Mohon tunggu...
Bambang Syairudin
Bambang Syairudin Mohon Tunggu... Dosen - Bams sedang berikhtiar untuk menayangkan satu per satu puisi dari dua rincian puisi tentang Siang Malam. Setelah ini selesai, berikutnya adalah tayangan Puisi | Rencana Merinci Berat Ringan. Semoga ada manfaatnya. 🙏🙏

========================================== Bambang Syairudin (Bams), Dosen ITS. ========================================== Bams sedang berikhtiar untuk menayangkan satu per satu puisi dari dua rincian puisi tentang Siang Malam. Setelah ini selesai, berikutnya adalah tayangan Puisi | Rencana Merinci Berat Ringan. Semoga ada manfaatnya. 🙏🙏 ==========================================

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Fibonacci Puisi: Ada Hawa Panas yang Menungganginya

16 Mei 2022   16:00 Diperbarui: 16 Mei 2022   16:05 59 17 6
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Gambar Ilustrasi merupakan dokumen karya pribadi (Karya Bambang Syairudin)

Fibonacci Puisi: Ada Hawa Panas Menungganginya

pabila
nanti di dalam
niat 'tuk berliterasi
ada hawa panas yang menunggangi hati

dan menyerongkan kebaikan maksud hati
maka cepatlah berhenti
renungkan lagi
kembali

supaya
tulisan kita
tak terlanjur menyalahi
yang akibatnya dapat melukai hati

benci yang menunggangi emosi di diri
pikiran tak terkendali
janganlah sampai
terjadi

(ada hawa panas menungganginya, 2022)

Rincian puisi keduabelas dari duabelas puisi tentang adanya hawa panas yang menunggangi emosi di diri. Semoga bermanfaat.

Catatan bagi yang akan berpuisi dengan menggunakan deret fibonacci. Berikut ini adalah contoh deret fibonacci yang digunakan dalam puisi ini:
Bait pertama, empat baris dengan jumlah suku kata (jumlah ketukan) sesuai deret fibonacci: 3, 5, 8, 13.
Bait kedua, empat baris dengan jumlah suku kata (jumlah ketukan) sesuai deret fibonacci: 13, 8, 5, 3.
Bait ketiga, empat baris dengan jumlah suku kata (jumlah ketukan) sesuai deret fibonacci: 3, 5, 8, 13.
Bait keempat, empat baris dengan jumlah suku kata (jumlah ketukan) sesuai deret fibonacci: 13, 8, 5, 3.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan