegiatan, judul buku, maupun judul-judul lainnya. Jika mampir ke meja editing saya, pasti saya ubah.

Soal penggunaan 'di' pada judul seminar Badan Bahasa tersebut sempat dibahas juga di grup WA yang diisi para pakar dan praktisi bahasa Indonesia. Saya kira ini menjadi autokritik bagi Badan Bahasa sendiri agar berhati-hati dalam penggunaan bahasa di ranah publik sehingga tidak melanggar sesuatu yang justru telah mereka tetapkan sendiri.[]